Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
KEJAM


__ADS_3

Mila dan Vania diam tidak berkutik mendengar perkataan Elena. Mila sebenarnya iba melihat keadaan Elena yang seperti ini, namun entah kenapa dia menepis dengan cepat rasa ibanya. Bisa saja dia berpikir bahwa dia juga dirugikan, karena Vania menjadi semakin sulit bersama dengan Zeyn.


"Saya paham, saya mengerti. Tetapi semuanya sudah terjadi." ujar pelan Mila yang sedari tadi terdiam. Elena memberhentikan tangisnya. Dan menatap kedua wanita dihadapannya dengan dingin.


"Jadi maksud kedatangan kalian menemui saya hanya ingin meminta maaf?" tanya Elena pelan.


"Bukan cuman itu." jawab Vania. Elena mengerutkan keningnya heran.


Trus apalagi? Pikirnya.


Mila terlihat kembali menghela nafas pelan. Elena menoleh meliriknya.


"Kamu tentu tau apa saja yang bisa terjadi. Kamu bisa saja hamil kan?" tanya Mila disana dengan lebih dingin. Dia membenci kata ini. Entah kenapa dia sangat membenci kata hamil dan juga anak kecil.

__ADS_1


Kalian tau alasannya?


Pertama, karena dia tidak bisa memiliki anak sehingga dia iri dan tidak menyukai orang lain yang bisa akan itu semua, lalu sedari kecil, orang tuanya menelantarkannya, dan karena ini juga, Elena yang bisa saja hamil dari Zeyn, membuatnya lebih membenci kehamilan dan anak kecil.


Elena terdiam mendengarnya. Hatinya kembali merasa sesak dan panas. Dia juga sangat takut akan hal itu. Sampai sekarang dia tidak merasa ada tanda tanda kehamilan dari peristiwa itu yang hampir satu bulan genap terjadi. Tetapi dia tetap saja merasa sangat sangat takut.


"Kau sudah hamil?" tanya dingin Mila. Elena menggeleng pelan menatapnya. Mila dan Vania saling melirik dengan senyuman tipis mereka. Namun Mila kembali mendatarkan wajahnya.


"Saya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, jika kamu memang benar benar hamil." ucap Mila disana.


"Peristiwa ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan dan anak itu juga bukan anak yang diinginkan. Kamu sudah tau jika disini Zeyn sudah memiliki calon dan akan menikah. Dan jika kamu benar benar hamil, anak itu bisa sangat menggangu prosesnya, dan kami tidak menginginkan itu. Oleh karenanya, jika kamu benar benar hamil, saya minta kamu pergi jauh dan bawa anak itu ikut denganmu. Jika kamu tidak mau mengurusnya, kamu bisa menggugurkannya, Zeyn juga tidak masalah akan hal itu. Jika kamu memang mau mengurusnya, sebaiknya kamu pergi jauh dan saya akan memberikan kamu simpanan yang cukup untuk hidup kalian. Namun jangan sekali sekali datang untuk mengganggu kehidupan anak saya karena anak itu." ujar Mila dengan tegas menatap Elena. Elena yang mendengarnya terkejut. Dia menatap Mila dengan tidak percaya. Bisa bisanya seorang orang tua bisa berbicara begitu kejam seperti itu. Dia benar benar tidak percaya.


"Saya tidak menyangka anda bisa berkata begitu kejam nyonya. Anda adalah orang tua dan sudah banyak pengalaman, namun saya bisa melihat anda bukan orang tua yang bisa membuat keputusan atau menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Saya benar benar tidak menyangka anda akan berbicara seperti itu. Dan untukmu dan untuk anak dan keluargamu, katakan bahwa jika saya benar benar hamil, saya dan anak saya juga tidak sudi lagi mempunyai hubungan dengan kalian semua, keluarga kejam dan tidak punya hati. Tapi satu hal yang harus kalian tau bahwa saya tidak akan pernah menggugurkan anak itu jika saya benar benar hamil. Saya pergi atau tidak itu urusan saya. Saya tidak butuh uang anda nyonya. Saya merasa hawa disini sangat panas, sangat tidak nyaman seperti saya melihat wajah anak bajingan anda, ternyata keluarganya juga ada disini dan tidak berbeda jauh dengan si pria bajingan itu. Saya pergi dan terimakasih buat pertemuan menjijikkan seperti ini!" balas Elena tegas dan menekan semua katanya. Nafasnya memburu mengatakan itu sambil menatap mereka penuh kebencian dan permusuhan, termasuk Mila. Di akhir menjelang kata katanya, Elena bangkit berdiri dan segera setelah mengatakan itu dia langsung pergi menjauh tanpa menatap dan menunggu jawaban mereka lagi.

