
Mila tersenyum menatap Zeyn. Dia mulai berdiri dan hendak ingin duduk didepan Zeyn.
"Enggak ada apa apa Zeyn, mama hanya ingin ke kantor saja." jawab Mila tersenyum setelah sudah duduk di depan Zeyn. Zeyn hanya berdehem saja tanpa tersenyum sedikitpun. Dia mulai fokus ke layar komputernya.
"Itu sarapan yang dibawa Vania ya?" tanya Mila memecah keheningan sambil menunjuk kotak makan yang berada di atas meja yang tadi dibawa oleh Vania.
"Iya ma." jawab Zeyn tanpa menatap Mila.
"Kamu makan ya. Itu tadi mama yang masakin." ujar Mila lagi dan Zeyn hanya berdehem dengan tersenyum tipis. Mila mendengus kesal dengan kedinginan Zeyn.
"Zeyn." panggil Mila pelan.
"Kenapa ma?" tanya Zeyn.
"Vania itu menurut kamu gimana sih?" tanya Mila basa basi.
Zeyn memberhentikan sebentar tugasnya dan menatap Mila dengan kerutan di keningnya.
"Emang kenapa ma? Kenapa tiba tiba membahas tentang Vania?" tanya Zeyn terheran. Dia semakin curiga akan tingkah Mila.
Mila gugup menatap Zeyn yang menatapnya intimidasi.
"Enggak, mama hanya bertanya saja." balas Mila membuang muka sebentar.
"Vania tadi bilang mama suka sama dia dan mama mau kami bersama?" tanyanya menatap Mila tenang.
Mila mengangguk ragu.
"Ya kalau mama sih suka lihat Vania karena dia anak yang baik dan pengertian. Dan menurut mama dia cocok sama kamu. Dia juga sering kan menemui kamu." ujar Mila lagi. Inilah yang menjadi tujuannya datang ke kantor Zeyn, dia ingin membahas tentang ini. Dia sudah berbicara dengan Virgo, sekarang waktunya dia berbicara dengan Zeyn selaku sebagai orang utamanya.
Zeyn yang mendengarnya terdiam sebentar. Dia semakin curiga dengan sikap Mila. Kenapa Mila sangat berambisi sekali membuat dia dan Vania berhubungan dan bersama? Pikirnya.
"Mama suka sama dia tapi Zeyn gak suka. Zeyn hanya anggap Vania sebagai teman saja. Lagian Zeyn gak nyuruh Vania untuk selalu datang kesini kan?" ujarnya tenang menatap lagi reaksi Mila.
Mila diam membisu mendengar jawaban Zeyn. Sulit sekali rasanya berurusan dengan orang seperti ini, pikirnya. Bahkan Mila lebih takut kepada Zeyn dibandingkan kepada papanya Genda.
__ADS_1
"Kamu gak mau coba dulu?" tanya lagi Mila.
Zeyn semakin heran dengan sikap Mila yang terkesan memaksanya.
"Mama tau kan kalau aku gak suka dipaksa?" tanya Zeyn dingin, lebih dingin.
Mila gugup lagi menatap Zeyn. Dia tersenyum masam menatap Zeyn yang sudah tidak lagi menatapnya.
"Mama pergi ya. Mama tadi cuman mau berkunjung saja memastikan sarapan kamu sudah sampai atau belum." ujar Mila pelan sembari berdiri dan langsung menjauh pergi keluar dari ruangan Zeyn.
Zeyn menatap pintu yang sudah tertutup dengan menggeleng pelan. Sementara Mila yang sudah keluar hanya mendengus kesal. Entah keturunan dari mana Zeyn ini sampai sedingin ini, pikirnya.
Ditempat Elena, dia tengah sibuk sekali mengurus kesiapan koasnya. Kenapa? Karena besok dia akan wisuda juga pelantikan. Dia tentu senang dan bahagia akhirnya bisa menjadi dokter, cita citanya yang sangat diimpikannya.
"Selamat ya Elena, kamu akan pelantikan besok." ujar pak Mizan menjabat tangan Elena. Elena membalasnya dengan tersenyum.
"Dan untukmu Sean." ujar Mizan tersenyum menjabat tangan Sean yang juga tersenyum sambil menepuk nepuk bahunya.
