
Elena yang ditanya seperti itu hanya menatapnya ragu.
"Saya bukan dokter, saya hanya kuliah dengan jurusan kedokteran." jawab Elena jujur. Pria itu hanya mengangguk.
"Oh iya, makasih ya udah bantu adik saya tadi." ujar pria itu tersenyum tulus.
"Iya sama sama. Kebetulan tadi dia jatuh tepat dihadapan saya." sambung Elena membalas dengan senyuman juga.
"Oh begitu ya." sahutnya dan Elena hanya mengangguk saja.
"Btw nama kamu siapa?" tanya pria itu teringat dia belum kenalan dengan wanita yang telah membantu adiknya, dan juga sedari tadi mereka sudah bersama tapi dia belum kenalan juga.
"Nama saya Elena." jawab Elena dan pria itu hanya mengangguk lagi.
"Kalau nama kamu?" tanya Elena balik bertanya. Tidak mungkin dia memperkenalkan namanya tapi pria dihadapannya tidak melakukan hal yang sama.
"Perkenalkan nama saya Brayen." jawab pria itu sambil mengulurkan tangannya dan Elena menerimanya sehingga akhirnya mereka berjabat tangan. Elena merasa tidak perlu lagi memperkenalkan namanya, belum dua menit dia sudah memperkenalkan namanya. Cukup untuk membalas tangan Brayen saja.
"Koas ya masih?" tanya Brayen menaiki satu alisnya.
"Iya, saya masih koas dirumah sakit." jawab Elena sopan. Kenapa Brayen bisa tau? Karena dia adalah seorang dosen. Masih muda dan beda tipis jaraknya dengan Elena tapi sudah menjadi dosen. Cukup luar biasa kan?
"Semester berapa?" tanyanya lagi.
"Semester akhir." jawab Elena dan Brayen hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Abang abang, ajak kakak cantik makan malam bersama kita dong." rengek Tania menarik tangan Brayen. Brayen yang mendengar rengekan Tania hanya berdehem pelan.
"Sebagai gantinya, saya akan mengajakmu untuk makan malam bersama kami. Mau kan ikut?" tanya pria itu tulus. Sekalian dia mau membalas kebaikan Elena yang membantu adiknya.
"Ayo dong kakak cantik." kali ini Tania merengek menarik narik tangan Elena. Elena yang hendak menolak jadi merasa tidak enak. Akhirnya dia mengangguk setuju saja.
Hari sudah menjadi gelap diterangi oleh bintang dan bulan. Sangat indah. Siapapun yang memandangnya pasti akan tersenyum terhibur, terutama bagi pecinta bulan dan bintang.
Brayen, Tania, dan Elena masuk kesebuah restaurant yang tidak jauh dari taman. Elena cukup bersyukur karena tempat mereka makan tidak terlalu jauh dari tempat parkirannya.
Selesainya makan, Elena memilih pulang karena malam akan semakin larut. Belum lagi dia belum mandi. Dia sebenarnya sangat jarang belum mandi sampai hari sudah gelap begini. Dia terbiasa untuk cepat cepat mandi dan tidak mau mandi malam. Tapi tidak apa apa untuk malam ini. Dia berolahraga dan keringatan, tentu dia harus mandi.
"Yasudah saya pulang ya. Kakak pulang ya Tania. ujar Elena disana kepada Brayen dan Tania. Tania merasa tidak rela melepas kepergian Elena.
"Tapi..." ucapan Tania terhenti karena Brayen.
"Semoga kita berjumpa lagi ya Tania. Kakak sekarang mau pulang. Dada taniaa." ujar Elena tersenyum mengelus kepala Tania dan segera menjauh sambil melambaikan tangannya.
"Dada kakak cantik!" seru Tania menatap kepergian Elena.
"Yasudah ayo pulang. Mama dan papamu pasti mencarimu." ujar Brayen menggendong Tania. Tania hanya mengangguk saja dan membiarkan tubuh kecilnya digendong oleh Brayen menuju mobil.
Besoknya ditempat lain, dua wanita terlihat sedang berbincang serius disebuah cafe yang cukup mewah.
