
"Memang benar benar tidak bisa datang ya ma?" tanya Elena pelan. Dia tadi sudah cepat cepat pulang agar bisa berjumpa dengan abang dan kakaknya namun ternyata itu tidak terjadi. Elena seketika kehabisan tenaga.
Semuanya mengangguk dengan sedih menatap Elena. Elena yang melihatnya menjadi murung dan sangat kecewa. Namun mau bagaimana lagi kan?
"Yasudah kalau begitu. Katakan kepada mereka untuk jangan memaksa pulang jika cuaca benar benar buruk. Elena mau ke kamar dulu. Elena cape mau istirahat." ujar Elena dengan lemas tanpa tersenyum sedikitpun. Nita, Wilson dan Edward yang melihatnya hanya bisa melihat punggung Elena yang menjauh pergi.
"Kasihan Elena, dia pasti sangat kecewa." gumam Wilson yang masih bisa didengar.
Nita mengangguk ikut sedih lalu menatap Edward.
"Tolong beritahu abangmu Edward, dia pasti sudah menunggu kabar." ujar Nita dan Edward hanya mengangguk. Dia mulai mengambil hpnya dan mengetikkan sesuatu di chat nya dengan Virgo. Mereka tau Virgo pasti juga sangat merasa bersalah begitupun Wina karena tidak bisa hadir ke hari bahagia Elena, adik kesayangannya mereka. Mereka pasti menunggu kabar bagaimana reaksi Elena, apa dia marah?
Elena masuk ke kamarnya dengan lemasnya. Meletakkan tasnya ke atas meja dan mulai berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sehabisnya membersihkan diri dan memakai pakaian yang baru, Elena merebahkan dirinya di kasur. Moodnya benar benar rusak. Dia tidak ada niat untuk melakukan apapun lagi. Elena tiba tiba teringat jika seharian ini dia tidak ada membuka hpnya. Elena membuka tasnya dan mengambil handphone-nya dan membukanya. Dia memang jarang memainkan hp, palingan untuk hal hal yang penting saja.
"Baru saja Elena membuka hp dan menghidupkan datanya, notifikasi telpon dan pesan terus saja berdering. Elena bahkan heran. Dia membuka panggilan dan melihat tiga puluh panggilan tidak terjawab dari abangnya Virgo dan kakaknya Wina. Elena menghela nafas. Dia mulai membuka pesan dari mereka.
__ADS_1
"Tolong maafkan kami sayang. Kami benar benar ingin sekali datang ke acara bahagiamu. Kami bahkan sudah mempersiapkan semuanya dan tinggal berangkat untuk menemui mu. Namun keadaan cuaca benar benar buruk, kami harus menunda keberangkatan kami Elena sayang. Kami disini sangat merasa bersalah. Kami tau engkau pasti kecewa Elena, tolong maafkan abangmu dan kakakmu ini. Kami akan mengirimkan suatu hadiah yang sudah kami persiapkan. Tolong jangan terus marah, kami akan terus merasa bersalah. Berbahagialah karena hari bahagiamu esok hari, dan kami juga akan ikut bahagia. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami juga, adik tersayang. Tunggu sampai hadiahnya sampai ya. Kami menyayangimu."
Elena menghela nafas berat setelah membacanya. Matanya berkaca-kaca. Dia tau mereka juga pasti tidak menginginkan hal ini terjadi begitupun dirinya. Ini bukan kesalahan mereka. Ini sesuatu yang diluar dari kendali, dia tidak bisa menyalahkan mereka, pikirnya.
Elena mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Virgo dan Wina. Setelahnya dia kembali mematikan hp nya. Sebenarnya, pesan Elena sangat banyak. Mulai dari teman kampus, teman lama, dan dari media sosial dan banyak lagi. Bahkan sahabat sahabatnya saja mengirim pesan kepadanya namun Elena tidak membukanya. Dia merasa sangat lelah seharian sibuk mengurus semua berkas kesiapannya. Lagian dia juga sudah tau bahwa pesan sahabat sahabatnya adalah pesan yang mengatakan bahwa mereka pasti akan datang di acaranya esok, dia sudah bisa menebak. Pesan dari Sean? Elena tadi sempat melihat sekilas namun pesan darinya dua hari lalu sebagai pesan terakhir. Itu artinya dia tidak ada mengirimnya pesan atau menelpon hari ini. Apa karena dia yang menolak perasaan Sean sehingga membuatnya menjauh? pikir Elena. Namun dia merasa sangat lelah memikirkan itu dan memilih untuk merebahkan tubuhnya lebih nyaman setelah meletakkan handphonenya.
