
Meilin yang notabene-nya dari kalangan rakyat jelata terlihat wanita itu tidak merasa jijik sama sekali, dia merawat para penduduk itu dengan tangannya sendiri, siang itu Meilin menatap orang-orang yang kondisinya begitu mengenaskan.
"Yang mulia, Apakah kau baik-baik saja?" tanya tabib Jang.
"Aku baik-baik saja, tapi bagaimana kondisi mereka?" tanya Meilin kepada tabib Jang.
"Kondisi mereka benar-benar sangat mengkhawatirkan Yang mulia, karena beberapa diantara mereka mengalami kelaparan yang cukup parah hingga membuat kondisi tubuh mereka seperti ini." jawab tabib jang.
"Ya sudah kalau begitu aku akan meminta para sarjana yang ada di kerajaan untuk meneliti tempat ini, Oh ya minta pada tabib yang lain untuk mencari informasi mengenai racun yang dikonsumsi mereka." ucap Meilin.
"Di sekitar sini ada tanaman beracun, yang saya lihat kemungkinan besar dikonsumsi oleh para penduduk di tempat ini." ucap tabib Jang.
"Benar Yang mulia, di sekitar sini begitu banyak jamur beracun kemungkinan besar awalnya mereka memakan jamur beracun itu dan membuat ternak-ternak mereka juga memakan beberapa tumbuhan yang ada di tempat ini." ucap Goblin.
"Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu kepada penduduk desa ini." ucap Meilin kepada tabib Jang dan Goblin.
"Apa tidak sebaiknya kita mengevakuasi tempat ini, Yang mulia. kita pindahkan para penduduk dari tempat ini setelah mereka sedikit sembuh, kita ratakan desa ini hingga beberapa tahun setelah wabah itu sudah tidak ada baru kita bangun desa ini kembali." ucap salah satu menteri.
"Jika kita menghancurkan desa ini lalu kita akan menaruh mereka di desa mana, saya dan Yang mulia Kaisar pernah membicarakan mengenai sebuah tempat yang akan dijadikan desa baru." jawab menteri Zul.
"Dengarkan aku menteri Zul, jika kita mengevakuasi para penduduk di tempat ini Kita harus menanyakan dulu kepada mereka. Apakah mereka mau atau tidak." ucap Meilin.
"Kita tidak punya waktu Yang mulia, di tempat ini ada sekitar 100-200 kepala keluarga jika desa ini tetap seperti ini maka kemungkinan besar mereka akan mengalami sakit yang berkepanjangan." jawab menteri Zul.
"Jika itu pemikiran yang kau miliki kemungkinan kata-kata menteri benar adanya, coba kita bicarakan dengan para penduduk tempat ini Apakah mereka mau segera dievakuasi atau mereka akan tetap di sini." ucap Meilin yang kemudian mengajak menteri Zul.
Seketika Tabib Jang dan Goblin mengumpulkan para penduduk desa. Meilin dan yang lain mengumpulkan para penduduk desa yang terkena wabah penyakit yang begitu aneh.
"Kenapa kami harus dievakuasi Yang mulia?" tanya para penduduk desa.
"Kalian harus segera dievakuasi demi kebaikan kalian, jika kalian setiap hari bercampur dengan para mayat bahkan binatang yang membusuk karena penyakit itu tidak akan baik. kita akan mengevakuasi kalian terlebih dahulu untuk waktu yang tidak tahu kapan selesainya." jawab menteri Zul.
"Lalu kami akan ke mana, kami tidak tahu tempat lain selain desa kami." Jawa para penduduk desa.
"Kami sudah mendapatkan desa yang akan kalian huni, tapi kalian harus bersabar dahulu karena kemungkinan besar kita akan membangun beberapa tempat untuk kalian." ucap menteri Zul.
"Lebih baik kalian memikirkan mengenai kondisi kalian dahulu, setelah Kalian sehat dan kalian sudah bisa melakukan pekerjaan kalian baru kalian kembali ke sini itu. lebih baik daripada kalian tetap merasakan penderitaan seperti ini." ucap Goblin yang membuat para penduduk desa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apakah Yang mulia tidak ingin membunuh kami, karena kami memiliki penyakit yang aneh?" tanya para penduduk desa.