__ADS_1


Mila dan Vania menatap kepergian Elena dengan menahan emosi. Mereka juga panas mendengar kata kata Elena yang lancang. Apalagi Mila yang sangat kesal mendengar kata kata lancang Elena. Mereka baru tau jika Elena itu wanita yang tegas dan pemberani.


"Setidaknya dia mengatakan bahwa jikapun dia hamil, dia tidak akan mau mempunyai hubungan lagi dengan kita terutama Zeyn." ujar Mila dengan kepalan tangannya. Dia masih kesal!


"Kau benar Tante. Tapi dia sangat berani." sahut Vania masih menatap pintu cafe yang sudah tertutup karena Elena sudah pergi. Mila menghela nafas lalu langsung bangkit berdiri dan diikuti oleh Vania. Akhirnya berakhirlah mereka pulang dengan ekspresi yang entah bagaimana. Mau bahagia dan senang tapi masih terbayang-bayang dengan ucapan dan sikap Elena. Entahlah, mereka pulang dengan ekspresi biasa saja.


Elena yang berada di dalam perjalanan sambil membawa motornya hanya bisa menangis dengan dalamnya. Air matanya jatuh begitu deras. Dia menepi kearah lapangan yang tidak terlalu ramai. Elena turun dan motornya dan langsung duduk disebuah kursi panjang dipinggir lapangan itu. Dia menangis meluapkan semua emosinya. Dia tau matanya akan kembali sembab dan akan ditanya tanya oleh keluarganya nanti. Dia tidak peduli, dia mau menenangkan dirinya dulu.


"Aku tidak tau apa alasan yang bisa membuat aku harus melanjutkan hidupku." gumamnya masih menangis dengan terisak.


"Halo kakak." tiba tiba seruan anak kecil terdengar di dekat Elena. Elena mendongak menatap suara siapa itu dan ternyata ada anak kecil perempuan didepannya sambil membawa setangkai bunga mawar. Dia tersenyum manis menatap Elena. Elena sejenak memberhentikan tangisnya dan menatap anak itu juga dengan senyuman tipis. Dia menerima bunga itu dengan tersenyum lebih lebar.


"Cemangat ya kakak. Kakak pasti kuat. Aku yakin kakak bisa melewati masalah kakak." ujarnya cadel dengan manisnya lalu langsung tiba tiba memeluk Elena. Elena terkejut namun langsung membalas pelukan anak itu.

__ADS_1


"Aku pergi ya kakak. Aku disini dengan orang tua aku melihati kakak menangis, kami doakan kakak loh tadi." ujarnya lagi menunjuk orang tuanya yang berada tidak jauh dari situ. Mereka tersenyum melihat Elena. Elena tidak menyangka akan hal itu. Masih ada orang yang sebaik dan sepengertian ini ya walaupun tidak saling mengenal. Elena kembali tersenyum lebar melihat anak itu yang langsung berlari kearah orang tuanya lalu mereka bertiga menunjukkan sebuah pertunjukan singkat yang menyentuh hati Elena. Mereka memberikan tanda semangat dengan gerakan mereka. Elena yang melihatnya tersenyum lebar melihat itu. Dia langsung berdiri dan langsung menyatukan tangannya seperti tangan memohon dengan maksud menunjukkan rasa terima kasih. Mereka mengangguk semangat dan mulai menjauh pergi sambil melambaikan tangannya mereka kompak. Elena yang melihatnya sangat terharu dan ikut melambaikan tangannya.


Elena kembali duduk. Mau menangis lagi tetapi tidak bisa lagi karena hal tadi yang sukses membuat tersenyum lebar. Dia merasa bebannya lebih ringan dan sedikit puas. Elena tertawa kecil mengingat itu sambil menarik ingusnya dan menghapus air matanya yang tersisa. Puas dengan itu, dia langsung kembali menaiki motornya dan mulai menarik gas dengan lebih tenang untuk pulang ke rumahnya. Urusan keluarganya yang bertanya itu urusan belakangan saja, pikirnya.


__ADS_2