Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
NYONYA PESAWAT


__ADS_3

Setelah berpelukan kembali, Viktor pulang dengan diantar oleh sopir yang tadi. Elena yang melihat Viktor sudah berangkat cepat cepat berjalan ke arah yang dia tuju. Ternyata Elena berjalan kearah toko zona hp yang ada didekat situ.


Buat apa?


Elena memasuki toko itu dan langsung menemui salah satu pelayan yang ada di toko itu.


"Ada yang bisa kami bantu nona?" tanya pelayan itu ramah. Elena mengangguk.


"Iya, saya ingin membeli ponsel baru beserta dengan kartu barunya." ujar Elena cepat.


Pelayan itu mengangguk tersenyum dan langsung memberikan beberapa ponsel yang terbaru.


"Ini ada beberapa ponsel keluaran terbaru, nona ingin pilih yang mana?" tanya pelayan itu sopan.


Elena tanpa berpikir panjang langsung memilih asal saja. Dia memilih ponsel berwarna gelap dengan gambar tipis yang membuat ponsel itu terlihat mewah.


"Baik, harganya 10 juta nona." ujar pelayan itu melirik ekspresi Elena. Elena yang mendengarnya langsung mengeluarkan kartunya. Pelayan yang melihatnya tersenyum. Dia pikir Elena tidak sanggup, bahkan dia berpikir Elena akan menawar, ternyata tidak.


Dari mana uang Elena? Hey, dia punya banyak tabungan. Orang tuanya rutin memberikannya uang dan dia juga punya banyak kerja sampingan yang menghasilkan uang.


"Saya juga menginginkan kartu baru." tegas Elena mengingatkan. Pelayan itu teringat akan kata kata Elena tadi bahwa dia juga menginginkan kartu baru. Dia langsung mengambil kartu baru dan memberikannya langsung kepada Elena.


"Langsung dimasukkan nona?" tanya pelayan itu. Elena terdiam sejenak lalu langsung mengangguk. Pelayan itu segera memasukkan nomor baru itu kedalam ponsel baru juga lalu setelah selesai, dia langsung memberikannya kepada Elena.

__ADS_1


Setelah selesai membeli ponsel baru dan kartu baru, Elena berjalan kembali ke tempatnya yang tadi. Keberangkatannya tinggal sebentar lagi.


Apakah dia memang akan ke London? Maka jawabannya adalah ya, Elena memang akan ke London.


Elena berniat mengirim pesan satu per satu kepada orang tersayangnya sebelum dia pergi namun Elena berpikir panjang. Jika mereka membaca pesan terakhirnya maka mereka akan menemuinya langsung dan mencegahnya, apalagi Edward masih dalam perjalanan. Tentu dia belum terlalu jauh dari bandara ini kan?


Elena menepis pikiran itu dan berniat dia kan mengirimkan pesan terakhir kepada mereka saat dia sudah sampai di tempat barunya.


Waktu keberangkatan Elena akhirnya tiba. Sebelum memasuki pesawat, Elena melirik ke sekitar. Tanpa sadar, dia kembali menangis.


Elena mengusap air matanya lalu langsung masuk kedalam pesawat.


Akhirnya Elena pergi. Elena melambaikan tangannya pelan saat dia sudah berada di udara atau bisa dikatakan saat pesawatnya sudah naik.


"Tidak apa apa nyonya." jawab Elena tersenyum paksa.


"Kalau kamu lihat, saya masih muda atau sudah tua?" tanya wanita itu terkekeh.


Elena melirik wanita itu dengan mengerutkan keningnya. Kenapa tiba tiba bertanya seperti itu? Pikirnya. Tapi akhirnya dia pasti menjawab.


"Nyonya sudah tua tapi masih cantik kok." Jawab Elena jujur. Memang wanita yang berada disampingnya ini sudah tua namun masih sangat cantik dimatanya.


"Makasih nak. Saya memang sudah tua. Dan menurut kamu, orang tua itu seperti apa?" tanya wanita itu lagi tersenyum menatap Elena.

__ADS_1


Elena berpikir sebentar.


"Menurut saya, orang yang sudah tua itu lebih bijaksana karena mereka sudah punya banyak pengalaman dan..." Ucapannya terpotong karena wanita tua itu lebih dulu memotongnya.


