
Menunggu sejenak, Elena menatap dua wanita yang keluar. Elena bisa melihat jika mereka cukup mirip. Satu wanita yang kelihatan lebih tua dan satu wanita yang jauh lebih muda. Gaya mereka cukup sama, sama sama sedikit menor.
Tunggu!
Elena tidak asing dengan wajah mereka berdua. Dia seperti pernah melihatnya. Tapi siapa dan dimana yah??
Dua wanita itu berjalan mendekati Elena. Elena menatap mereka dengan kerutan di keningnya.
Siapa mereka? Pikirnya.
"Halo." seru wanita yang lebih tua. Elena tersenyum tipis.
"Siapa yah?" tanyanya pelan.
Dua wanita itu tersenyum sambil saling melirik.
"Bukankah kamu sudah pernah melihat kami?" tanya wanita yang lebih muda sambil menampilkan senyum manisnya.
Elena mengangguk pelan.
"Sepertinya begitu." balasnya.
"Kamu akan tau lebih jelas siapa kami. Namun sebelumnya, ada yang ingin kami bicarakan. Ini sangat penting." ujar wanita yang lebih tua.
"Trus?" tanya Elena. Dia belum mengerti maksud wanita ini.
"Ayo ikut kami. Kita akan berbicara di dekat cafe sekitar sini." jelas wanita itu. Elena yang mendengarnya menjadi terdiam. Mana mau dia asal percaya dan asal ikut saja!
Satu wanita yang peka akan reaksi Elena tersenyum dengan manisnya.
__ADS_1
"Tenang saja, kami bukan orang jahat. Kau juga bisa mengendarai motormu, tidak perlu ikut dengan kami menggunakan mobil." ujar satu wanita itu dengan lembutnya. Namun Elena masih tetap terdiam. Masih saja merasa ragu.
"Ini sangat penting loh. Berhubungan dengan dirimu dan keluargamu." tekan wanita yang lebih tua dengan senyum miringnya.
Elena terdiam mencernanya. Dia jadi penasaran apa yang ingin dikatakan oleh dua wanita yang didepannya. Kata kata menyangkut dirinya dan keluarganya membuat Elena menyetujuinya. Manatau ada masalah dengan keluarganya kan? Lagian juga dia menggunakan motornya.
"Kau mau kan?" tanya wanita yang lebih muda sembari menatap dalam Elena. Elena mengangguk pelan dan dua wanita itu tersenyum puas.
"Ayo." seru satu wanita itu dan kedua wanita itu langsung memasuki mobilnya dan langsung berjalan pergi. Elena juga langsung menarik gas kereta dan mengikuti mobil kedua wanita itu.
Hari sudah benar benar gelap. Sampailah mereka di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Elena koas. Kedua wanita itu turun diikuti Elena dan mereka langsung masuk kedalam cafe.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Elena duduk dihadapan kedua wanita itu.
"Jelaskan yang ingin kalian sampaikan." ujar Elena dingin menatap mereka.
"Sebelumnya mari kita perkenalan." ujar wanita yang lebih muda.
Bukankah memang begitu? Tentu mereka sudah mengenal Elena makanya langsung menemuinya kan? Tidak mungkin mereka asal menemui orang tanpa tau seperti apa atau bagaimana orang yang ingin mereka temui. Itulah sebabnya mengapa mereka mempunyai tujuan untuk menemuinya karena mereka sudah pasti mengenal dirinya.
"Kamu benar. Kamu juga sebenarnya sudah pernah melihat kami. Kamu masih ingat dimana itu?" tanya wanita yang lebih tua. Elena menggeleng pelan karena memang dia tidak ingat dimana mereka bertemu.
"Di rumah sakit." sambung wanita yang lebih muda. Elena yang mendengarnya mencoba mengingat.
Ah yaa...., Dia sekarang ingat siapa kedua wanita ini. Wanita yang lebih tua adalah wanita yang menemani Genda di rumah sakit kemarin dan wanita ini yang lebih muda ini..., dia bukankah wanita yang pernah bertanya kepadanya dimana ruangan Genda sewaktu dirumah sakit kan??
