
Elena masuk kedalam rumah sakit dengan tenangnya. Menyipitkan matanya karena melihat Fani yang berdiri sambil terus menatapinya, jangan lupakan satu teman disampingnya yang dia tidak tau siapa namanya.
Elena berjalan masuk dengan santainya tanpa menghiraukan tatapan mereka. Dia berjalan kearah ruangannya dan itu harus melewati Fani dan satu temannya itu.
Bughh..
Elena sekuat mungkin menahan tubuhnya agar tidak jatuh dan untungnya dia tidak jatuh. Elena menatap dingin apa yang membuatnya tersandung dan hampir jatuh.
Kaki Fani, iya itu kaki Fani. Elena menatap dingin Fani yang tersenyum miring menatapnya. Menghela nafas pelan dan menaiki alisnya menatap Fani.
"Sorry, sengaja!" seru Fani tertawa bersama satu temannya yang berada di sampingnya.
"Ada urusan apa?" tanya dingin Elena menatap Fani dengan mata tenangnya. Padahal sebenarnya Elena berusaha agar emosinya tidak meledak. Fani ini memang suka sekali mengganggunya padahal dia sama sekali tidak ada urusan apapun kepadanya.
"Tidak ada urusan apa apa." jawab Fani sinis memberhentikan tawanya.
"Lalu kenapa terus menggangguku?" tanya lagi Elena dingin.
"Kau pasti tau kenapa. Selama kau masih dekat dengan Sean, aku akan terus mengganggumu. Aku sudah berulang kali mengatakan, Sean adalah MILIKKU!" sahut Fani menekan katanya di akhir kata.
Elena menghela nafas lagi. Lelah sekali rasanya kalau harus terus terusan membahas hal seperti ini. Membuang waktunya namun mau bagaimana lagi?
"Fani. Aku sudah beberapa kali mengatakan, aku dan Sean tidak memiliki hubungan apapun selain teman saja." ujar Elena pelan.
Fani menggeleng cepat.
"Tapi kalian terus bersama, aku tidak menyukainya!" sambung Fani mulai mengeraskan suaranya. Untungnya, ini masih pagi dan belum banyak orang yang datang, bahkan Sean saja belum juga datang.
"Kami serekan dan mempunyai tugas yang sama. Tempat tugas kami juga sama, jadi wajar saja kalau kami terus bersama Fani, tetapi itu bukan berarti kami memiliki hubungan." jelas Elena tenang. Dia malas harus membalas dengan suara keras.
__ADS_1
Fani membuang muka tidak percaya.
"Aku tidak percaya. Intinya, Sean itu adalah milikku dan kalian tidak boleh dekat dekat." ujar Fani mengancam.
Elena menggeleng tidak habis pikir. Bisa bisanya seorang Fani berlaku seperti ini. Elena akui, Fani itu wanita yang cantik dan bisa dikatakan pandai. Dia juga orang terpandang. Elena tau bahwa yang menyukai Fani juga banyak, namun kenapa dia harus terobsesi untuk mendapatkan Sean. Elena tidak habis pikir.
"Sudah ya Fani, aku mau masuk dulu. Jangan ganggu aku. Jika kau masih saja terus menggangguku, aku akan melaporkanmu kepada atasan bimbingan kita!" seru Elena mengancam namun dengan tenang. Setelah mengatakan itu, Elena langsung masuk tanpa menunggu jawaban Fani.
Fani terdiam tidak bisa berkutik. Elena sudah berani mengancamnya. Dia tau Elena tidak pernah main main dengan kata katanya. Fani tidak mau membalas lagi, dia masih menyayangi karir yang ingin dia rintis.
"Lihat saja Elena." gumam pelan Fani dengan seringainya.
Fani benar benar tidak menyukai Elena. Selain mengenai Sean, dia juga memang sudah terlanjur iri dengan Elena. Dia cantik, dia pandai, populer, disayang banyak orang, ahk Fani benar benar iri kepadanya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Bagaimana kalau dia hamil?" tanya Vania dengan seorang wanita bersamanya. Itu Mila, tantenya.
Mila sudah memberitahu semuanya kepada Vania. Dan tentu saja, reaksi Vania sama dengan reaksi Mila. Mereka khawatir, takut, dan benar benar gelisah.
