
"Iya tapi kenapa Elena? Bukankah kamu mengatakan keluarga kalian bahagia? Lalu buat apa kamu harus melakukan semua itu?" tanya Yuki terheran.
"Maaf, aku tidak bisa menceritakannya kak." jawab Elena pelan sembari menunduk. Yuki menghela nafas mendengarnya. Dia tidak mau memaksa Elena untuk bercerita.
"Yasudah tidak apa apa, ayo pulang, hari sudah akan gelap." ujar Yuki dengan senyumannya memecah kekakuan.
****************
"Bagaimana Zeyn?" tanya Virgo yang duduk berdua bersama Zeyn menghadap kaca besar yang memperlihatkan jalanan yang ramai.
"Bawahanku belum mendapatkan apapun." jawab Zeyn tidak enak.
Virgo menghela nafas mendengarnya. Untungnya dia sudah mempunyai istri yang mengurusnya. Jika tidak, mungkin penampilan Virgo pasti akan berantakan karena masalahnya yang membuatnya melupakan apapun juga.
"Maafkan aku, aku sudah berusaha keras mencari adikmu Virgo." ujar lagi Zeyn menatap Virgo yang lesuh.
Virgo membalasnya dengan mengangguk pelan saja.
"Kau tau Zeyn, Elena sangat sangat berharga bagiku. Dia adikku yang paling manis, aku sangat menyayanginya. Saat aku kehilangannya, rasanya setengah dari diriku ada yang hilang entah kemana. Elena membawanya Zeyn. Entah apa yang membuatnya tega melakukan ini semua. Aku tidak percaya dia dengan sengaja melakukan ini semua. Dia orang yang baik dan penurut. Dia sangat menyayangi kami. Aku yakin, pasti ada sesuatu hal yang membuatnya melakukan ini semua. Atau, apakah ini ada campur tangan orang lain? Aku tidak tau Zeyn. Aku hanya ingin menemukannya, itu saja." jelas Virgo lagi meluapkan semua isi perasaannya.
Zeyn diam mendengarnya. Zeyn merasa jika ini ada sangkut pautnya dengan kejadian yang terjadi antara dia dan Elena. Zeyn juga terus memikirkan ini, bahkan dia sering dimimpikan rasa bersalah. Terkadang, ada saat saat dimana Zeyn ingin jujur namun mulutnya seolah tak sanggup untuk berbicara.
"Kau tenang saja, aku akan terus berusaha mencari adikmu." ujar Zeyn menepuk pelan pundak Virgo.
"Terimakasih dan maaf telah merepotkanmu." sahut Virgo. Bagaimanapun, dia merasa malu dan tidak enak karena meminta bantuan kepada bossnya sendiri dalam jangka waktu yang panjang. Dia sebenarnya merasa tidak enak namun mau bagaimana lagi? Demi adiknya kan?
"Apa yang kau katakan? Kita sudah menjadi sahabat. Aku akan terus membantumu sebisaku Virgo." tegas Zeyn. Virgo hanya tersenyum mendengarnya. Dia sangat bersyukur memiliki Zeyn.
__ADS_1
Ceklek..
"Hallo ze..." ucapan seseorang yang datang gantung karena melihat Zeyn yang bersama Virgo. Dia adalah Vania. Vania yang melihat Zeyn tidak sendiri hanya tersenyum menatap Zeyn dan Virgo bergantian.
Virgo dan Zeyn menatap Vania yang datang. Zeyn yang melihatnya menghela nafas lagi. Dia heran mengapa Vania terus saja mengunjunginya ke kantor. Apa dia masih berharap akan bersama?
"Hallo!" seru Vania disana tersenyum manis menatap mereka. Zeyn dan Virgo memilih diam saja.
"Ada apa Vania?" tanya Zeyn mulai bertanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." jawab Vania tersenyum lebar.
Virgo yang sadar akan situasi memilih pergi saja. Dia tidak mungkin dan malas juga mendengar perbincangan mereka.
"Aku pergi saja ya Zeyn. Kalian lanjutlah berbicara." ujar Virgo bangkit berdiri. Zeyn yang melihatnya juga ikut berdiri.
