
"Seperti yang mama lihat. Ada apa datang ke kamar Zeyn?" jawab singkat Zeyn dan kembali bertanya karena tidak mendapatkan jawaban. Zeyn sudah paham seperti apa Mila ini.
Mila meneguk saliva kering. Dia menatap Zeyn ragu.
"Ehem...mama ingin mengatakan sesuatu." ujarnya ragu.
"Mengatakan apa ma?" tanya Zeyn menaiki alisnya.
"Kamu menolak untuk bekerja sama dengan tempat kerja Vania?" tanyanya lagi.
Zeyn yang mendengarnya tersenyum miring membuang muka. Di tau Vania pasti mengadu. Apakah dia pikir dengan mengadu kepada Mila membuatnya akan menerima kerjasama itu? Tentu saja tidak.
"Vania ngadu sama mama?" tanya Zeyn dingin.
"E.. enggak mengadu, dia cuman mengatakan itu saja." sambung Mila cepat.
"Apa bedanya? Mama katakan saja kepadanya bahwa aku memang tidak akan ikut campur dalam kerja sama itu, terkecuali kalau dia memang mau bekerja sama dengan perusahaanku saja, tetapi aku tidak akan ikut berperan dalam kerja sama itu." jelas Zeyn tegas.
"Tapi kenapa Zeyn? Untungnya sangat besar." ujar Mila tidak habis pikir. Kenapa Zeyn terus menolak?
"Zeyn sibuk ma. Zeyn sibuk bantu Virgo mencari adiknya yang belum ditemukan. Lagian kalaupun kerja sama itu tidak jadi, Zeyn tidak akan miskin!" ujarnya lagi tegas. Benar, menolak kerja sama itu tidak akan membuatnya miskin.
"Buat apa kamu ikut dalam pencarian adik Virgo, kalian tidak punya hubungan kan?" tanya lagi Mila tidak terima.
Zeyn yang terlanjur lelah membuatnya sangat cepat marah. Zeyn berdiri kasar.
"Aku dan Virgo sudah menjadi sahabat. Kesusahan Virgo juga menjadi kesusahanku juga. Mama tidak bisa mengatakan seperti itu. Dan jangan coba paksa aku buat terima kerja sama itu karena aku tidak akan mau!" ujarnya dingin lalu keluar kamar dengan cepat.
Mila menatap kepergian Zeyn yang pergi dengan kemarahan.
"Aku membuatnya marah?" tanyanya tidak menyangka.
"Ada apa sayang? Kenapa Zeyn pergi dengan wajah marah seperti itu?" tanya Genda yang datang tiba tiba. Dia mendengar suara yang cukup kuat dari kamar Zeyn membuatnya menghampirinya namun saat ingin masuk, Genda malah bertemu dengan Zeyn yang kebetulan keluar dari kamarnya dengan wajah marah.
__ADS_1
Mila menggeleng menatap Genda yang datang.
"Aku hanya mengatakan kepadanya untuk untuk lebih baik menerima kerja sama dengan tempat kerja Vania, namun dia langsung marah sayang." ujar Mila dengan tingkah polosnya.
"Dia tidak mungkin langsung marah begitu saja, aku sangat mengenal zeyn sayang. Memangnya seperti apa kerja sama itu?" ujar Genda disana. Dia tentu sangat mengenal anaknya Zeyn, dia tidak mungkin langsung marah begitu saja, pasti ada sesuatu yang tidak cocok yang dia rasakan sehingga membuatnya marah.
"Kerja samanya adalah sebuah pose pameran dan itu akan dibintangi oleh Zeyn dan Vania, mereka akan melakukan itu di luar negeri." jelas Mila ragu. Dia takut reaksi Genda sama dengan reaksi Zeyn.
"Astaga!" kaget Genda.
"Kenapa sayang?" tanya Mila yang heran melihat reaksi Genda.
"Pantas saja Zeyn marah. Dia tidak mungkin mau menerima kerja sama itu, dan kita tidak bisa mengubah fakta itu. Zeyn sedang sibuk membantu Virgo mencari adiknya, dia tidak mungkin mau menerima itu sayang. Oleh karenanya dia marah, mungkin kau terus saja memaksanya sayang." ujar Genda paham.