"Benar sekali. Saya sudah tua, dan saya juga punya banyak pengalaman. Saya sudah berpengalaman menghadapi orang orang seperti kamu. Saya seorang psikologi. Dan saya tau kamu sebenarnya sedang sedih dan terluka kan? Kamu hanya mencoba menutupi lukamu." ujar wanita itu tersenyum menatap Elena. Dia mengatakannya dengan lembut.


Elena yang tadi menunduk mendongak menatap wanita disampingnya ini.


Dia tidak bisa berkata apa apa karena memang kenyataannya seperti itu. Dia sedang sedih dan terluka. Elena hanya tersenyum saja.


"Kita tidak akan bertemu lagi. Kita hanya bertemu di pesawat ini dan mungkin tidak akan bertemu lagi. Apa kau tidak mau menceritakan perasaanmu kepadaku?" tanya wanita itu menatap Elena dalam. Elena terdiam ragu.


"Anggap saja ini bisa membuat perasaanmu menjadi lebih lega karena bercerita. Lagian kita tidak kenal kan? Aku tidak akan memberi tahu kepada siapapun." lanjut wanita itu karena melihat Elena yang terdiam ragu.


Elena terdiam lagi. Benar sekali. Wanita yang disampingnya ini tidak mengenal dirinya. Tentu saja dia bisa menceritakan semuanya, wanita ini tidak akan menceritakannya kepada siapapun. Elena juga tau jika dia bercerita, perasaannya bisa menjadi lebih lega dan tenang. Elena memutuskan untuk bercerita semuanya saja. Lagipula, kemungkinan besar dia dan wanita itu tidak akan bertemu lagi kan?


Elena menghela nafas panjang sebelum bercerita. Setelah lebih tenang, dia menatap wanita itu dengan mata sayu nya dan mulai bercerita.


"Saya melambai karena saya akan pergi meninggalkan semua orang yang saya sayangi, tetapi saya meninggalkan mereka dengan kebohongan yang menyedihkan." ujarnya lemah serasa ingin menangis. Wanita itu lebih mendekat dan mengusap punggung Elena lembut. Elena menarik nafas dan membuangnya perlahan dan mulai melanjutkan ceritanya


"Awalnya hidup saya sangat bahagia. Keluarga yang harmonis dan punya banyak teman baik. Namun entah mengapa saya harus mengalami kejadian yang entah saya tidak tau. Saya disitu masih kuliah dan sebentar lagi akan wisuda pelantikan sebagai dokter, cita cita yang sangat saya impikan. Karena satu malam, sesuatu yang paling berharga dalam hidup saya telah direnggut oleh pria bajingan yang saya tidak kenal. Dia adalah atasan dari kakak pertama saya. Nyonya tau apa itu? Kesucian saya. Saya sudah tidak perawan lagi. Saya merasa sangat kotor dan setiap hari saya dihantui perasaan bersalah. Saya seperti tidak punya alasan lagi untuk hidup. Namun entah kenapa saya masih bisa melanjutkan hidup saya ini. Saya dan orang tua saya sudah berusaha keras menjaga diri saya namun hiks hiks. Nyonya tau kenapa saya pergi? Karena saya hamil hiks. Saya tidak mau memberitahu siapapun dan saya memilih pergi saja. Kalau saya bisa, saya juga mau menggugurkan anak ini namun saya tau calon anak yang di kandungan saya ini tidak bersalah. Mereka hanya ada karena sebuah kesalahan besar. Saya tidak tau apakah keputusan saya ini benar atau tidak nyonya hiks hiks. Tidak ada yang bisa membantu saya." jelas Elena menangis pelan. Dia menangis dengan dipeluk oleh wanita itu. Memang ada beberapa orang yang melihat Elena namun tidak mendengar percakapan mereka.


Wanita itu ikut sedih mendengar cerita Elena. Dia juga seorang wanita dan dia bisa membayangkan bagaimana jika dia yang diposisi Elena. Bahkan, kalau dia di posisi Elena, dia mungkin bisa saja punya rencana untuk bunuh diri. Jujur, dia tidak sanggup. Dia kagum melihat Elena yang bisa kuat menghadapi ini. Wanita itu benar benar ikut sedih namun juga merasa kagum.

__ADS_1


__ADS_2