Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
KETAHUAN


__ADS_3

"Yah... kamu ternyata sudah makan siang. Yaudah gak apa apa, kakak makan sama yang lain aja ya." ujar Yuki sedikit kecewa. Dia sebenarnya ingin makan siang bersama Elena agar bisa bercerita cerita. Namun apa boleh buat? Elena sudah makan siang kan?


"Kak Yuki, aku ingin meminta izin." ujar Elena ragu.


Yuki mengerutkan keningnya heran mendengarnya. Tidak biasanya Elena seperti ini, pikirnya.


"Meminta izin buat apa Elena?" tanya Yuki.


Elena berdehem pelan sebelum menjawab.


"Aku ingin pergi ke luar sebentar kak." ujar Elena pelan. Yuki mendengarnya merasa curiga melihat tingkah Elena. Ini bukan hal biasa baginya. Yuki juga ingin bertanya Elena kemana namun dia memilih mengurungkannya. Dia akan mencari tau sendiri Elena akan kemana. Dia merasa Elena menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ohh begitu, yasudah pergilah Elena." ujar Yuki disana tersenyum.


Elena membalas senyuman Yuki.


"Tetapi jika ada pasien?" tanya Elena teringat. Bagaimana jika disaat dia pergi, ada pasien yang ingin memeriksa? Dia tentu memikirkan itu.


"Aku akan mengatakan untuk menunggumu pulang saja." jawab Yuki.


"Baiklah kak, aku pergi ya." ujar Elena sebelum menjauh pergi.


Yuki mengangguk tersenyum menatap punggung Elena yang mulai menjauh pergi. Saat Elena sudah benar benar pergi, Yuki bergegas mengambil kunci mobilnya di ruangannya. Namun sebelum pergi, Yuki sudah memberikan perintah kepada bawahannya yang lain untuk mengurus pasien yang datang memeriksa kepada dirinya dan atau kepada Elena. Ditunda dulu mungkin.

__ADS_1


Ingin kemana dia? Tentu saja dia akan mengikuti Elena. Kemana ya dia pergi?


Elena keluar dari gedung rumah sakit dengan mengulum senyumnya. Dia berjalan ke arah motor metiknya yang terparkir. Elena mengendarai motornya dengan tenang ke arah rumah sakit tempat dia biasa memeriksa.


Tak sadar, ternyata Yuki mengikutinya dari arah belakang menggunakan mobilnya. Yuki dengan pelan namun pasti mengikuti Elena. Dia ingin tau, ingin kemana Elena pergi. Baginya, ini tidak biasa! Apalagi mengingat tingkah Elena yang semakin lama semakin aneh.


Saat sudah sampai, Elena dengan tenang turun dari motornya dan langsung memasuki rumah sakit yang hampir sama besarnya dengan rumah sakit tempat dia bekerja.


Elena memasuki rumah sakit itu dan langsung mengambil nomor antrian. Saat sudah menerima nomor antriannya, Elena duduk didekat ruangan pemeriksaan kandungan sampai nomornya dipanggil.


Yuki menganga kaget saat Elena mengambil nomor antrian untuk pemeriksaan ibu hamil. Sedari awal, dia juga sudah kaget melihat Elena yang berhenti di sebuah rumah sakit dan memasukinya. Tentu dia kenal rumah sakit ini. Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang dimiliki oleh sepasang suami istri, dan dia kenal siapa suami istri itu. Sebelum dia membangun rumah sakitnya sendiri, rumah sakit ini sudah berdiri sekitar dua tahun sebelum dia akhirnya membangun rumah sakit miliknya sendiri. Jadi sebenarnya beda tipis saja. Namun kalau bisa dikenal secara umum, rumah sakit Yuki jauh lebih terkenal.


Buat apa? Pikirnya. Elena tidak punya keluarga atau kerabat di sini kan? Tidak ada orang buat dikunjungi kan? Lalu buat dia kerumah sakit? Saat Yuki mengikuti Elena masuk, dia malah semakin kaget karena Elena berjalan ke arah ruangan pemeriksaan ibu hamil dan malah mengambil nomor antrian. Buat apa???