"Untungnya sangat besar sayang. Aku rasa kita akan rugi kalau kita menolak kerjasama itu. Lagian juga, bukan urusan Zeyn untuk terus mencari adik Virgo kan. Kita tidak punya hubungan apapun dengan mereka sayang." ujar Mila jengkel.
Genda menghela nafas menatap Mila. Dia tidak mengerti bagaimana berharganya Virgo bagi keluarga mereka. Dia punya banyak jasa untuk mereka.
Mila diam menatap dan mendengar penjelasan Genda yang tegas.
"Sama saja!" gumam pelan Mila tidak terdengar.
"Yasudah ayo keluar!" ujar Genda dan mereka pun keluar dari kamar Zeyn.
Esoknya disisi lain, seorang pria tengah duduk dengan pandangan kosongnya. Dia menatap kedepan di tengah keramaian orang. Itu di taman yang ramai! Namun pria itu malah duduk terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Kakak!" seru seorang anak perempuan yang menghampiri pria itu. Pria itu tersentak kaget dan langsung menatap anak perempuan itu.
"Ada apa Tania?" tanya pria itu.
"Aku udah siap main." ujar anak perempuan itu dengan lesuhnya dan langsung duduk disamping pria itu.
Kalian tau itu siapa? Itu Brayen dan Tania!
__ADS_1
"Loh kok cepat Tania? Biasanya juga kamu harus dipaksa pulang dulu baru pulang. Kita baru aja sampai loh." ujar Brayen terheran. Biasanya saat dia membawa Tania ke taman ini, Tania akan terus bermain dan sangat susah untuk diajak pulang bahkan sampai hari gelap.
"Tania gak semangat kak. Tania kepikiran kakak cantik terus. Ini kan tempat pertama kali kita ketemu sama kakak cantik. Tania rindu kakak cantik Abang." jawabnya dengan murung.
Tentu saja, kabar kehilangan Elena sudah pasti terdengar ke semua keluarga termasuk keluar Bita. Dan Tania juga Brayen pasti sudah tau akan hal itu.
Brayen diam tidak bisa berkata kata. Sedari tadi dia melamun memikirkan Elena juga. Setiap kali mereka ke taman ini, mereka pasti mengingat Elena.
"Kakak cantik apa kabar ya bang? Apa dia baik baik saja?" tanya Tania dengan polosnya menatap Brayen.
"Abang!" seru Tania karena Brayen tidak menjawab apapun pertanyaannya.
"Abang gak tau Tania. Tapi Tania harus percaya kalau kakak cantik pasti baik baik aja." ujar Brayen sembari tersenyum menatap Tania.
"Kenapa begitu kak?" tanya Tania.
"Ya karena kakak cantik kan kuat, jadi dia pasti bisa menjaga diri. Lagian ada Allah yang lindungi kakak cantik. Iyakan?" ujar Brayen lagi semangat. Dia tidak mau membuat Tania terus menerus sedih memikirkan Elena. Mereka tidak lama dekat dengan Elena namun rasanya Elena sudah punya tempat di hati dan di keluarga mereka.
"Kakak benar!" sahut Tania tersenyum ceria. Brayen yang melihatnya tersenyum sembari mengusap lembut kepala Tania. Dia menatap sekilas empat orang yang berjalan hendak ingin melewati mereka namun Brayen dengan cepat menghentikannya karena wajah mereka tidak asing dimata Brayen.
"Tunggu!" seru Brayen.
Empat orang itu menatap seseorang yang memanggil mereka. Mereka menatap Brayen yang berada tidak jauh di depan mereka. Mereka menyipitkan mata karena merasa wajah Brayen juga tidak asing.
Brayen berdiri dan langsung menghampiri mereka yang berada tidak jauh didekatnya diikuti oleh Tania yang mengikuti langkahnya.
"Kamu!" ujar salah satu dari keempat orang itu yang melihat dengan jelas rupa Brayen.
"Iya, aku yang berada di pesta pernikahan itu." ujar Brayen mengingatkan.
"Ah ya, ternyata kau itu." ujarnya lagi.
"Ada apa ya?" tanya lagi yang lain.
__ADS_1