
"Bukan enggak boleh, cumankan ngapain?" tanya Elena lagi.
"Yah enggak apa apa, aku cuman mau ngikutin aja." jawab Sean dengan seribu gayanya. Elena yang melihat gaya aneh dari Sean menatapnya mendelik.
"Gayamu deh." ujar Elena ketus dan langsung duduk di kursi taman. Sean yang melihatnya mengikuti Elena dan ikut duduk disampingnya. Elena menatap Sean menggeleng dan kembali fokus menatap kedepan.
"Mikirin masa depan kita ya?" ujar Sean jail.
Elena mendelik mendengarnya.
"Kesambet apaan lo?" tanya Elena heran. Ada apa dengan sean? Dia yang biasanya dingin dan cool berubah menjadi seperti anak yang tengil.
"Kesambet cintamu." jawab Sean lagi dengan senyum tengilnya. Elena ingin muntah mendengarnya.
"Oh begini rupanya, pribadi asli yang jadi primadona kampus? tengil dan kekanakan? Biasanya juga sok cool, sok dingin, cuakss." ujar Elena dengan nada mengejeknya. Sean terdiam mendengarnya dan mendatarkan wajahnya.
"Haahhahah." Elena tak bisa menahan tawanya melihat perubahan Sean. Bisa bisanya dia langsung terdiam dan berubah ekspresi secepat itu. Sean yang melihat tawa lepas Elena menjadi tersenyum hangat.
"Ha gitu dong, senyum dan tertawa." ujar Sean.
"Emangnya aku kenapa biasanya?" tanya Elena setelah berhenti tertawa. Ada apa dengannya? Pertanyaan Sean seperti menyiratkan dia tidak pernah tersenyum dan tertawa.
"Yah beberapa minggu ini, kau suka diam trus wajahnya datar lagi, agak serem lihatnya." ujar Sean dengan setengah mempraktekan bagaimana Elena biasanya.
Plak...
"Aduh." ringis Sean ketika Elena tiba tiba memukul lengannya kuat.
__ADS_1
"Enak aja bilang serem serem!" ketus Elena tidak terima dikatakan serem.
"Iya emang kenyataannya. Padahal, dulu kau tidak seperti itu, kau suka tersenyum trus jahil juga." jelas Sean mengingat bagaimana Elena itu. Dia suka memperhatikan Elena dari jauh. Elena memang dulu sangat suka tersenyum, mudah tertawa, dan jahil juga. Sean sudah beberapa kali melihat Elena menjahili teman temannya. Dan dia suka melihat itu.
Elena yang mendengarnya terdiam dan kembali murung. Sean yang menyadari perubahan itu kembali bertanya.
"Ada masalah ya? Kalau ada cerita aja Elena, aku siap kok dengernya dan aku pasti bantu sebisaku. Kemarin aku udah bilang gini di taman kampus, sekarang aku bilang gini lagi di taman rumah sakit ini. Masa kau enggak mau cerita." ujar Sean berharap agar Elena mau bercerita kepadanya. Sean tau jika Elena pasti sedang dalam masalah, oleh karenanya dia tidak seceria dulu.
Elena diam dan menghela nafas berat. Menatap dalam Sean dan kembali menghela nafas.
"Kalau aku cerita, kau pasti akan membenciku dan menjauhiku." ujar Elena pelan.
"Kenapa? Aku enggak mungkin kayak gitu. Sampai kapanpun, aku enggak akan pernah benci kepadamu Elena." ujar Sean yakin.
Elena tersenyum masam mendengarnya.
"Makanya cerita aja dulu." ujar Sean.
"Hey kalian, dipanggil oleh dokter Mizan, ada pasien mendadak, pergilah!" tiba tiba seorang suster datang dengan wajah cemasnya menemui mereka. Elena dan Sean yang melihat itu langsung segera masuk kedalam rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Sean dan Elena buru buru membantu dokter Mizan untuk menangani pasien. Pasien yang mereka tangani mengalami kejang kejang secara tiba tiba. Dan ternyata Pasien itu adalah Genda, papa dari Zeyn sekaligus dosen Elena dan Sean. Mereka sangatlah terkejut. Baru beberapa minggu kemarin Elena bertemu dengan Genda, bahkan Genda salah satunya yang memberitahu dia bahwa dia mendapatkan hak istimewa itu.
