
"Hiks hiks." tangis Elena terisak, Yuki juga tidak kalah menangis. Yuki Melepas pelukannya dan menatap dalam Elena. Menatap mata Elena yang terlihat merah dan sembab. Dia juga merasa matanya juga akan sembab nantinya.
Setelah tangisan mereka mereda, Yuki mulai berbicara.
"Kakak tidak menyangka kamu mengalami hal semenyedihkan ini Elena. Maafkan kakak." ujar Yuki menunduk merasa bersalah.
"Kakak tidak salah, Elena yang salah. Elena yang seharusnya minta maaf ke kakak. Maafkan Elena telah membohongi kakak ya." sambung Elena lagi mengusap tangan Yuki.
Yuki masih diam mencerna semua penjelasan Elena yang tadi.
"Sekarang apa keputusan kakak?" tanya Elena pelan, sangat pelan.
"Keputusan apa?" tanya Yuki yang mendengarnya. Apa maksudnya?
"Kakak sudah tau semuanya, kakak akan memecatku kan? Tidak apa apa kak, aku mengerti siapa diriku." ujar Elena menunduk.
Yuki yang mendengarnya langsung mengangkat kepala Elena sembari menatap tajam Elena.
"Siapa yang akan memecatmu hm? Tidak ada yang akan memecatmu, kamu mengerti!" ujar Yuki tegas.
Elena menatap polos Yuki. Apa katanya tadi?
"Kakak tidak akan memecatku sekalipun sudah tau siapa diriku yang sebenarnya?" tanya Elena tidak percaya. Yuki mengangguk tersenyum.
"Kamu memang seperti ini, dari pertama kali kakak bertemu denganmu, kamu tetap sama." sambung Yuki lagi tegas.
"Aku sudah berbohong besar kepada kakak, kakak masih mau nerima aku?" tanya lagi Elena tidak percaya.
"Kamu tidak berbohong atas kemauan dan keuntungan sendiri kan?" tanya Yuki dan Elena mengangguk pelan.
"Yasudah kalau begitu." ujar Yuki mengangkat bahunya sekilas.
Buggh...
"Kakak serius kan?" tanya Elena belum melepaskan pelukannya, dia juga kembali menangis bahagia.
Dia tidak jadi dipecat kan? Ini serius? Dia tidak jadi dipecat? Elena sangat bahagia. Dia pikir saat Yuki selaku bosnya tau yang sebenarnya, maka dia akan membenci dirinya dan memecatnya. Tapi ternyata? Ini diluar dugaan. Dia tidak jadi dipecat. Bahkan Elena bisa merasakan bahwa dirinya masih diperlakukan dengan baik. Elena beruntung bisa bertemu dengan Yuki yang sangat baik dan pengertian. Dia sangat bijaksana karena dia harus mencari tau semua faktanya dulu.
__ADS_1
"Sudah sudah jangan menangis lagi. Kamu tidak kasihan kepada bayi kembarmu hm? Mereka juga pasti sedih ketika mamanya menangis terus." ujar Yuki tersenyum tipis sembari melepas pelukan mereka lembut.
"Kakak." panggil Elena. Yuki langsung menatap Elena lagi.
"Makasih." ujar Elena.
"Buat apa?" tanya Yuki tidak mengerti.
"Elena beruntung sekali bisa bertemu dengan orang sebaik kakak. Terimakasih telah mau mengerti dan masih menerima Elena. Elena berjanji, Elena akan selalu ingat ini dan selalu melakukan yang terbaik untuk kakak." ujar Elena yakin. Yuki yang mendengarnya tersenyum.
"Kamu ini!" sahut Yuki tertawa kecil.
"Kakak benar benar tidak menyangka kamu melewati itu semua sendirian. Kakak saja belum tentu sanggup seperti kamu Elena. Kamu wanita yang kuat dan berani. Kakak kagum sama kamu. Kamu bisa bertahan sampai detik ini." ujar Yuki jujur. Dia memang sangat kagum melihat Elena. Dia tetap bertahan ditengah kesendirian yang diliputi banyak masalah besar.
Elena tersenyum tipis.
"Terkadang Elena juga berpikir hal yang sama kak. Kenapa ya Elena bisa bertahan sampai di titik ini. Padahal, Elena hanya sendiri kak hahah." ujar Elena tertawa kecil.