"Adikmu belum ditemukan?" tanya Vania tiba tiba. Dia berpura pura tidak tau ya! Dia sebenarnya tau jika Elena belum ditemukan dan tentu saja itu membuatnya senang dan bebas.
Virgo menggeleng menatap Vania. Vania yang melihatnya berpura pura ikut bersedih.
"Semoga adikmu cepat ditemukan ya." ujar Vania dengan wajah sedihnya. Virgo hanya membalas dengan senyuman tipis saja.
"Thank you Zeyn. Aku pergi ya!" ujar lagi Virgo dan segera pergi menjauh.
"Apa yang ingin kau katakan Vania?" tanya Zeyn setelah Virgo pergi dan tinggal mereka berdua.
"Ehemm... duduk dulu ya." jawab Vania sembari mendekat duduk disamping Zeyn. Zeyn melihatnya ikut juga duduk.
__ADS_1
"Jadi gini Zeyn. Aku ingin mengajakmu kerja sama." ujar Vania semangat.
Virgo menaikkan alisnya heran.
"Kerja sama? Maksudmu?" tanya Zeyn belum mengerti.
"Aku tau kau mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang fotografi. Dan aku ingin mengajak perusahaanmu bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja. Keuntungannya sangat besar Zeyn. Hanya saja, dalam kerja sama ini, kau dan aku dipakai untuk berpose dan itu di luar negeri. Kau mau kan Zeyn?" jelas Vania semangat.
Memang, perusahaan ditempat Vania bekerja ingin mengajak salah satu perusahaan Zeyn yang bergerak di bidang fotografi untuk bekerja sama. Dan dalam kerja sama itu, pameran utamanya dimainkan oleh Zeyn dan dan Vania sendiri. Tentu saja ide ini adalah ide dari Vania yang dia usulkan kepada bossnya. Bossnya sebenarnya ragu kalau Zeyn mau terima kerja sama ini, apalagi dengan dia sendiri yang ikut berperan. Namun, Vania menyakinkannya dengan semangat. Vania akan membujuk Zeyn mengingat mereka yang cukup dekat, pikirnya.
Zeyn cukup kaget mendengar ucapan Vania. Bisa bisanya Vania mengajaknya sesuatu hal yang seperti ini disaat dia sedang sibuk sibuknya membantu Virgo. Kalau tadinya hanya perusahaannya saja, Zeyn masih menganggap itu hal yang wajar, namun dalam kerja ini, dia dipakai juga?
"Tolong mengertilah Vania, keadaannya sedang seperti ini. Aku tau niatmu baik untuk mengajak perusahaanku bekerja sama. Tapi ternyata di dalam kerja sama ini aku juga ikut berperan? Kau tau Vania kalau aku sedang sibuk membantu Virgo mencari adiknya. Aku tidak mungkin bisa ikut dalam kerja sama itu. Namun kalau masalah perusahaannya, kau bisa berbicara dengan tangan kananku di perusahaan itu." jelas Zeyn tegas.
Vania yang mendengar penjelasan Zeyn memudarkan senyumnya. Dia sudah semangat dan berharap besar Zeyn mau menerima kerja sama ini. Kalau Zeyn menerimanya, mereka akan semakin dekat kan?
"Tapi Zeyn.." ujar Vania tidak terima.
"Tolong mengertilah Vania." potong Zeyn.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan." tanya Zeyn tegas dan Vania menggeleng pelan dengan ekspresinya yang masih belum terima.
"Yasudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya! Datang saja ke perusahaanku jika kau memang masih mau bekerja sama." ujar Zeyn sebelum pergi. Saat sudah selesai mengatakan itu, Zeyn memilih langsung pergi saja meninggalkan Vania yang masih terdiam.
"Saat kau sudah pergi pun, kau masih saja menjadi hama pengganggu!" gumam Vania mengingat Elena. Dia pikir, saat Elena sudah pergi, dia dan Zeyn akan semakin dekat. Namun ternyata? Vania tidak percaya ini. Zeyn malah sibuk mencarinya!
Vania membuka tasnya dan mengambil handphone nya. Dia mencari nomor Mila dan menceritakan semuanya. Entahlah, kita lihat saja apa yang akan terjadi!
__ADS_1