PERMAISURI KESAYANGAN KAISAR

PERMAISURI KESAYANGAN KAISAR
Kedatangan sang Kaisar


__ADS_3

Seketika Lilan menceritakan mengenai kejadian yang ada di kerajaan tersebut Kaisar yuanli kepada Lilan permaisuri pergi bersama dengan beberapa menteri dan dayang Choi, tuan Fasui juga tuan Goblin." jawab Lilan.


"Apa yang akan terjadi di tempat itu?" tanya Kaisar Yuan.


Lilan menceritakan semua yang terjadi, bahkan dia juga menceritakan mengenai para penduduk yang sedang sakit.


"Paman, Apakah paman mau ikut denganku ke desa itu?" tanya sang Kaisar kepada Paman menteri.


"Tentu saja Yang mulia." jawab Paman menteri.


"Yang mulia, Anda baru saja sampai di tempat ini Apakah tidak lebih baik anda beristirahat dahulu?" tanya salah satu menteri.


"Tidak, aku akan langsung ke tempat istriku aku tidak peduli aku ingin melihat apa yang terjadi di sana." Jawab Kaisar Yuan li.


Seketika Kaisar Yuan li bersama paman menteri dan beberapa prajurit, pria itu segera pergi ke tempat yang dikatakan oleh Lilan. beberapa petinggi kerajaan diminta untuk bersiaga di kerajaan sedangkan Kaisar Yuan bersama paman menteri pergi menuju desa di perbatasan timur.


Langkah kaki kuda melaju begitu cepat Bahkan sang Kaisar tidak akan melewatkan Apapun Yang terjadi, menteri Tung terlihat sudah sampai dengan membawa beberapa perlengkapan seperti yang diminta oleh permaisuri, sudah 2 hari Meilin ada di tempat itu memeriksa para penduduk bahkan Meilin sendiri yang turun tangan untuk melihat Bagaimana kondisi di tempat itu.


"Yang mulia, Anda harus beristirahat." pinta dayang Choi kepada Meilin.


"Tidak dayang, aku baik-baik saja Lihatlah kondisi mereka sudah banyak yang lebih baik." jawab Meilin sambil tersenyum.


"Yang mulia, Apa tidak sebaiknya Anda beristirahat dahulu jika tidak Yang mulia akan sakit." ucap salah satu tabib.


"Tabib Jang sudah memberikan aku obat untuk menjaga tubuhku, kau tenang saja." Jawab Meilin.


Di tempat itu tidak ada seorangpun yang bersantai ria, mereka harus membantu para penduduk yang terkena wabah penyakit itu terlihat Meilin duduk di salah satu batu besar.


"Ada apa Yang mulia?" tanya dayang Choi.


"Tapi aku capek dayang." jawab Meilin.


"Tentu saja Yang mulia capek, sudah dua hari ini yang mulia belum beristirahat." jawab dayang Choi.


"Kok tahu dayang, membantu seseorang itu begitu menyenangkan, beban kita terasa begitu ringan apalagi saat melihat wajah mereka terasa kesusahan itu hilang seketika." ucap Meilin Sambil tersenyum. wanita itu memegang kedua tangan Meilin.


"Kau adalah wanita yang sangat luar biasa, aku sangat bersyukur karena mempunyai junjungan sepertimu. pasti Yang mulia Kaisar sangat mencintaimu." ucap dayang Choi.


Meilin tersenyum, wanita itu menganggukkan kepalanya. "Kau tahu dayang, aku benar-benar memikirkan suamiku. Entah mengapa rasa rinduku ini tidak bisa aku bendung." ucap Meilin.


"Tentu saja Yang mulia, Cinta memang seperti itu." jawab dayang Choi.

__ADS_1


"Apakah dayang Choi juga merasakan hal yang sama denganku?" tanya Meilin yang membuat dayang Choi langsung terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Meilin.


Sore sudah menjelang, Meilin terlihat memakan bubur yang diberi ginseng oleh tabib Jang.


"Anda harus menjaga kondisi tubuh anda Yang mulia, kami tidak ingin dihukum mati karena lalai menjaga Anda." canda tabib Jang.


"Jangan khawatir tabib, aku baik-baik saja aku ini adalah bunga liar yang tumbuh di hutan Aku tidak akan mudah menyerah karena hal seperti ini." jawab Meilin.


