Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
KEMBALI


__ADS_3

Semua orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Virgo sibuk mengurus berkas cutinya begitupun dengan Wina karena mereka akan pergi honeymoon besok. Elena sibuk dengan koasnya menunggu hari pelantikan wisudanya yang sebentar lagi, Edward juga sibuk dengan pekerjaannya, dan yah begitulah, semuanya benar benar sibuk.


Apa Edward tidak ada niat menyusul abangnya Virgo? Hmm sepertinya dia belum ada calon hahhaha....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Di tempat lain, Virgo tengah asik berbincang berdua dengan atasannya. Tentu atasannya yang tidak lain adalah Zeyn sudah tau bahwa dia akan cuti selama seminggu. Dia sendiri yang memberikannya, bukan?


"Jadi kau benar benar akan pergi?" tanya Zeyn seperti tidak rela. Biasanya setiap hari mereka akan terus bersama. Tapi dia sudah seharusnya membuat penyesuaian bahwa orang yang paling dekat dengannya sekarang sudah memiliki keluarga sendiri, sudah menikah dan mempunyai istri. Mungkin setelah siap bekerja, mereka tidak akan bisa sesering dulu untuk terus bersama, karena Virgo sudah mempunyai istri. Jadi tentu dia akan menghabiskan waktunya bersama istrinya setelah siap bekerja. Kalau ada kesempatan dan waktu saja baru mereka bisa bersama menikmati waktu santai.


"Kau tidak rela sayangku." seru Virgo tengil dengan manjanya layaknya wanita. Dia ini memang kebanyakan humoris ya.


Kyaaa...


"Kau ini." ringis Virgo karena Zeyn menepuk pipinya spontan. Mereka memang duduk samping sampingan di sofa di ruangan Zeyn.


Virgo memutar bola mata malas dan kembali terdiam, itu membuat Virgo tersenyum.


"Kau sudah menikah, berarti kita tidak akan bisa sesering dulu untuk terus bersama ya." ujar Zeyn pelan menatap lain arah.


"Tidak mungkin aku terus bersamamu dan tidak menikah, aku masih normal ya Zeyn." balas Virgo malas. Perkataan Zeyn membuatnya serasa geli saja.


Zeyn hanya terdiam tanpa menatap Virgo. Virgo yang melihatnya menepuk pelan pundak Zeyn.


"Hey, aku sudah menikah dan memiliki istri. Setelah seharian bekerja bersamamu, aku pasti akan berkumpul bersama istriku dan anak anakku kelak, kita masih bisa pergi bersantai saat ada waktu bukan? Makanya Zeyn, kau sudah seharusnya menikah agar bisa merasakan apa yang aku rasakan. Biar anak anak kita bisa berteman seperti kita." jelas Virgo. Zeyn hanya diam mendengarnya. Sebenarnya benar juga, tetapi hidupnya sekarang masih diterpa banyak masalah dan dikejar bayangan rasa ketakutan dan penyesalan. Melihat sikap Virgo yang sangat baik, membuatnya kembali merasa sangat menyesal.


"Hey!" panggil Virgo karena Zeyn hanya diam saja. Zeyn tersentak dan menatap Virgo sejenak.


"Kau sebenarnya kenapa sih Zeyn, ada masalah apa? Mumpung aku masih disini." ujar Virgo yang melihat tingkah Zeyn. Dia tau, Zeyn memang dingin, tapi dinginnya Zeyn sekarang sangat berbeda. Raut wajahnya seperti menyiratkan kekhawatiran dan ketakutan.


Virgo hanya diam kembali lalu membuang muka. Berdehem sebentar lalu bangkit berdiri.


"Urus saja berkas cutimu." ujarnya dingin lalu mulai berjalan ke arah kursi putar miliknya.


Virgo hanya menggeleng saja tanpa banyak bertanya. Oh iya, dia masih penasaran satu hal!


"Selama seminggu ini, kau tidak akan mencari penggantiku kan?" tanyanya menatap tajam Zeyn yang tidak menatapnya.


Zeyn meliriknya Virgo malas. Jadi buat apa tadi dirinya mengatakan perkataan yang tadi? Virgo bodoh!

__ADS_1


"Kenapa bisa aku mempekerjakan orang bodoh sepertimu." gumamnya pelan namun masih terdengar. Itu membuat Virgo kesal dan mengutuki bosnya ini.


Di tempat lain, di jam istirahat, Elena kembali beristirahat setelah melakukan tugas tugasnya di rumah sakit tempat dia koas bersama Sean disampingnya.


