
"Yaudah, om kasih kamu cuti tiga minggu saja, jangan dengerin Zeyn. Dia karena belum merasakan saja." ujar Genda lagi membuat Zeyn melirik papanya malas.
Virgo dan Wina tersenyum lebar tetapi sejenak senyuman Virgo memudar, dan menatap Genda tidak enak.
"Udah gapapa kok om, seminggu aja udah cukup cutinya. Itu om, karena lagi banyak kerjaan penting." ujar Virgo tidak enak. Semua orang menatapnya aneh, terutama Wina yang menatap Virgo kaget. Kenapa ditolak dikasih cuti lama?
"Loh kenapa ditolak Virgo? Tadi kamu yang ngeluh. Lagian Virgo, sebanyak banyaknya kerjaan, ingat kamu baru menikah dan sekarang kamu sudah punya istri yang jauh lebih penting." jelas Genda tegas. Virgo menatap Genda dan Wina tersenyum tidak enak. Wina juga sedikit kecewa dengan penolakan Virgo. Apa Virgo tidak mau berlama lama denganku? Pikirnya.
Virgo menatap Wina dalam dan mengisyaratkan bahwa dia akan menjelaskannya. Wina hanya mengangguk pelan saja.
"Iya om, Virgo ngerti. Tapi bener deh om, seminggu aja udah cukup kok. Kebetulan Wina juga ada yang mau diurus secepatnya om, hehe." ujar Virgo cengengesan. Wina hanya tersenyum tipis saja.
"Yasudah terserah kalian saja. Tapi kalau kalian berubah pikiran, yang om katakan tadi masih berlaku ya." ujar Genda menepuk pundak Virgo dan Virgo mengangguk tersenyum. Wina juga ikut tersenyum.
Genda benar benar sayang kepada Virgo. Virgo sudah lama bekerja untuknya, untuk Zeyn, dan untuk usaha keluarga mereka. Virgo orang yang setia bagi Genda dan dia berharga bagi keluarga mereka.
"Yaudah kami kesana dulu ya." ujar Genda menunjuk kearah keramaian yang berkumpul seusia dia. Genda ingin menyapa semua rekan kerjanya dulu. Dia cukup rindu semenjak dia sibuk menjadi dosen.
Sembari berjalan menjauh, Mila yang sedari tadi disamping Genda melirik Virgo sekilas dengan senyum miringnya. Mila bisa menebak apa alasan Virgo menolak. Virgo juga menatap Mila yang meliriknya sekilas, dan itu semua tidak luput dari pandangan Wina.
Sementara tak jauh dari situ, Elena terlihat duduk tenang disebuah kursi mewah. Di pesta pernikahan kakaknya, dia juga terlihat sangat cantik. Dress panjang berwarna gold yang dia pakai dengan riasan indahnya membuat dia sangat cantik. Auranya yang tegas diikuti wajahnya membuat dia terlihat benar benar mahal. Bahkan ada beberapa banyak pria yang berkenalan dengannya tadi, dan mereka semua merupakan pengusaha. Tetapi Elena sama sekali tidak tertarik. Dia sebenarnya sangat bahagia karena ini adalah pernikahan orang yang dia sayang, tetapi disaat saat hari bahagia seperti ini, pikiran buruk dan negatif malah terus ada di pikirannya. Elena bingung harus berekspresi seperti apa. Elena memikirkan nasib hidupnya kedepannya. Apakah ada orang yang mau menerima dirinya yang sudah tidak suci lagi? Apakah dia bisa menikah nanti seperti kakaknya? Apakah dia akan diterima apa adanya? Elena benar benar ingin menangis memikirkan nasibnya. Dia tidak tau apakah suatu saat nanti dia bisa menikah dengan orang yang dicintainya dengan orang itu mau menerima diri Elena apa adanya? Elena rasanya berpasrah saja. Tidak mau berharap lebih yang pada ujungnya menambah rasa sakit dan kecewanya.
"Tidak tidak, aku harus terlihat bahagia. Ini adalah hari bahagia buat kakakku, maka aku juga seharusnya ikut bahagia." gumamnya tersenyum paksa sambil mengusap matanya yang serasa ingin menangis.
"Kakak cantik!" seru seorang anak kecil. Elena yang mendengar suara itu menoleh dan melihat seorang anak perempuan kecil tersenyum kepadanya. Elena merasa tidak asing dengan wajah anak itu. Elena berdiri karena anak perempuan itu menghampirinya.