Tabib Jang tersenyum, rasa cinta itu masih ada kekaguman itu juga masih ada, perasaan cinta itu masih ada namun semua perasaan itu harus dia tekan sekeras mungkin agar dirinya tidak mendapatkan celaka karena perasaan yang tidak mungkin dia dapatkan.


"Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, permaisuri!!" seru seorang pria yang membuat debaran jantung Meilin seperti berpacu di arena balap kuda.


DEG..


DEG..


Seketika wanita itu memutar tubuhnya menatap seorang pria yang berpakaian perang dengan gagah.


"Yang mulia." ucap Meilin yang terlihat berdiri mematung saat melihat sang suami sudah berada di tempatnya. air mata Meilin seketika menetes, sudah hampir lima hari ini dia tidak melihat suaminya namun sekarang suaminya tiba-tiba sudah berada di depan matanya.


"Yang mulia." ucap Meilin.


Langkah kaki Meilin terasa berat, dia takut fatamorgana sore ini membuatnya berhalusinasi. Meilin terdiam dia takut bayangan sang suami tiba-tiba hilang.


Meilin masih tetap terdiam, bahkan dayang Choi yang ada di tempat itu nampak begitu terkejut saat melihat sang Kaisar sudah berada di tempat mereka. memang seharusnya hari ini Kaisar Yuan sudah berada di kerajaan Guang. namun wanita itu tidak akan pernah menyangka kalau Kaisar Yuan sudah berada di tempat yang sekarang mereka tempati.


"Isteriku!" seru Kaisar.


terlihat dayang Choi mendekati Meilin, wanita itu mencubit tangan Meilin yang menandakan kalau ini semuanya bukanlah halusinasi atau mimpi belaka.


"Dayang Choi, Ini bukan mimpi kan?" tanya Meilin.


"Tentu saja Yang mulia Ini bukan mimpi." jawab Meilin.


Saat mendengar jawaban dari dayang Choi, seketika Meilin berlari wanita itu menangis dengan air mata yang sudah berlinang, kedua tangannya sudah merenggang wanita itu langsung menghampiri sang suami dengan memeluknya begitu erat.


"Yang mulia." Panggil Meilin.


"Apakah kau merindukanku, isteriku?" tanya kaisar Yuan li yang membuat Meilin menganggukkan kepalanya dipelukan sang suami.


"Aku begitu merindukanmu isteriku." ucap Kaisar Yuan.

__ADS_1


Meilin meluk sang suami dengan begitu erat, air matanya terus mengalir dia benar-benar bersyukur kepada para dewa karena mengembalikan suaminya dalam kondisi yang baik-baik saja. para prajurit yang ada di tempat itu menatap junjungannya yang sudah kembali dari medan perang.


"Hormat kami Yang mulia!" seru parah menteri yang sudah berada di tempat itu. kaisar Yuan li menganggukkan kepalanya pria itu membelai rambut sang isteri, sedangkan Paman menteri nampak menatap dayang Choi yang berada di belakang tubuh Meilin.


"Paman, Apakah paman tidak merindukan wanita itu wanita tua seumuran Paman itu." bercanda kaisar yang membuat wajah dayang Choi seketika bersemu merah.


"Apakah pantas kau mengatakan hal itu yang mulia." ucap Paman menteri yang membuat Kaisar Yuan tersenyum.


"Datangilah dia paman, aku akan membawa istriku ke tempat lain." jawab Kaisar Yuan yang kemudian pergi meninggalkan Paman menteri dan dayang Choi.


Langkah kaki Paman menteri mendekati dayang Choi, pria itu menatap dayang Choi yang meneteskan air matanya.


"Aku kembali dengan selamat, Apakah kau tidak ingin melihatku?" tanya Paman menteri yang membuat dayang Choi menundukkan kepalanya tanpa bisa melihat wajah Paman menteri.


"Choi lan, Apa kau tidak ingin melihatku? Apakah kau tidak mengkhawatirkan ku?" tanya Paman menteri.


Terlihat dayang Choi belum mengeluarkan sepatah kata pun wanita itu nampak menata Paman menteri dengan tatapan mata yang begitu merindu.


** bersambung **


mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Black Rose


- Mommy


- Mantan terindah


- Suami keduaku cinta pertamaku


- Dewa perang dan Ratu sihir


- Permaisuri sang kaisar


- ijinkan aku bahagia bersamamu


- jangan sakiti aku


- pembalasan dendam Dahlia


- Permaisuri kesayangan kaisar

__ADS_1


- my little wife


__ADS_2