"Maaf ya Elena." ujar Sean memecah keheningan. Elena yang memegang botol air minumnya melirik Sean dengan tanda tanya.


"Minta maaf buat apa?" tanyanya menaiki alisnya.


"Maaf karena semalam aku tidak bisa hadir ke pesta pernikahan kakak lelakimu." jawabnya menatap Elena.


Elena yang mendengarnya tersenyum tipis dan menatap Sean.


"Iya gak apa apa, lagian kan kau juga sudah beritahu alasannya. Kebetulan sepupumu tunangan kan?" tanyanya dan Sean mengangguk antusias.


"Yasudah kalau begitu." ujar Elena sembari meletakkan botol air minumnya di meja.


Sean tersenyum mendengarnya.


"Kakakmu gak pergi honeymoon?" tanya lagi Sean.


"Pergi kok." ujar Elena kembali duduk.


"Kau mau ikut?" tanya Elena mengerutkan keningnya. Virgo tersenyum malu membuat Elena menggeleng saja.


"Mereka akan pergi ke Paris besok." jawab Elena santai dan Sean hanya mengangguk saja.


"Kau kapan?" tanya Sean tengil.


"Kapan apanya?" tanya Elena menaiki alisnya tidak mengerti.


"Pergi honeymoon." balasnya tengil. Elena tertegun dengan wajah suramnya. Lalu spontan melempar Sean dengan botol air minumnya tadi yang berada di meja sampingnya.


"Jangan bahas itu lagi." ujarnya dingin sembari menjauh pergi. Dia tidak suka membahas hal yang bisa mengorek lukanya lagi.


Sean mengangguk bahu acuh, dia berpikir bahwa Elena sangat sensitif akhir akhir ini.


Hari ini adalah hari kepulangan Vania. Dengan cepat dia keluar dari bandara dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah diisi oleh sopir dan tantenya Mila.


"Tante bagaimana?" baru saja masuk dan mobil baru saja berjalan, Vania langsung memberikan satu pertanyaan dengan wajah cemasnya. Selama masa masa kepergiannya, Mila tidak banyak memberinya informasi, dan itu membuat Vania khawatir.

__ADS_1


Mila masih diam sembari membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Ada kabar buruk....stttt." ujar Mila belum sepenuhnya dan langsung menutup bibir Vania yang hendak berucap dengan telunjuknya karena dia mengatakan bahwa ada kabar buruk.


"Dan ini karenamu." sambung Mila dingin sambil melepaskan telunjuknya dari bibir Vania.


Vania semakin cemas. Dia menatap Mila meminta penjelasan.


"Ada apa Tante?" tanya Vania tidak tenang.


"Karena kecerobohanmu, ada yang menjadi korban di malam itu!" Ujar dingin membuang muka. Vania semakin tidak mengerti.


"Maksudnya apa tante?" tanyanya lagi lebih serius.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Masuk!" seru Zeyn tanpa menatap pintu ruangannya yang berbunyi. Dia masih fokus dengan layar komputernya.


"Halo Zeyn." ucap seorang wanita yang langsung duduk didepan Zeyn. Zeyn melihat sejenak siapa yang datang.


"Kau sudah pulang Vania?" tanya Zeyn datar. Vania mengangguk tersenyum manis tak berani menyentuh Zeyn.


"Iya Zeyn, sebenarnya aku sudah ingin pulang kemarin cuman ada pekerjaan dadakan jadinya ditunda lebih lama." jawabnya dengan lebih imut. Zeyn serasa ingin muntah melihat tingkah busuk Vania.


"Lalu buat apa kesini?" tanya Zeyn dingin. Vania kicep melirik Zeyn kesal.


"Kau tidak rindu kepadaku?" tanyanya menatap Zeyn lebih dalam.


"Tidak." jawab santai Zeyn sembari masih fokus dengan komputernya.


Vania mendengus kesal dan berusaha untuk lebih manis dan tenang.


"Aku bawa oleh oleh untukmu Zeyn, itu dia." ujarnya lembut menunjukkan barang yang dia bawa.


"Makasih." ujar Zeyn singkat tanpa melihat apa yang dibawa oleh Vania.


Vania semakin mendengus kesal. Zeyn benar benar semakin mengabaikannya. Sementara Zeyn, tak kalah kesal. Baginya, Vania ini wanita tidak tau malu. Sudah ditolak beberapa kali masih saja suka menganggu. Entah apa saja rencana yang dibuatnya!


"Virgo cuti ya?" tanyanya basa basi.

__ADS_1


__ADS_2