
"Tania gak nyangka kita ketemu disini kak. Kita terus bertemu ya kak, itu artinya tuhan senang kita bersama kak, Tania juga senang terus ketemu sama kakak." ujar Tania dengan polosnya. Elena dan Brayen tersenyum.
"Loh gitu ya Tania." sahut Elena dengan gayanya.
"Iya kak. Kata guru Tania, kalau sering bertemu itu ada tandanya kak." ujar lagi Tania.
"Iya iya, kamu ini!" seru Elena tersenyum gemas mengusap kepala Tania.
"Kakak suka buku juga?" tanya Tania melihat Elena yang memegang buku.
"Iya Tania, kakak suka membaca buku.", jawab Elena.
"Tania juga kak. Tania suka baca buku, makanya Tania kesini. Lihat itu kak, yang dipegang Abang itu buku buku pilihan Tania." ujar Tania bangga. Dia memang suka membaca buku.
"Wah, benarkah?" tanya Elena kagum. Tania mengangguk semangat.
"Kamu hebat!" seru Tania tersenyum bangga dengan kedua jempolnya yang ia tunjukkan kepada Tania, Tania yang melihatnya tersenyum malu dan sangat senang.
"Kakak, kita ke Timezone ya." ujar Tania semangat. Elena terdiam ragu mendengarnya. Brayen melihat itu menjadi peka.
"Tania, kakak cantik mungkin saja sibuk. Dia mungkin buru buru karena pekerjaan kakak cantik mungkin masih ada. Jangan dipaksa ya, sama abang aja nanti kesana." ujar Brayen menyambung. Dia tidak mau merepotkan Elena karena permintaan Tania.
Tania diam menunduk. Elena yang tadinya ragu tersenyum girang menatap Tania.
"Ayo Tania, kita ke Timezone ya. Kita bermain disana. Kakak udah lama gak main disana. Ayo!" ujar Elena dengan senangnya. Dia juga rindu bermain kesana. Dia sudah lama tidak mengunjungi tempat seru seperti itu. Untung saja dia tidak terlalu sibuk lagi. Beberapa tugas masih bisa dia tunda.
Tania tersenyum senang mendengarnya.
"Yeyyyy!" senangnya.
"Gak ngerepotin kan?" tanya Brayen ragu menatap Elena.
"Enggak kok." jawab Elena tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah ayo kakak kita kesana!" seru Tania dengan senang menarik tangan Elena.
"Tunggu Tania, bukunya belum dibayar." sahut Brayen cepat melihat Tania dan Elena yang hendak pergi.
"Abang aja yang bayar. Oh iya, sekalian buku kakak cantik ya. Abang nanti nyusul aja, ayo kakak!" ujar Tania kesal menatap abangnya yang ribet baginya. Dia mengambil buku yang dipegang Elena dan langsung memberikannya kepada Brayen. Tania lalu langsung pergi dengan menarik tangan Elena. Elena hanya diam mengikuti Tania dengan tatapan tidak enak menatap Brayen. Brayen hanya mengangguk dan tersenyum masam.
Setelah kepergian tania dan Elena, Brayen mendengus kesal.
"Untung saja sayang!" ketusnya kesal dan langsung menuju kasir untuk membayar semua buku yang dipegangnya.
Waktu terus berjalan. Elena sangat lelah bermain dan memilih duduk di pinggiran Timezone itu. Dia bisa melihat Tania yang terus bermain dengan senangnya dan tiada henti. Dia juga mendapatkan teman baru disitu. Dia terlihat sangat senang, Elena yang melihatnya tersenyum hangat.
"Mau?" tanya Brayen yang tiba tiba datang dengan dua es krim di tangannya.
Elena yang melihatnya mengangguk tersenyum dan langsung mengambil satu es krim di tangan Brayen.
"Makasih ya." ujar Elena dan mulai memasukkan satu sendok kecil es krim ke mulutnya.
Elena yang mendengarnya menjadi kesal dan memanyunkan bibirnya.
"Harusnya kamu bertanya. Asal kamu tau aja, aku suka sekali makan es krim!" ketus Elena membuang muka kesal.
Brayen diam menatap Elena tidak enak. Iya juga yah, kenapa dia tidak bertanya!
"Maaf ya!" ujar Brayen dengan tulus. Elena berdehem sambil terus menikmati es krim di tangannya.
"Kamu memang sudah lama tidak bermain kesini?" tanya Brayen memecah keheningan yang sempat terjadi.
Elena mengangguk menatap Brayen.
"Iya, bahkan aku juga sudah lama tidak datang ke pusat perbelanjaan ini." jawab Elena jujur.
"Kenapa? Tanya Brayen penasaran.
__ADS_1
"Ya karena enggak ada waktu." jawab Elena singkat. Brayen mengangguk pelan saja mendengar jawaban Elena.
"Tunggu!" seru Brayen tiba tiba. Elena menatap Brayen dengan tanda tanya.
"Ada apa?" tanya Elena mengerjab pelan.
"Kamu makan bercelemotan." ujar Brayen mengangkat tangannya dan mengusap pinggiran bibir Elena.
"Cieee." ucap Tania yang tiba tiba datang dengan keringat di dahinya.
Brayen dan Elena tersentak kaget dan langsung membuang muka bersamaan.
"Makasih." ujar Elena pelan namun masih terdengar. Brayen mengangguk saja.
"Kakak cantik mau gak sama abang aku. Kalau kakak mau, Tania pasti seneng banget." ujar Tania dengan polosnya. Elena melebarkan matanya dan menatap sekilas Brayen yang juga terkejut.
"Kamu ini Tania, jangan bicara seperti itu lagi!" tegas Brayen. Tania menunduk terdiam.
"Tania. Kakak sama Abang itu cuman teman kok, enggak ada hubungan apa apa. Tania gak boleh bicara seperti itu lagi ya." ujar Elena lembut mengusap lengan kecil Tania.
"Iya kakak. Maaf ya kakak Abang." ujar Tania menunduk takut.
"Iya tidak apa apa." sahut Brayen dan Elena yang tersenyum.
"Ayo beli es krim." ujar Brayen mulai berdiri. Tania diam melirik Elena dan Elena tersenyum mengangguk. Akhirnya mereka pergi membeli es krim untuk Tania. Mereka tidak membeli es krim lagi untuk mereka berdua karena mereka sudah memakannya.
Sampai malam, akhirnya mereka bertiga pulang, dengan Elena yang pulang dengan mobil yang dibawanya. Iya, mereka berpisah di parkiran.
Di tempat tidurnya, Brayen tersenyum mengingat kejadian yang tak lama terjadi. Dimana dia yang bersama dengan Elena. Berdua duduk dengannya, berbicara dengannya, dan mengusap bibir Elena tadi. Brayen tersenyum dengan tanpa sadar.
"Aku tidak tau bagaimana perasaanku kepadanya. Namun, aku merasa nyaman dekat dengannya." gumam Brayen tersenyum mengingat itu. Selesainya dengan pemikirannya, dia memilih tidur dengan nyamannya.
Brayen tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Dia masih mengingat kekasih yang telah meninggalkannya, namun rasa sakit yang dia rasakan mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Dan saat dekat dengan Elena, dia merasa sangat nyaman dan tenang. Dia menyukai perasaan seperti itu. Namun, dia belum berani untuk kembali berharap kepada seseorang. Dia tidak mau berharap lebih. Dia tidak mau berharap yang tidak tidak seperti bagaimana jadinya ketika dia dan Elena menjadi sepasang kekasih. Dia tidak mau kecewa lagi. Intinya yang dia tau, dia merasa nyaman, itu saja!
__ADS_1