Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
MENCARI l


__ADS_3

Waktu terus berjalan, saat menjelang sore, Virgo datang bersama Wina. Mereka memasuki rumah Wilson dengan senyum lebar mereka.


"Halo semua!" teriak Virgo saat sudah memasuki rumah. Semua orang rumah keluar mendengar teriakan suara yang tidak asing.


"Jangan teriak teriak, ini bukan pasar ya!" gerutu Wina kesal. Virgo hanya menampilkan gigi putihnya saja dengan tersenyum.


Nita, Wilson, juga Edward datang menghampiri mereka. Nita yang melihat Virgo dan Wina langsung berjalan cepat dan memeluk mereka.


Brukk...


"Kalian akhirnya sampai nak." ujar Nita tersenyum. Virgo dan Wina membalas pelukan Nita dengan hangat. Setelah pelukan terlepas, Nita langsung terburu buru bertanya keberadaan Elena yang membuat mereka terkejut dan terheran.


"Virgo, bagaimana adikmu? Dia mengatakan apa kepadamu?" tanya Nita buru buru.


Virgo mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan mamanya.


"Maksud mama?" tanya Virgo.


"Jangan becanda Virgo! Dimana adikmu Elena?!" tanya Nita mulai emosi karena berpikir Virgo bercanda. Dia benar benar sangat khawatir sehingga tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Kenapa bertanya kepada Virgo ma? Bukankah Elena bersama kalian?" tanya Virgo lagi masih terheran.


"Virgo, kamu jangan becanda!" teriak Nita mulai emosi. Edward dan Wilson yang melihat Nita tidak bisa mengendalikan diri langsung menghampiri Nita dan menenangkannya.


"Bibi, tolong ambilkan minum!" teriak Wilson langsung mendekati Nita yang tidak baik baik saja.


"Ayo sayang kita duduk dulu, kamu tenang ya!" ujar Wilson membawa Nita mendekat ke arah sofa yang tidak berada jauh. Nita menepisnya kasar.


"Bagaimana aku bisa tenang pa! Anakku dimana!" bentak Nita kuat mulai menangis.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya?" tanya Wina mulai angkat bicara. Dia bisa melihat keadaan rumah tidak baik baik saja.


"Ada apa?" tanya lagi Virgo yang menyadari hal yang sama.


"Tunggu dulu, kita tenangin mamamu dulu." ujar Wilson lagi mulai membujuk Nita untuk duduk.


"Ma, kita duduk dulu ya. Kita bicarain baik baik dulu. Mama jangan langsung emosi ya. Ayo duduk dulu ma." ujar Edward lembut membujuk Nita untuk duduk. Nita terdiam dan mulai duduk dengan kembali menangis pelan. Pandangannya menjadi kosong dan terus menangis.


Saat semua sudah duduk, Virgo kembali bertanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bertanya Elena kepada kami? Bukankah dia bersama kalian?" tanya Virgo lagi buru buru karena mulai merasakan hawa masalah.


"Elena pergi bang. Saat pulang dari acara wisuda pelantikannya, dia mengatakan bahwa dia harus cepat cepat berangkat ke London sekiranya seminggu untuk mengkonfirmasi pekerjaannya. Kami heran kenapa tiba tiba dan sangat terburu-buru seperti itu. Awalnya kami menolak namun Elena terus memaksa. Akhirnya kami menyetujuinya dan..." ucapan Edward terpotong karena Virgo memotongnya cepat.


"Elena pergi? Dan kalian tidak memberitahuku?!" tanya Virgo kaget. Dia yang mendengar setengah penjelasan Edward menjadi tidak tenang.


Edward terdiam dan sadar bahwa Elena ternyata berbohong. Dia benar benar heran kenapa Elena melakukan ini.


Virgo dan Wina terdiam tidak bisa berkata kata. Virgo rasanya sulit percaya. Baginya, Elena adalah anak yang penurut, baik dan tidak mau macam macam, lalu kenapa dia seperti ini? Dia tiba tiba teringat jika Elena juga mengirimkan pesan kepadanya. Dia cepat cepat membuka isi pesan Elena.


"Dia juga mengirim pesan kepadaku." ujar Virgo menunjukkan isi pesan Elena kepada dirinya.


Berisi, "Kakak, hati hati pulangnya."


"Elena juga mengirim pesan kepadaku." ujar Wina menunjukkan pesan Elena juga.


Berisi, "Kak Wina hati hati dan aku menunggu kabar baik dari perutmu."


Nita, Wilson, dan Edward terdiam melihat pesan Elena kepada mereka.

__ADS_1


"Elena gak mungkin ninggalin kita!" ujar Nita masih menangis.


Virgo akhirnya sadar akan keadaan. Nafasnya memburu setelah mengerti apa yang terjadi.


"Dia pergi sama siapa jadinya ke bandara jika bukan kalian yang mengantar?" tanya Virgo sembari berdiri dengan cepat. Edward yang melihatnya ikut berdiri.


"Awalnya dia menolak untuk diantar, namun papa dan mama memaksa agar ada yang mengantarnya. Dia akhirnya diantar oleh Viktor, teman Elena." jawab Edward.


"Kau memang tidak bisa melacak keberadaannya?" tanya Virgo lagi dan Edward menggeleng yakin. Virgo mengepalkan tangannya kuat menahan amarah. Semuanya berdiri melihat itu. Wina mendekat dan mengusap lengan Virgo lembut. Wilson dan Nita mendekati Virgo.


"Tolong bawa adikmu pulang Virgo!" ujar Nita lemah. Dia merasa lelah rasanya terus menangis dan khawatir seperti ini.


"Bawa adikmu nak!" tegas lagi Wilson.


"Sayang, dia adik kesayanganmu. Kau harus bisa menemukan dia." bisik Wina lagi yakin sambil terus mengusap lengan Virgo.


Virgo yang melihat orang orang tersayangnya berharap kepadanya membuatnya semakin bertekad untuk menemukan Elena.


"Edward kau ikut denganku!" tegas Virgo dingin ingin hendak pergi namun sebelumnya dia menatap Nita, Wilson, dan Wina.


"Tenanglah, aku akan menemukan Elena." ujarnya lalu segera pergi dengan Edward yang mengikutinya.


Melihat Virgo dan Edward pergi, Wina langsung mendekati Nita dan menenangkannya.


"Wina, Elena Wina Elena!" bisiknya lemah.


"Mama tenang ya, mereka pasti menemukan Elena." ujar Wina menenangkan.


"Bawa mamamu ke kamar ya nak, biar papa yang mengurus barang kalian." ujar Wilson disana. Wina tersenyum mengangguk dan segera membawa Nita ke kamarnya.

__ADS_1


Wilson yang tertinggal sendiri terdiam dan duduk. Dia meneteskan air matanya. Siapa yang tau bahwa dia juga tak kalah khawatir. Dia berusaha menahan air matanya agar Nita dan Edward tidak semakin sedih dan khawatir. Dia harus terlihat tegar. Dia sangat sangat menyayangi Elena. Tolong katakan kepadanya, apa yang harus dilakukan dirinya yang sudah tua ini namun masih menjadi kepala keluarga untuk menemukan anak perempuannya Elena?


__ADS_2