"Kalian ini lulusan terbaik saya. Saya bangga kepada kepada kalian." ujar Mizan dengan bangga. Baginya Elena dan Sean ini anak yang patut untuk dipuji. Mereka disiplin, tepat waktu, pandai, bijak, rajin, dan sifat lainnya yang patut dipuji. Mizan yakin jika Elena dan Sean ini akan menjadi orang yang berhasil.
"Ini kalian gak ada hubungan yang lebih serius? Saya lihat kalian ini lumayan dekat dan cocok." tanya Mizan disana. Dia merasa Elena dan Sean ini pasangan yang cocok. Mereka sama sama rajin, pekerjaan sama, pandai, ahk mereka cocok sekali dimatanya.
Elena dan Sean saling melirik dan berdehem canggung.
"Tidak mau pak. Saya maunya sama bapak." ujar Elena tengil.
"Kamu ya Elena!" ujar Mizan berdecak.
"Saya serius pak. Bapak gak mau sama saya?" tanya Elena lagi tengil.
"Elena!" kesal Mizan karena digoda terus. Elena hanya menampilkan wajah polosnya saja. Sean juga ingin tertawa dibuatnya.
"Dan untuk kalian, saya sebenarnya belum bisa melepaskan kalian karena kalian masih butuh bimbingan dan belajar. Saya juga sudah beritahu orang tua kalian namun orang tua kalian terus terusan memohon. Saya tidak tau lagi ingin mengatakan apa, saya hanya mengikuti kemauan orang tua kalian. Namun jangan salahkan saja jika terjadi hal yang tidak diinginkan di kedepan hari." jelas Mizan tegas menatap Fani dan rekannya yang lain.
Fani dan rekannya hanya mengangguk sambil menunduk saja. Elena bisa melihat Fani yang sedari tadi mencuri curi pandang kepadanya dengan tatapan bencinya. Elena hanya menghela nafas saja. Dia sangat sangat heran kenapa Fani terus terusan membencinya.
__ADS_1
"Yaudah kalian urus apa yang harus diurus. Saya ada tugas, jika ada masalah silahkan temui saya. Dan jangan lupakan, saya akan datang ke acara penting kalian." ujarnya tegas namun dengan tersenyum tipis. Setelah mengatakan itu, Mizan segera pergi meninggalkan mereka.
"Elena, ayo ikut aku." ujar Sean setelah Mizan sudah pergi.
Elena melirik sebentar Fani yang menatap mereka dengan wajah merahnya. Dia kemudian menoleh menatap Sean.
"Kemana?" tanyanya heran.
"Udah ayo ikut saja." ujar Sean dengan tersenyum lebar sembari menarik tangan Elena dan mereka langsung pergi.
Fani menatap kepergian mereka dengan emosinya. Dia kemudian mengikuti mereka diam diam.
"Kita mau kemana Sean?" tanya Elena dengan tangan yang masih ditarik tarik oleh Sean. Dia heran karena Zeyn membawanya kearah taman yang sering dikunjunginya.
"Udah ikut saja." ujar Sean disana masih menarik tangan Elena. Dia menariknya lembut ya bukan kuat sampai merah merah.
Sesampainya di taman tempat Elena biasa berkunjung, Sean melepaskan tangan Elena.
Elena menatap heran Sean karena dia yang membawanya kesini. Buat apa? Tidak ada apa apa disini, pikirnya.
"Mau ngapain kesini Sean?" tanya Elena heran.
Sean tersenyum menatap Elena gugup. Dia menarik nafas dalam dalam dan membuangnya kasar untuk meredakan rasa gugupnya.
"Elena." seru Sean pelan. Elena menatap Sean dengan penuh tanda tanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu." ujarnya lagi.
"Katakan saja." ujar Elena disana cepat.
"Sebenarnya.." ujarnya tidak melanjut. Sean membuang muka karena gugup.
"Sebenarnya apa Zeyn." sambung Elena bingung.
Sean kembali menarik nafas dalam dalam. Ini kelemahan terberatnya seumur hidupnya. Kalian tau, dia sudah berlatih panjang untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada Elena.
__ADS_1
Sean mulai kembali menatap Elena serius begitupun Elena yang menunggu nunggu apa yang ingin dikatakan Sean kepadanya.