"Kenapa wajahmu begitu sedih sayang?" tanya lembut wanita yang lebih tua. Dia adalah Mila.
__ADS_1
"Aku harap tante tau kenapa aku begini." jawab wanita yang lebih muda dengan sedihnya. Dia adalah Vania. Matanya sembab seperti habis menangis dengan waktu yang cukup lama.
"Kau ditolak lagi?" tanya Mila ragu. Vania mengangguk pelan dengan sedihnya. Dia serasa ingin menangis lagi mengingat kejadian kemarin.
Mila yang melihat Vania mengangguk hanya menghela nafas. Dia melihat lain arah sambil terus berpikir.
"Aku sudah berdandan secantik mungkin tante. Aku udah siapin semuanya dengan sebaik mungkin. Tapi saat aku mengungkapkan perasaanku lagi kepadanya, dia benar benar menolakku mentah mentah. Bahkan, dia bukan hanya menolakku tante, tapi dia juga mengabaikanku." jelas Vania mengungkapkan semua isi hatinya. Dia kembali menangis mengingat semua yang terjadi padanya.
Mila mendengarkannya dengan seksama. Dia terlihat ikut sangat sedih melihat Vania yang menangis. Dia tidak tahan melihat Vania menangis seperti ini. Bahkan orang tua Vania tidak peduli kepada Vania, tapi kenapa Mila sangat peduli kepada Vania? Kita lihat saja nanti. Terkadang, Vania mau berpikir seperti itu. Tapi dia memilih tidak mau memperpanjang pemikirannya itu, yang terpenting ada orang yang menyayanginya dan selalu membantunya. Itu saja!
"Kamu yang sabar ya sayang. Jangan menangis seperti ini, tante tidak mau melihatmu menangis. Suatu saat nanti Zeyn pasti akan bersamamu. Percaya kepada tante ya." ujar Mila menenangkan Vania. Dia mengelus lembut tangan Vania.
"Mau sampai kapan tante? Aku udah banyak berusaha, tapi sedikitpun dia tidak ada melirikku. Aku tidak punya saingan, tapi sangat sulit untuk mendapatkannya. Sekarang aku sudah punya saingan, aku tidak tau lagi tante." jelas Vania dengan emosinya sambil memijit pelipisnya yang sakit.
"Maksudmu?" tanya Mila tidak paham.
"Zeyn sudah menyukai seorang wanita tante." jelas Vania singkat.
"Kamu tau dari mana sayang?" tanya Mila lagi.
"Aku ingat kata kata tante yang mengatakan bahwa Zeyn pernah bertanya soal wanita kepada papanya, lalu aku bertanya langsung kepadanya. Dia tidak menjawab dan langsung pergi. Jelas bukan bahwa Zeyn memang sedang menyukai wanita lain?" jelas Vania lagi. Mila hanya mendengarkannya saja.
"Aku tidak tau apa kurangnya aku sampai Zeyn melirik wanita lain. Aku juga tidak tau seperti apa wanita itu sampai dia bisa mendapatkan hati Zeyn, padahal aku sudah lama mengejar dia. Apa kelebihan wanita itu yang tidak ada padaku tante." jelas Vania lagi dengan sedihnya. Dia merasa bingung akan hal ini, khawatir dan takut apabila sewaktu waktu Zeyn pergi jauh bersama wanita itu. Vania merasa dia tidak bisa hidup tanpa Zeyn. Dia tidak akan membiarkan itu semua terjadi!
Mila yang sedari tadi terdiam mendengarkan Vania akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
"Tante tau seperti apa wanita itu." ujar Mila dengan dinginnya. Dia sudah pernah melihat seperti apa wanita yang dimaksud Vania. Tebakannya selama ini benar. Awalnya, Mila sangat ragu jika Zeyn memang sedang dekat dengan wanita, karena sikap dan sifat Zeyn yang benar benar sangat dingin dan tidak tersentuh. Namun ketika dia sudah melihat buktinya sendiri, akhirnya dia bisa percaya. Dan apa yang Vania sampaikan tadi semakin menambah kepercayaannya. Bukti? Ya, Mila sudah melihat buktinya. Orang yang malam itu melihat Elena dan Zeyn berbincang serius adalah Mila sendiri.