"Astaga pak Genda." gumam Elena terkejut, sama halnya dengan Sean.
"Dia salah satu dosen kalian kan?" tanya Mizan ditengah suasana seperti itu. Elena dan sean yang mendengarnya mengangguk membenarkan.
"Yaudah kita enggak punya banyak waktu, bapak ini harus cepat cepat ditangani." ujar Mizan lalu mereka membawanya keruangan yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Hari semakin gelap dan Genda baru saja siap ditangani. Tadi yang mengantarnya adalah rekannya dan sudah pulang, sementara istrinya Genda Mila tadi sempat datang namun sudah tidak terlihat lagi, dan Sean belum datang sampai sekarang.
"Huh...." Elena menghela nafas lelah sambil mendudukkan dirinya di kursi diruangannya. Sama seperti Elena, Sean juga lelah dan ikut berbaring disebuah sofa, sementara Mizan sudah pergi entah kemana.
"Kenapa pak Genda tiba tiba sakit ya? Padahal bapak itu terlihat sehat sehat saja biasanya. Dan saat kita periksa tadi, lambung dan ususnya cukup parah terluka, seperti mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya." ujar Elena mengingat semua yang ia periksa dari tubuh Genda. Lambungnya dan ususnya cukup parah seperti mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya. Seperti keracunan mungkin?
Sean mengangguk membenarkan.
"Kau benar, aneh sekali." setuju Sean.
"Ahh malas sekali rasanya menginap lagi." gumam Elena lesuh. Iya, mereka memang menginap lagi hari ini di rumah sakit ini karena banyaknya pasien yang perlu terus diperiksa, apalagi dosen mereka yang terus harus sering sering diperiksa. Genda akan menginap beberapa hari di rumah sakit ini karena keadaannya yang masih cukup buruk dan belum stabil.
Kenapa Elena terlihat nyaman nyaman saja saat bersama Sean? Ntahlah. Intinya Elena merasa lebih baik saat bersama Sean. Setengah dari dirinya dulu bisa dia tampilkan lagi saat bersama Sean, contohnya banyak bicara wkwk.
"Yasudahlah mau bagaimana lagi. Ayo membersihkan diri." sahut Sean langsung bangkit berdiri dan diikuti oleh Elena.
Malam sudah semakin larut. Elena yang baru saja siap beres beres diruangannya, beranjak hendak pergi untuk memeriksa keadaan Genda. Sementara Sean mungkin masih diruangannya. Namun saat Elena baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menutup pintu, terdengar seseorang bertanya kepadanya dari belakang.
"Maaf, saya ingin bertanya, ruangan papa saya yang bernama Genda Mi'an Moleiv, dima...." ucapan pria itu tidak sampai selesai setelah melihat Elena yang berbalik menatapnya.
Elena yang melihat pria itu seketika menjadi dingin, sangat dingin dan datar. Tangannya terkepal kuat sampai sampai berdarah karena kukunya. Nafasnya memburu tidak teratur. Sedangkan pria itu juga menatap Elena dengan ekspresi terkejut.
"Ada disana." ujar Elena dingin sambil menunjuk sebuah ruangan namun tatapannya tak beralih dari mata pria itu. Kalian tau siapa pria itu? Ya, dia adalah Zeyn. Zeyn baru bisa menemui papanya larut malam begini karena pagi tadi, dia berangkat keluar kota, namun saat baru saja sampai, dia mendengar kabar bahwa papanya Genda masuk rumah sakit, maka Zeyn cepat cepat balik untuk pulang ke kotanya.
Elena yang tidak tahan segera menjauh pergi. Namun saat hendak pergi, dia membisikkan sesuatu kepada Zeyn.
"Pria bejat." bisik singkat Elena tanpa menatap Zeyn, lalu setelah itu dia langsung buru buru pergi dengan wajah dinginnya.
__ADS_1