"Itu karena Tuhan bersama kamu Elena. Dia biarkan kamu mendapatkan hal buruk seperti ini tapi dia juga bantu kamu lewati ini semuanya, makanya kamu bisa bertahan sampai sekarang." Ujar Yuki mengusap tangan Elena.
"Ucapan kakak persis sekali dengan ucapan wanita yang aku temui di pesawat." ujar Elena tersenyum kecut. Semua kata kata Yuki mengingatkan dirinya dengan wanita yang dia temui di pesawat, yaitu orang yang pertama kali tau semua tentang Elena sebelum Yuki yang sekarang.
"Wanita siapa?" tanya Yuki penasaran.
"Wanita yang aku temui di pesawat kak. Dia adalah orang yang pertama kali tau semua tentang Elena termasuk ini semua kak." jawab Elena lebih semangat.
"Benarkah? Berarti kakak orang kedua dong?" tanya Yuki cemberut.
"Ya iya dong kak, kan tadi Elena udah bilang." sahut Elena.
"Iya deh iya." sambung Yuki menatap malas Elena.
"Emangnya kata katanya persis sama seperti kata kata kakak?" tanya Yuki masih tidak percaya. Bisa sesama itu kah?
"Iya kak." jawab Elena.
"Kalau begitu, apa yang kami ucapkan itu memang benar dong." ujar Yuki. Elena hanya diam tersenyum tipis. Dia sangat kuat dan hebat ya, heheh....
__ADS_1
Bukankah kita juga perlu bangga dan memuji diri sendiri?
"Sekarang kamu tidak sendiri lagi. Kita akan hadapi semuanya bersama sama." ujar Yuki lebih tenang dan lembut sembari mengusap tangan Elena lembut.
Elena menatap haru Yuki.
"Benarkah? Aku tidak sendiri lagi sekarang?" tanya Elena terharu.
"Iya dong. Kamu tau gak gimana perasaan kakak yang tau kalau kamu bohongi kakak?" tanya Yuki.
"Kakak pasti marah sama Elena." jawab Elena.
"Bukan itu alasan utama Elena. Kakak hanya kecewa kamu tidak mau terbuka, padahal kan hubungan kita sudah lebih dekat, harusnya kamu jujur karena kakak juga sangat terbuka kepadamu kan." jelas Yuki mengungkapkan perasaannya. Dia memang hanya kecewa saja.
"Jadi kakak masih kecewa sama aku?" tanya Elena takut.
"Enggak lagi kok. Kamu udah jujur semuanya kan ke kakak? Atau masih ada yang kamu sembunyikan?" tanya Yuki tiba tiba teringat jika Elena bisa saja masih menyembunyikan sesuatu.
"Enggak kakak, tidak ada lagi yang Elena sembunyikan dari kakak." ujar Elena jujur.
Tidak ada lagi kan?
"Kalau kamu masih sembunyikan sesuatu hal penting lagi dari kakak, kakak gak akan maafin kamu lagi." ujar Yuki membuang muka. Padahal dalam hatinya berbeda.
"Enggak kakak, Elena sudah jujur." ujar Elena mengalihkan muka Yuki untuk menatap dirinya.
"Yasudah kalau begitu. Sekarang, kalau ada apapun kamu cerita aja sama kakak ya. Asal Elena tau saja, Elena sudah kakak anggap seperti keluarga, adik, dan sahabat kakak sendiri. Jadi, tolong jangan bohongi kakak lagi ya." ujar Yuki lagi serius. Itu memang kenyataannya. Dia tidak berbohong.
"Siap ibu bos." ujar Elena semangat sembari menghormat kepada Yuki menggunakan tangannya.
"Janji?" ujar Yuki mengacuhkan kelingkingnya.
"janji." sahut Elena membalas, mereka saling tertawa kecil.
"Jadi sekarang gimana keadaan keluarga kamu?" tanya Yuki teringat dengan keluarga Elena yang dia tinggalkan.
Elena yang mendengarnya menjadi suram.
__ADS_1
"Entahlah kak, Elena juga sangat merindukan semua keluarga Elena. Mama, papa, Abang, dan semua teman teman Elena." jujur Elena menunduk. Matanya berkaca kaca.
"Kamu tidak ada niat untuk pulang dan jujur semuanya hm?" tanya Yuki. Dia hanya berpikir bahwa dirinya saja yang awalnya tidak siapa siapa Elena bisa menerimanya sekalipun Elena sudah membohonginya, apalagi semua keluarga dan temannya yang sudah mengenal Elena lama dan katanya sangat menyayanginya kan?