
Berbeda dengan Bryan dan Winda, setelah sampai di kamarnya. Luna dan Arion saling berbicara, dan mulai menyelesaikan kesalah pahaman yang ada diantara mereka.
"Mas, apa sebenarnya kamu..." belum habis kata-kata Luna, Arion langsung menjawab.
"Iya!" sahut Arion. Ia tak bisa lagi berbohong pada Luna. Ia yakin jika ia kembali berbohong, hanya kesalah pahaman yang akan terjadi di kemudian hari.
"Saat pertama kali aku bertemu denganmu di pernikahan bang Adrian, aku sudah mengingatmu!"
"Tapi kenapa mas..?!" sama seperti sebelumnya, Arion kembali menyela di tengah-tengah pertanyaan yang dilontarkan Luna.
"Hari itu kakek bilang ingin menjodohkanmu dengan Bryan!" ucap Arion sembari menerawang pada kejadian hari itu.
Setelah mereka tak lagi bertemu, Arion menenggelamkan diri dalam keinginannya menjadi seorang dokter. Ia berusaha melupakan Luna.
Selama bertahun-tahun, semua berjalan dengan baik. Ia yang fokus pada tujuannya menjadi seorang dokter, melupakan Luna dan bahkan lupa mencari pacar.
Namun usahanya selama bertahun-tahun sirna dalam beberapa detik. Saat ia bertemu dengan Luna di pernikahan Adrian yang gagal. Hanya dalam sekali pandang, perasaan yang ia pikir sudah hilang kembali menyeruak di dadanya.
Ia sangat senang. Ia berpikir tak akan melepas Luna lagi kali ini. Tapi kata-kata kakeknya, meruntuhkan segalanya.
Sulit bagi Arion untuk menyatukan ayahnya dan kakeknya, setelah perdebatan mereka bertahun-tahun yang lalu. Jika Arion bersikeras untuk bersama dengan Luna, ia yakin kakeknya akan murka.
Lagipula saat itu Luna juga tak mengingatnya!! Dan bahkan setelah perjodohan itu, Luna dan Bryan mengumumkan bahwa mereka telah berpacaran.
"Kau juga... kemudian berpacaran dengan Bryan, aku pikir.. aku tak memiliki kesempatan!" ucap Arion lagi. "Sejak kau menolongku, aku tidak tahu kenapa hatiku terus tertuju padamu!"
"Makanya aku selalu mengunjungi tempat-tempat dimana kamu sering berkunjung!" ujar Arion. "Tapi sepertinya kamu tidak mengingatku, jadi.. aku takut untuk menghampirimu!"
"Ah!!" Luna kaget mendengar pengakuan Arion. Ternyata Arion juga memiliki perasaan yang sama pada Luna.
"Aku pikir kita tak akan bertemu, tapi ternyata aku bertemu denganmu di pernikahan bang Adrian!" ujar Arion. "Kau tidak tahu betapa senangnya aku hari itu! Aku bertekad tak akan melepaskanmu kali ini. Tapi ternyata kakek menjodohkanmu dengan Bryan! Di hari kalian mengumumkan bahwa kalian memiliki hubungan satu sama lain, tahukah kau.. betapa hancurnya hatiku saat itu?!!"
"Lalu.. setelah menikah pun, kamu bilang kita hanya harus berpura-pura dan akan berpisah setelah setahun menikah. Aku pikir, kamu begitu mencintai Bryan. Dan memberi batasan padaku!" Arion mengakui semuanya dengan jujur."Aku takut mengakui perasaanku ini dan membuatmu terbebani!"
Luna tak henti-hentinya terkesiap mendengar pengakuan Arion.
__ADS_1
"Aku pikir mas punya pacar, dan mas terpaksa menikahiku karena ancaman dari kakek!" sahut Luna jujur. "Makanya aku mengatakannya!"
"Aku tidak punya pacar, Luna!" tegas Arion, sembari menatap manik istrinya dengan lembut, "Setelah aku putus dari pacarku di Paris saat itu dan bertemu kamu! Tak sekalipun aku berpacaran! Aku sibuk berusaha melupakanmu, yang aku pikir tak akan bisa lagi aku temui!"
Luna lagi-lagi dibuat terkejut oleh pengakuan Arion.
"Tapi... wanita itu...?!" Luna hendak bertanya pada Arion mengenai wanita yang ia lihat di rumah sakit.
Namun Luna kemudian tercenung. Ia menyadari sesuatu, wanita yang disebut sebagai pacar Arion oleh Bryan, adalah seorang model. Sedangkan wanita yang dilihat Luna adalah seorang dokter.