"No 363 atas nama Elena Valentine Ermolaev!" seru robot sebagai staf medisnya.


Elena yang mendengar nomor antrian dan dan namanya sudah dipanggil langsung segera berdiri dan langsung memasuki ruangan yang ditunjuk.


Yuki yang melihat Elena masuk hanya bisa terdiam diri. Dia tidak mungkin ikut masuk juga. Baiklah, Yuki akan menunggu Elena keluar dan pergi, lalu setelahnya dia akan bertanya langsung kepada dokter yang bersangkutan. Itu bukan hal yang terlalu sulit. Dia yakin, dokter itu pasti mengenal dirinya.


"Ehh Elena." ujar dokter itu ramah. Dokter wanita cantik dengan tubuh yang lebih berisi dari Elena.


"Iya dokter, Elena mau periksa untuk bulan ini seperti kata dokter." sahut Elena sembari baring di brankar yang cukup besar.

__ADS_1


"Iya iya, biar saya periksa dulu ya." ujar dokter itu sembari langsung memeriksa perut Elena dengan alat yang bersangkutan.


"Anak kembar kamu terlihat baik baik saja dan tidak ada masalah apapun. Kalau yang kamu rasakan selama kehamilanmu yang sudah jalan tiga bulan ini bagaimana Elena?" jelas dokter itu sembari bertanya.


Elena yang mendengar penjelasan dokter tersenyum lebar. Dia sangat senang mendengar anaknya yang baik baik saja di dalam kandungannya. Tentu saja itu bukan tanpa upaya. Elena benar benar menjaga dirinya dan kandungannya. Dia menghindari hal hal yang tidak baik bagi dirinya dan kandungannya.


"Aku tidak terlalu merasakan hal hal yang menganggu atau menyakitkan dokter. Hanya saja, aku merasa lebih mudah lelah." jawab Elena jujur. Dia memang tidak merasakan hal hal yang terlalu menyakitkan selama kehamilannya ini. Dia hanya merasakan lelah yang lebih mudah terjadi.


"Wah bagus dong. Jarang loh seperti ini. Biasanya bagi ibu yang mengandung anak kembar, pasti keluhannya cukup banyak. Saya kagum dengan kamu dan calon anak kamu. Dan kalau masalah kamu yang gampang lelah, itu hal yang biasa mengingat kamu mengandung anak kembar Elena. Tapi syukurlah, kamu tidak merasakan hal hal yang terlalu menyakitkan selama kehamilanmu sampai sekarang." jelas dokter itu tersenyum kagum.


Elena yang mendengarnya tersenyum lebar juga. Dia senang mendengar penjelasan dokter itu.


"Suamimu kenapa tidak pernah mendampingi mu Elena?" tanya dokter itu sembari meletakkan alat alatnya.


Elena yang tadinya tersenyum lebar seketika memudarkan senyumnya ketika mendengar kata kata dokter wanita itu. Dokter ini memang selalu bertanya seperti ini setiap kali Elena memeriksa kandungannya. Namun Elena beralasan bahwa suaminya sedang tugas di kota lain dan belum bisa pulang. Elena tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia takut sekaligus malu.


Dokter itu menatap Elena yang tidak memberikan jawaban. Dia malah tersenyum kecut. Dokter itu hanya terdiam dan tidak mau memperpanjang karena tau bahwa Elena pasti mempunyai masalah yang berhubungan dengan ini. Dia tidak mau ikut campur!


"Kamu rutin minum vitaminnya ya, dan terus jaga kehamilan kamu ini." ujar dokter itu. Elena yang sudah bersiap keluar dari ruangan itu hanya mengangguk tersenyum.


"Aku pergi ya dokter dan terimakasih atas pemeriksaannya." ujar Elena dan setelah mengatakan itu, dia langsung pergi.


Yuki yang melihat Elena keluar hanya bisa menatapinya dalam. Yuki mengamati baik baik perut Elena yang cukup besar. Elena memang membuka jasnya sehingga menampilkan tubuhnya. Yuki menjadi lebih kaget.

__ADS_1


Kalian tentu tau kan apa yang ada di pikiran Yuki? Ya, dia curiga jika Elena sedang hamil!


__ADS_2