"Kenapa harus dia yang menjadi korbannya!" gumam Vania kesal.
"Ini semuanya karena kebodohanmu!" sambung Mila menyalahkan Vania. Vania yang mendengarnya menjadi semakin kesal, tidak bisa menjawab apa apa, karena itu memang kesalahannya.
"Tunggu dulu!" ujar Vania teringat akan sesuatu.
"Kenapa Tante?" tanya Vania menatap penuh Mila.
"Tua Bangka itu mengatakan bahwa wanita itu akan wisuda sebentar lagi. Dan Tante dengar sewaktu di pesta, ada yang mengatakan bahwa wanita itu akan pergi dan tidak bekerja disini." ujar Mila teringat. Memang, sewaktu di pesta, Mila ingat bahwa ada yang mengatakan Elena akan pergi setelah siap wisuda.
__ADS_1
"Itu hal yang bagus Tante!" sahut Vania tersenyum senang.
"Kita belum tau kebenarannya. Tapi jika itu memang benar, itu adalah hal yang bagus. Tante juga masih ingat bagaimana reaksi wanita itu pada malam itu. Dia terlihat sangat marah dan pasti membenci Zeyn!" ujar Mila lagi yang teringat bagaimana perbincangan Elena dan Zeyn yang penuh dengan emosi.
"Itu benar benar bagus!" gumam Vania lagi senang. Setidaknya ada yang bisa mereka andalkan dan ada celah untuk mengatasi masalah seperti ini.
Waktu rasanya cepat sekali berlalu. Elena yang baru saja siap melakukan tugasnya memilih untuk singgah ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membeli semua kebutuhan yang diperlukannya. Sudah lama dia tidak berbelanja begini.
Turun dari mobil, Elena menatap bangunan pusat perbelanjaan terkenal di kota ini. Sangat besar dan megah. Dia menatap ke sekeliling yang ternyata sudah banyak perubahan. Dia memang sudah lama tidak berbelanja. Dulu semasa sekolah, dia sering datang ke pusat perbelanjaan ini bersama banyak teman temannya. Namun ada waktunya dimana hidup akan terasa lebih sibuk. Karena kesibukannya, Elena tidak sempat berbelanja santai begini lagi.
Menatap ke arah kiri, Elena tertegun. Dulu itu adalah tempat tempat berjualan, namun sekarang sudah menjadi taman kecil dengan banyak permainan anak anak. Elena tersenyum melihatnya. Dia sadar, dia sudah ketinggalan informasi tentang pusat perbelanjaan ini.
Elena berjalan dengan tenangnya memasuki pusat perbelanjaan. Sekarang lebih besar dan megah, pikirnya. Semakin banyak juga yang dijual. Elena berjalan kearah toko buku di pusat perbelanjaan itu. Biasanya, setiap dia kesini, dia pasti akan datang ke toko buku ini untuk membeli beberapa buku. Elena memang suka sekali membaca dan menulis. Dia suka membaca komik, novel, cerpen, bahkan berita pun sebenarnya dia suka. Hanya saja kembali seperti tadi, dia sangat sangat sibuk sehingga tidak sempat untuk melakukan kegiatan itu.
Elena berjalan kearah tempat buku buku komik. Elena mengambil satu buku yang menarik di matanya. Membacanya sambil berjalan ke tempat lain.
Bruk...
"Aduh!" ringis seorang anak kecil.
Elena terkejut dan menatap siapa yang bertabrakan dengannya.
"Kakak cantik!" seru anak itu.
"Loh Tania?" ucap Elena kaget melihat Tania ada juga di tempat ini. Elena yang tersadar Tania belum berdiri langsung membantunya berdiri.
"Tani...loh Elena?" tanya Brayen yang tiba tiba datang dengan beberapa buku yang dia bawa di keranjang miliknya. Elena tersenyum dengan Tania bersamanya.
"Kamu kok ada disini? Dan kenapa bisa bersama Tania?" tanya Brayen terheran melirik Tania yang bersama Elena.
__ADS_1
"Aku memang datang kesini untuk berbelanja, namun saat berjalan sambil membaca buku, aku tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang dan ternyata itu Tania." jelas Elena tersenyum tipis.