Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
TATAPAN ANEH


__ADS_3

"Iya dimana gadis nakal itu?" sambung Elora yang merupakan mama dari Wina. Dia dan suaminya Aris sangat menyukai Elena. Dia gadis yang lucu dan nakal menurut mereka. Sangat seru saat bersama Elena. Mereka memang sering keluar bersama dengan keluarga Wilson, karena itu mereka saling dekat.


"Itu dia!" ujar Wina menunjuk Elena yang baru saja datang, dia masih didepan pintu.


"Hey gadis, kemari sini." ujar Aris disana dengan suara garangnya. Yang lain hanya tersenyum lucu saja. Tapi berbeda dengan Nita, dia malah menatap sendu Elena. Dia tau Elena sudah banyak berubah, pasti sulit bagi keluarga Aris untuk menyesuaikan lagi dari perubahan anaknya. Mereka yang mengetahui Elena jahil dan banyak bicara sekarang sudah berubah.


Elena yang mendengarnya diam tetap tak memberikan ekspresi, lalu berjalan perlahan ke arah mereka.


"Hey paman, berhenti terus menggangguku." ujar Elena tanpa menatap Aris. Dia langsung duduk disamping Nita dan langsung mengambil minuman dan roti yang ada di meja.


"Kau harus membayarnya, paman tidak mau tau." ujar Aris lagi menganggu Elena.


"Oh ayolah paman, saat pernikahan kak Wina, paman pasti akan terus mencari ku untuk mengurus segalanya. Paman akan terus berkata, "Elena tolong urus ini lalu tolong awasi itu, benarkan paman?" ujar Elena dengan gaya manisnya mempraktekan dengan gerakan tubuhnya. Semua orang tertawa melihatnya.


Nita kaget, setelah lama tak melihat Elena menampilkan sikap lucunya, akhirnya dia bisa melihatnya kembali. Nita berharap semoga sampai seterusnya, Elena bisa seperti ini lagi.


Bukan karena apa, Elena sudah belajar untuk ikhlas namun terkadang juga pasrah saja. Ketika dia sudah bersikap dengan keduanya, dia bisa kembali bersikap seperti dirinya yang biasanya namun ketika ingatan malam itu tiba tiba terngiang kembali, maka dia memilih diam dan merasakan sakit dari dalam saja.


Acara lamaran selesai, untuk pernikahan, mereka bersepakat agar mempercepatnya. Mereka akan menikah secara sah dalam satu Minggu lagi, dan beberapa harinya lagi adalah hari wisuda Elena. Mereka akan bergerak cepat untuk melakukan persiapan yang dibutuhkan.


Besoknya dirumah sakit, ini merupakan hari terakhir Genda dirumah sakit ini setelah beberapa hari menginap. Besok pagi, dia akan langsung pulang.


Ceklek...

__ADS_1


Elena masuk dengan beberapa alat yang dia pegang ditangannya. Melihat itu, Genda tersenyum. Tentu saja dia tau bahwa Elena dan satu lagi rekannya Sean yang merawat dirinya walaupun terkadang dibantu oleh yang lain dan juga dokter pembimbing mereka. Sementara disampingnya, Mila terus menatap Elena. Elena yang merasa tatapan Mila seperti tidak biasanya, mencoba meliriknya. Akhirnya, mata Elena dengan mata Mila bertemu namun Elena memilih membuang muka saja dan kembali memeriksa Genda.


"Katanya Virgo mau menikah ya Elena?" tanya Genda disana tersenyum. Elena mengangguk dengan tersenyum juga. Tentu saja Genda tau bahwa Virgo dan Elena merupakan satu keluarga. Ingat Virgo merupakan asisten anaknya untuk mengurus perusahaannya, tentu saja dia tau. Dan dia juga pasti tau jika Virgo satu keluarga dengan Elena karena Elena juga pernah mengatakannya.


"Iya pak, Abang Virgo akan menikah satu Minggu lagi." jawab Elena disana sambil terus sibuk melakukan kegiatan pemeriksaannya. Ingat, bagaimanapun Genda ini merupakan dosennya, jadi dia tetap melakukan panggilan seperti biasanya sekalipun diluar dari lingkungan kampus, dia tidak biasa dan canggung kalau memanggil panggilan lain.