"Aku ingat." ucap pelan Elena. Kedua wanita itu tersenyum mendengarnya.
Kebanyakan tersenyum gak sih? Tapi senyumannya mengandung banyak arti banget.
__ADS_1
"Kalian keluarga pak Genda?" tanya Elena menatap mereka bergantian.
"Saya istrinya." ujar wanita yang lebih tua. Iya dia itu Mila. Elena terdiam dengan setuju. Buktinya kemarin dia yang menemani Genda di rumah sakit. Elena mulai melirik wanita yang satu lagi. Kalau dia siapa?
Wanita itu terdiam dengan berdehem pelan.
"Saya itu, calon istri Zeyn." ujar wanita itu dengan cukup tegas. Dia adalah Vania. Elena yang mendengarnya mengangguk pelan.
Berarti benar dong dugaannya kalau wanita ini pasti kekasih Zeyn si pria bajingan itu? Lalu untuk apa mereka menemuinya?
"Lalu untuk apa kalian menemui saya? Apa yang ingin kalian sampaikan?" tanyanya lagi datar.
"Saya akan berkata jujur disini. Saya sudah tau apa rahasia mu dengan Zeyn anak saya." ujar Mila dengan dingin. Elena yang mendengarnya menjadi tegang. Rahasia yang mana? pikirnya.
"Maksudmu?" tanya Elena benar benar tidak mengerti. Namun satu rahasia terbesarnya terngiang-ngiang di kepalanya. Apa itu maksud dari wanita ini? Pikirnya.
"Saya tau anak saya sudah memperkosa kamu." ujar Mila lagi dengan dinginnya. Dia sangat sangat marah sampai sekarang.
Elena tegang mendengarnya. Hal yang dia takutkan telah terjadi. Selama ini dia takut sekali jika rahasia besar itu diketahui oleh orang lain, namun sekarang semuanya sudah terjadi.
"Saya tau kamu pasti sangat tersakiti. Ini sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh semua wanita termasuk kamu. Saya mengerti perasaan kamu. Saya atas nama anak saya ingin meminta maaf." ujar Mila dengan menatap Elena tenang. Ekspresinya seperti tidak tulus.
Elena menatap Mila dengan penuh kebencian.
"Anak bajinganmu itu juga sudah beberapa kali menemui saya untuk meminta maaf. Dan sekarang anda ingin mewakilinya nyonya? Oh saya tau, karena saya tidak memaafkannya lalu dia mengadu kepada mamanya untuk meminta maaf kembali? Ingat nyonya, sampai kapan pun saya tidak akan pernah memaafkan orang yang telah merebut kesucian saya. Dimata saya dia adalah pria bajingan." tekan Elena dengan tegas. Hey, dia tidak menangis namun matanya sangat kentara menggambarkan kebencian dan rasa sakit.
Mila yang mendengarnya menghela nafas pelan dan menatap Elena dengan tenang. Vania juga yang disampingnya hanya diam.
"Saya paham bagaimana perasaan kamu. Saya juga seorang wanita." ujarnya.
__ADS_1
"Anda juga seorang wanita kan nyonya? Berarti anda paham bagaimana perasaan saya. Apa yang harus saya lakukan nyonya? Saya sudah tidak suci lagi karena anak anda. Selama ini orang tua saya dengan sangat pengasih menjaga saya sebagai anaknya namun karena anak bajingan anda menghancurkan semuanya, merebut sesuatu yang paling berharga dari diri saya. Anda juga orang tua kan? Anda bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tua saya jika tau anaknya sudah seperti ini hm? Sudah tidak suci lagi? Mereka pasti sangat hancur. Lalu apa yang harus saya lakukan nyonya? Apa ha?" ujar kuat Elena nyaris berteriak. Dia sangat sangat emosi setiap membahas hal ini. Dia tidak sanggup. Hatinya kembali merasa hancur. Dia sudah berupaya menguatkan dirinya namun tetap saja kembali rapuh. Dia menangis dengan pelan. Iya dia kembali menangis terisak!