Elena menatap langit langit kamar. Dia tiba tiba teringat sesuatu yang bisa dikatakan cukup penting.
"Aku belum ada datang bulan ya?" gumamnya heran karena memang dirinya belum mengalami menstruasi selama dua bulan ini. Elena tidak mau ambil pusing. Dia tetap berpikiran positif. Mungkin karena memang pola hidupnya yang akhir akhir ini tidak teratur. Mulai dari pola makan, pola tidur, dan dia juga kebanyakan stress kan memikirkan banyak hal akhir akhir ini. Jadi wajar saja kalau menstruasinya tidak lancar kan? Elena yang berpikir seperti itu mulai kembali merasa lebih tenang. Dia menutup matanya namun tidak lama setelahnya dia sudah terlelap. Mungkin karena kelelahan membuatnya cepat terlelap tidur kan?
Hari sudah berganti. Hari penting dan bahagia bagi Elena dan bagi orang orang yang menyayanginya. Sebenarnya bukan cuman Elena dan keluarganya kan? Namun juga kepada rekan rekan Elena dan keluarga mereka yang mempunyai nasib yang sama seperti nasib Elena.
"Selamat ya Elena, saya bangga kepadamu." ujar Mizan yang datang bersama istrinya. Mereka memberikan selamat dan menjabat tangan Elena. Elena dengan senang hati menerima dan membalasnya.
"Terimakasih bapak ibu." balas Elena mengucapkan rasa terima kasih. Dia kagum melihat hubungan mesra pak Mizan selaku guru bimbingannya dan istrinya. Bagi Elena, Istri Mizan ini termasuk bisa dikatakan golongan orang tua yang masih terlihat muda dan cantik. Dia terlihat sangat cantik dengan hijab dan kebaya yang dipakainya. Padahal sebenarnya mereka ini sudah menginjak usia kepala lima loh...Elena kagum.
__ADS_1
"Sean dimana?" tanya Mizan melirik kearah sekeliling. Dia belum ada melihat Sean sedari tadi begitupun Elena. Elena juga jadi tersadar jika dia juga belum bertemu dengan Sean. Dimana ya dia?
Elena menggeleng pelan.
"Saya kurang tau Sean berada di mana pak." jawab Elena pelan.
"Yasudah saya cari dulu ya. Kamu selamat berbahagia." ujar Mizan tersenyum begitupun Istrinya. Lalu setelah dia mengatakan itu, mereka langsung pergi. Elena yang juga menjadi gelisah ikut mencari Sean. Semenjak dari semalam Sean yang mengungkapkan perasaannya, dia tidak ada lagi melihat Sean. Apa Sean menjauhi dirinya? Pikirnya.
Namun saat hendak ingin pergi mencari, sahabat Elena malah datang menghampirinya. Elena jadi tidak jadi pergi dan terus bersama sahabat-sahabatnya.
Keluarga Elena? Mereka sudah pasti sudah bertemu dengan Elena. Bahkan, acara foto foto dan acara utamanya juga sudah selesai. Sekarang acara bebas saja. Keluarganya sedang asyik berbincang dengan yang lain.
"Selamat Elena." teriak Anira dan Gina kompak. Mereka datang dengan kebaya serasi mereka. Elena bisa menebak jika mereka pasti janjian, begitupun dengan kemeja putra dan Viktor yang sama.
"Iya makasih ya semuanya." balas Elena tersenyum senang karena bahagia. Dia sangat bersyukur bisa mempunyai sahabat seperti ini, pikirnya. Dan sahabat Elena datang bukan dengan tangan kosong ya, mereka pasti datang membawakan hadiah sebagai buah tangan. Elena tidak melihat dari hadiah yang mereka bawa, namun jika mereka sudah mau hadir saja itu sudah menjadi suatu hadiah yang berharga untuknya.
__ADS_1