"Wah cepat yah, nanti saya datang bersama keluarga saya." ujar Genda disana semangat. Elena yang mendengarnya hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Elena memilih keluar saja namun sebelum keluar dia sengaja melirik kembali Mila dan tepat sekali Mila masih menatapnya. Ini merupakan kedua kalinya mata mereka bertemu.


Saat sudah keluar, Elena masih saja diam di depan pintu sambil terus memikirkan Mila.


"Tatapan wanita itu aneh sekali." gumam Elena. Namun saat kembali berjalan sambil terus memikirkan Mila, Elena tidak sadar jika didepannya ada seseorang dan akhirnya...


Bughh...


Elena mendongak dan melihat siapa yang bertabrakan dengannya.


Deg...


Ekspresi Elena seketika berubah. Tatapan murkah dan benci yang mendalam. Elena langsung menghempaskan tangan seseorang itu dengan kasar. Lalu berlalu pergi sembari menyenggol kasar setengah badan seseorang itu. Dia adalah Zeyn. Zeyn yang baru saja pulang bekerja dan hendak menemui papanya. Zeyn terus menatap kepergian Elena sampai akhirnya tidak terlihat lagi.


"Dia sangat membenciku." gumam Zeyn lalu segera memasuki ruangan papanya Genda.


Elena yang tadinya pergi ternyata pergi ke kamar mandi. Dengan kasar dia meletakkan alat yang dia bawa lalu langsung menghidupkan air untuk membersihkan tangannya. Menggosok kuat menggunakan sabun sampai tangan Elena memerah.

__ADS_1


"Pria menjijikkan! Aku tak sudi dia sentuh sentuh lagi!" gumam Elena dengan mata yang berkaca kaca namun dengan kemarahan yang meluap. Kalian bisa membayangkannya? Atau pernah mengalaminya?


Setelah keluar dari kamar mandi, Elena kembali berjalan keruangannya namun seseorang kembali memanggilnya.


"Maaf." ujar seseorang memberhentikan langkah Elena. Elena menghela nafas lelah. Sebenarnya dia sangat malas untuk berbicara, rasanya tenaganya sudah habis bahkan hanya untuk mengucapkan sepatah kata.


Elena menoleh dan menatap siapa yang memberhentikan langkahnya. Elena menatap seorang wanita yang bisa dikatakan wanita yang sangat cantik apalagi dengan menggunakan makeup yang dewasa disertai tubuh yang ideal yang diimpikan banyak wanita.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Elena pelan tanpa tersenyum sedikitpun. Wanita itu tersenyum tipis.


"Iya, saya ingin bertanya ruangan papa mertua saya yang bernama Genda Mi'an Moleiv dimana ya?" tanya wanita itu dengan suara lembutnya.


Elena terdiam. Apa tadi katanya? Papa mertua?


"Halo." ujar lagi wanita itu karena melihat Elena seperti melamun. Elena yang tersadar segera cepat cepat menjawab.


"Oh, ada disana nona." ujar Elena menunjuk sebuah ruangan. Wanita itu mengangguk.


"Terimakasih." ucap wanita itu langsung pergi kearah ruangan yang ditunjuk oleh Elena.


"Apa dia istri dari pria bajingan itu?" gumam Elena terkejut.


Malam telah menyambut. Berbeda dengan malam malam kemarin yang dihiasi bintang, malam ini cukup dingin dan angin cukup kencang berhembus. Elena sudah bersiap untuk pulang. Tak terasa jam sudah menunjukkan angka sembilan. Elena tidak akan menginap hari ini. Dia akan pulang, apalagi dia sangat lelah hari ini.

__ADS_1


Saat menuju ke parkiran, Elena melihat sekeliling dimana masih cukup banyak orang yang berpulangan dan ada juga yang baru datang. Menuju tempat motornya diparkir, namun tiba-tiba tubuhnya ditarik dan dibawa kesebuah tempat yang cukup gelap. Elena yang ditarik langsung melihat siapa pelakunya.


__ADS_2