Sepertinya ia telah salah paham, mengira teman kerja Arion sebagai kekasihnya.
"Humn?! Wanita yang mana?!" Arion kemudian mendekat ke arah istrinya.
Arion yang tadi merasa tegang dan takut menempel pada istrinya. Kini sudah merasa lebih rileks. Ia tahu Luna tak marah padanya. Sehingga ia memberanikan diri untuk mendekat dan memeluk Luna.
Luna menggeleng, "Tidak, sepertinya aku salah paham!"
"Bagaimana denganmu?! Apa kamu tidak pernah mengingatku?!" tanya Arion. Ia juga ingin mendengar kejujuran dari istrinya itu.
"Aku juga .. jatuh cinta padamu saat itu, mas!" ucap Luna malu-malu.
Mendengar pengakuan Luna, Arion tersentak. Perasaan asing yang menyenangkan, menyeruak di dadanya. Ia terpaku menatap istrinya linglung.
"Tapi aku pikir mas tidak mengingatku. Karena beberapa kali kita bertemu, mas hanya diam dan tidak menyapaku. Aku malu untuk menemuimu!" ucap Luna mengakui semua perasaannya saat itu, "Aku sempat menunggu mas setelah itu! Tapi mas menghilang entah kemana! Saat akhirnya aku pindah.. aku.. aku melepas perasaan ku pada mas!"
"Coba katakan sekali lagi!" ujar Arion. "Katakan bahwa kau mencintaiku sekali lagi!"
Mendengar permintaan Arion, wajah Luna berubah merah. Ia malu jika harus mengatakannya lagi. Tapi melihat manik Arion yang berbinar-binar penuh harap, Luna tak bisa mengabaikannya.
"A-aku.. aku men-mencintaimu, mas!" ujar Luna gagap.
Senyum merekah di bibir Arion. Dengan lembut ia menge cup Luna.
"Aku mencintaimu Luna!! Amat sangat mencintaimu!" bisik Arion kemudian.
__ADS_1
Hati Luna berdesir!! Jantungnya berderu dengan kencang. Wajahnya pun terasa sangat panas sekarang.
Melihat istrinya yang malu-malu, Arion merasa gemas. Di rengkuhnya Luna, kemudian Arion menghadiahi kecu pan-kecu pan kecil di mata, hidung, pipi dan bibir Luna. Hingga Luna merasa kegelian.
"Mas!" ucap Luna malu.
"Kamu tahu, sebahagia apa aku saat ini?!" bisik Arion. "Aku benar-benar sangat bahagia! Sampai-sampai aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya!"
"Aku juga bahagia, mas!" ucap Luna. Ia juga merasa sangat bahagia.
Menatap lembut istrinya yang wajahnya semerah tomat, Arion melayangkan ciu man lainnya.
Awalnya itu hanya kecupan ringan. Namun saat Luna membalasnya, itu berubah menjadi luma tan yang panas.
Perlahan-lahan, Luna dan Arion yang tengah dimabuk asmara kian terbakar oleh has rat.
Bibir Arion pun beralih, turun merosot ke leher jenjang Luna yang terbuka. Arion menge cupnya pelan-pelan. Namun kecu pan yang pelan itu segera berubah menjadi sebuah jila tan yang ganas dan hisa pan yang kuat.
Luna yang juga sudah terbakar, tak menolaknya sama sekali. Tangannya sibuk meremas rambut hitam Arion dan bibirnya tengah mende sis kuat-kuat.
Melihat reaksi istrinya, Arion langsung mengangkat tubuh Luna. Melemparnya ke atas ranjang king size yang lembut.
"Boleh?!" tanyanya kemudian.
Meski Arion tidak menjelaskan secara rinci, apa yang dia inginkan. Namun Luna memahami apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
Malu-malu, Luna mengangguk.
****
Di tempat lain, Winda yang katanya hanya melihat-lihat toko pakaian yang ada di ujung jalan, menjadi keterusan!! Ia bahkan mampir ke beberapa toko lainnya. Membeli lebih dari dua puluh item dalam sekali belanja!!
Ini baru hari pertama. Masih ada beberapa hari lagi sebelum ia pulang kembali ke Indonesia.
Ia sudah berencana untuk membeli beberapa barang, guna memenuhi kopernya yang sengaja ia bawa yang paling besar.
__ADS_1
"Beli apa lagi ya?!" senandungnya senang.