"Kakak cantik." panggil anak itu lagi memegang tangan Elena. Dia terlihat manis dengan gaun yang dia pakai.
__ADS_1
Elena menunduk dan melihat dengan jelas wajah anak itu. Sejenak mengingat, lalu dia tersenyum.
"Kamu Tania kan?" tanya Elena tersenyum.
Anak itu mengangguk semangat.
"Kamu kok ada disini?" tanya lembut Elena mengusap kepala Tania. Dia tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Tania." ujar pria yang datang menghampiri mereka. Elena juga tidak asing dengan wajah pria itu dan pria itu juga tidak asing dengan wajah Elena.
"Em yang kemarin kan?" tanya pria itu dan Elena tersenyum tipis mengangguk.
"Tania tadi mau kesana kak, tapi enggak sengaja lihat kakak cantik." ujar tania manis menunjuk kearah lain. Elena dan pria itu hanya mengangguk tersenyum.
"Kenapa bisa disini?" tanya pria itu menatap Elena. Jujur, dia kagum dengan Elena yang sangat cantik dan auranya yang sangat dia sukai.
"Yang menikah kakak saya." jawab Elena sopan.
"Kalau kamu sendiri?" tanya Elena penasaran. Kenapa bisa mereka bertemu lagi? Apa mereka tamu undangan?
"Wanita yang menikah teman saya." jawab pria itu dan Elena hanya mengangguk lagi.
"Tania!" panggil seorang wanita yang lebih tua dari mereka bersama pria paruh baya disampingnya. Mereka kelihatannya sepasang suami istri.
"Mama papa" sahut Tania menghampiri wanita dan pria itu.
"Mama kenalin ini kakak cantik. Dia yang kemarin Tania ceritain." ujar Tania semangat sembari menarik tangan Elena mendekat.
__ADS_1
"Loh iya ya." ujar wanita itu tersenyum menatap Elena. Elena juga tersenyum sopan.
"Anak saya suka sekali sama kamu. Dia selalu bilang kalau dia mau ketemu lagi sama kamu. Tapi kalian berjumpa lagi disini, saya tidak menyangka." ujar wanita itu kepada Elena. Elena tidak tau harus mengatakan apa. Dia hanya tersenyum manis saja.
"Perkenalkan nama tante Bita, ini suami tante namanya Aditya." ujar Nita mengulurkan tangannya diikuti suaminya Aditya.
"Nama saya Elena om tante." balas Elena sopan.
"Kamu disini diundang juga ya?" tanya aditya.
"Yang menikah kakak saya om." jawab Elena.
Aditya dan Bita membulatkan mulut mereka sembari mengangguk.
"Oh begitu. Berarti kamu kenal Wina kan?" tanya aditya lagi.
"Kenal dong om." sahut Elena. Tidak mungkin dia tidak kenal dengan kakak iparnya sendiri.
"Pertanyaan kamu ini ada ada saja. Ya tentu kenal lah, kan kakak iparnya." ujar Bita kesal memukul pelan lengan suaminya. Pertanyaannya ada ada saja.
"Yakan cuman nanya ma." ujar Aditya memudarkan senyumnya. Istrinya ini memang sangat galak.
"Wina itu, anak dari sahabat tante dan om." jelas Bita lagi tersenyum kepada Elena. Elena hanya tersenyum mengangguk kaku saja.
"Hey Brayen, sini kamu." panggil Bita yang sadar akan kehadiran adiknya. Ya, pria yang tadi adalah Brayen.
"Kalian udah saling kenal kan?" tanya Bita menatap Brayen dan Elena. Mereka mengangguk kaku saja.
__ADS_1
"Kemarin kan Tania udah bilang mereka makan bersama, ya pasti sudah kenalan dong ma." ujar kesal Aditya kembali membalas dengan memukul lengan Bita. Bita melotot menatap horor Aditya. Aditya hanya tersenyum mengelus kembali lengan yang dia pukul.
Tania menggeleng menatap tingkah orangtuanya. Brayen juga menggeleng heran menatap kakak perempuannya dan suaminya ini. Sementara Elena malah tersenyum menatap mereka. Terlihat bahagia. Apa dia bisa seperti itu nantinya?