
Hari ini Paman menteri mengajak Meilin jalan-jalan keluar kerajaan, dia akan keluar bersama paman menteri ke pasar yang ada di bawah bukit. dia akan menunjukkan tempat yang ada di sekitar tempat itu.
Beberapa jam kemudian Meilin dan Paman menteri sudah berada di pasar bawah bukit, wanita itu nampak begitu bahagia. dia terus-menerus tersenyum kepada Paman menteri ketika sudah berada di pasar.
"Paman, kenapa di pasar ini tidak terlalu banyak penjual?" tanya Meilin kepada Paman menteri.
"Paman juga kurang tahu, Meilin." jawab Paman menteri.
"Terima kasih ya, Paman. karena paman sudah mengajakku keluar dari kediaman." ucap Meilin.
"Tentu saja Paman akan mengajakmu keluar, Paman juga merasa kasihan karena kau terus-menerus dikekang di kediaman yang mulia." jawab Paman menteri.
"Apakah kau mau melihat sesuatu, Meilin?" tanya Paman menteri kepada Meilin.
"Memangnya Paman mau membelikan aku apa?" tanya Meilin kembali.
"Memangnya kau mau beli apa?" tanya Paman menteri.
"Bolehkah aku membeli giok itu, Paman?" Meilin yang menunjuk sebuah gelang giok di salah satu penjual perhiasan.
"Boleh." jawab Paman menteri yang kemudian mengajak Meilin ke toko perhiasan itu.
Di sana Paman menteri membelikan Meilin beberapa perhiasan, sebenarnya secara diam-diam Kaisar meminta Paman menteri untuk mengajak Meilin berjalan-jalan di sekitar pasar. pria itu tahu jika dia terus mengekang Meilin, dia takut tiba-tiba wanita itu akan kabur darinya.
Seharian penuh Meilin berjalan-jalan di pasar bersama paman menteri, ketika sore sudah menjelang akhirnya Meilin meminta untuk kembali ke rumahnya. dia lebih memilih Meilin membeli beberapa makanan yang begitu dia inginkan, dia juga membeli beberapa bahan makanan untuk dia masak di rumah.
ketika dia kembali ke kediaman sang Kaisar, nampak Meilin sedang menatap kediaman yang sekarang menjadi tempatnya, sebuah tempat yang begitu asing namun sekarang dia harus berada di sana bersama sang Kaisar.
** Keesokan hari **
Pagi itu Meilin sudah mempersiapkan makanan yang sudah ditaruh di meja makan, Meilin memanggil sang Kaisar. Entah mengapa gara-gara kabar Kalau akan datang tamu dari kerajaan Baekso, Hal itu membuat Meilin selalu merasakan kekhawatiran yang tidak pernah dia rasakan. Ada sesuatu yang membuatnya begitu takut, entah takut akan kehilangan atau takut jika sang Kaisar tiba-tiba tidak menginginkannya lagi.
"Makanlah, yang mulia." Meilin yang sudah mempersiapkan makanan.
Sang kaisar sedikit terkejut karena pagi ini Meilin bersikap begitu manis kepadanya, bahkan terlihat dia tidak marah-marah kepada sang Kaisar.
"Tumben sekali kau bersikap baik seperti ini?" tanya sang Kaisar.
"Apakah yang mulia ingin berkelahi denganku lagi?" tanya Meilin yang membuat sang Kaisar langsung diam.
Pagi itu di ruang makan ada Kaisar, Meilin dan Paman menteri. terlihat dia menatap sang Kaisar dengan Tatapan yang begitu dipenuhi banyak pertanyaan.
__ADS_1
Setelah ritual makan pagi itu, terlihat sang kaisar meminta Meilin membantu kaisar melihat laporan kerajaan.
Beberapa jam kemudian akhirnya seluruh tugas yang diberikan oleh sang Kaisar selesai juga. akhirnya Meilin diajak jalan-jalan oleh Paman menteri karena pria tua itu juga merasa kasihan kepada melin yang terus-menerus dikurung oleh sang Kaisar di paviliun kediamannya yang ada di bukit gunung.
Meilin bersama paman menteri Akhirnya sudah menyelesaikan semua laporan-laporan dan berkas-berkas yang diberikan oleh sang kaisar yang bertumpuk sangat banyak. bahkan Meilin terus berguman dan menggerutu panjang lebar, karena dia merasa dijebak oleh pria licik yang ada di depannya.
"Paman, Kenapa Paman harus mempunyai keponakan sepicik itu." sindir Meilin kepada Paman menteri sambil menatap wajah kaisar.