"Para penduduk desa buat apa aku membunuh kalian, kata para tabib kalian tidak mengidap penyakit yang mematikan hanya saja wabah penyakit yang ada di tempat ini karena kalian keracunan tanaman beracun yang kalian konsumsi." jawab Meilin.
Seketika para penduduk desa langsung terdiam mereka saling menatap satu sama lain.
"Tumbuhan beracun?" tanya salah satu penduduk desa.
"Benar kalian telah mengkonsumsi tumbuh-tumbuhan beracun, kemungkinan besar sungai atau minuman yang kalian konsumsi juga sudah tercemar tercemar tumbuhan beracun itu." jawab tabib.
Seorang pria yang kemungkinan besar adalah ketua desa nampak dia terdiam dia mulai ingat tumbuhan-tumbuhan yang berwarna agak kehitaman.
"Apakah mungkin jika jamur dan salah satu tumbuhan yang tumbuh begitu subur di tempat kami itu beracun Yang mulia?" tanya pria tua kepada Meilin.
Terlihat Tabib menatap pria tua itu.
"Memangnya apa yang kalian konsumsi?" tanya melin kepada para penduduk desa kami mengkonsumsi jamur serta sayuran yang tiba-tiba tumbuh di tempat kami." jawab pria tua itu.
Seketika tabin Jang mendekati pria itu dan bertanya mengenai tumbuhan yang diceritakan oleh pria tua itu, pria tua langsung berdiri dan mengajak tabib Jang yang ke tempat tumbuhan itu tumbuh dan beberapa tabib yang lain begitu tersentak.
Ternyata benar yang dikatakan oleh para tabib, ternyata jamur yang berwarna coklat agak kehitaman itu adalah jamur beracun serta tumbuh-tumbuhan yang warnanya agak sama itu juga beracun.
"Maksud tabib, ini adalah tumbuhan beracun?" tanya Meilin.
"Benar Yang mulia, tanaman beracun ini benar-benar sangat mematikan." jawab tabib Jang.
"Kalau begitu kalian Cari tahu mengenai tumbuhan ini di kerajaan, cari obat penawarnya dan ingat bahwa tab para tabib muda untuk membantumu merawat mereka.' perintah Meilin.
Seketika tabib Jang pergi ke kerajaan, bahkan pria itu menggunakan kuda dengan begitu cepat.
"Menteri, Apakah menteri Tung sudah sampai di tempat ini?" tanya Meilin kepada menteri Zul.
"Menteri Tung belum sampai di tempat ini, Yang mulia. kemungkinan besar dia membawa barang-barang yang anda minta." jawab menteri Zul.
Waktu mulai berjalan, sudah dua hari lamanya Meilin berada di desa yang sudah terkena wabah penyakit itu. Sedangkan siang itu Kaisar Yuan sudah sampai di kerajaan Guang, sorak-sorai para prajurit dan penduduk kerajaan menyambut Kaisar mereka yang sudah menghancurkan kerajaan Sang.
"Hormat kami Yang mulia!" seru para menteri yang menyambut Kaisar Yuan li. tatapan matanya menatap para menteri yang ada di tempat itu, kedua bola mata Kaisar Yuan li mencari keberadaan istrinya dan beberapa pejabat kepercayaannya.
__ADS_1
"Di mana istriku?" tanya Kaisar Yuan li kepada para pejabat.
Terlihat para pejabat menutup mulut mereka, mereka bingung harus mengatakan apa kepada kaisar yang baru kembali itu.
"Di mana permaisuriku?!" tanya Kaisar Yuan li kembali.
"Maafkan hamba Yang mulia kami tidak bisa menghentikan yang permaisuri." ucap salah satu menteri.
"Apa maksudmu, ke mana istriku?" tanya Kaisar Yuan.
"Tenanglah Yang mulia, kemungkinan Yang mulia permaisuri ada di dalam." paman menteri yang mencoba untuk menenangkan Kaisar Yuan li.
"Permaisuri pergi ke sebuah desa terpencil yang ada di perbatasan timur, Yang mulia." jawab Salah satu pelayan Meilin yang tidak lain adalah Lilan.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Black Rose
- Mommy
- Mantan terindah
- Suami keduaku cinta pertamaku
- Dewa perang dan Ratu sihir
- Permaisuri sang kaisar
- ijinkan aku bahagia bersamamu
- jangan sakiti aku
- pembalasan dendam Dahlia
- Permaisuri kesayangan kaisar
__ADS_1
- my little wife