"Apa maksudmu aku picik?" ucap kaisar sambil menunjuk wajah Meilin.
"Tentu saja kau picik dan licik, lihat saja aku dan Paman menteri menyelesaikan semua laporan dan berkas-berkas setumpuk ini, bahkan wajahku saja tertutupi oleh tumpukan berkas ini. lalu yang mulia dengan seenaknya cuma main lipat tangan sambil melihat lukisan dan tersenyum sendiri, Kau kira aku ini orang bodoh yang tidak melihat!" seru Meilin sambil menunjuk wajah Kaisar dengan kuas yang ada di tangannya.
"Kau ini selalu menunjuk nunjuk wajahku, Kau kira wajahku ini buku apa, selalu kau tunjuk!" seru kaisar.
"Wajahmu itu bukan kertas, tapi wajahmu itu adalah kertas pengumuman. tapi sayang.. wajahmu itu menunjukkan arah yang sesat." jawab Meilin sambil mencibir tidak karuan.
"Ha-ha-ha...," Paman menteri yang tiba-tiba tertawa karena perkataan Meilin yang terasa sangat lucu.
"Kenapa Paman tertawa seperti itu, memangnya aku melakukan apa?" tanya meilin kepada Paman menteri.
"Paman kurang tahu, memangnya kau sedang melakukan apa." jawab Paman menteri yang membuat Meilin mengerutkan keningnya.
Meilin adalah gadis polos yang tidak mengenal dunia luar, memang dia sedikit mengerti pendidikan walaupun dia adalah gadis miskin
"Tentu saja Paman, dia adalah papan pengumuman, sukanya menunjuk orang seenak jidatnya, lalu menyuruh orang seenak jidatnya. apalagi kalau bukan papan pengumuman, kalau mau yang lebih modern Itu pakek orang." jawab Meilin yang sedikit aneh jawaban yang panjang lebar hingga membuat Paman menteri nampak tersenyum.
Sedangkan orang-orang yang ada di sana tidak berani bergerak sama sekali karena perkataan yang diucapkan oleh Meilin nampak seperti guyonan yang ada di opera.
"Sepertinya kau kebanyakan makan Opera komedi, Meilin." ucap paman menteri kepada Meilin.
"Paman kira aku ini pelawak apa, hingga Paman mengatakan hal itu." ucap Meilin sambil memicing sebelah bibirnya. Hal itu membuat Paman menteri semakin tertawa.
"Hahaha...,kau lucu Meilin." ucap paman menteri.
"Kau ini semakin lama semakin menyebalkan saja." ucap kaisar kepada Meilin.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, yang lebih menyebalkan bahkan lebih dari Raja menyebalkan adalah kau!" jawab Meilin yang kemudian berlalu pergi menuju dapur.
"Kau!!" seru kaisar.
"Nona, Meilin." panggil dayang Jui kepada Meilin.
__ADS_1
"Ada apa dayang?" tanya Meilin kepada dayang Jui.
"Apa yang sedang Nona Meilin lakukan?" tanya dayang Jui kepada Meilin.
"Aku cuma mau ambil minum, setelah itu aku mau kembali ke neraka jahanam itu." jawab Meilin yang kemudian mengambil air putih dan membawanya ke ruang kerja kaisar.
"Ini Paman." Meilin yang memberikan satu teko air kepada Paman menteri.
"Kau ini sangat sentimen denganku ya, kau mengambilkan Paman menteri air. sedangkan aku tidak kau ambilkan." ucap kaisar sambil menatap Meilin yang kemudian langsung mengambil paksa teko air yang sudah diminum Meilin.
"Dasar Yang mulia tidak punya sopan santun langsung mengambil punya orang." ucap Meilin yang kemudian menarik mengambil kembali teko dari tangan Kaisar. nampak Paman menteri tersenyum saat melihat pemandangan yang sangat aneh di depannya.
"Berikan padaku!" seru kaisar.
"Ambil sendiri, Yang mulia. kedua tanganmu masih berguna." jawab Meilin yang kemudian langsung mendudukkan pantatnya di kursi sebelah Paman menteri.
"Sudah selesai acara tarik-menarik tekonya?" tanya Paman menteri kepada Meilin dan kaisar.
"Paman diam saja, jangan ikut campur." jawab kaisar yang kemudian berlalu meninggalkan kedua orang yang berbeda usia itu.
"Dasar yang mulia tidak punya sopan santun!" seru Meilin yang kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi tempat dia duduk.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku
__ADS_1
- pembalasan dendam Dahlia
- Permaisuri kesayangan kaisar