Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
AKHIRNYA TERBONGKAR


__ADS_3

Wina mengerutkan keningnya saat sudah memegang benda aneh itu. Sebenarnya ini bukan benda aneh karena dia sudah mengenali benda apa ini namun yang membuat aneh adalah mengapa benda seperti ini ada di kamar Elena? Dan berada di tong sampahnya dia juga?


Wina mengerutkan keningnya mencoba berpikir keras. Pikiran kotor dan tajam terlintas di pikirannya. Wina mencoba menepisnya karena merasa itu tidak mungkin. Dia tidak percaya akan pikirannya sendiri. Namun, pikiran itu seperti tidak ingin terbuang membuat Wina memukul kepalanya sendiri. Wina menatap cermin sembari mengatur nafas untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Ini tidak mungkin. Elena adikku yang baik, dia tidak mungkin melakukan itu. Huh...." gumamnya sembari membuang nafas kasar. Wina memejamkan matanya karena merasa sedikit pening. Wina mencoba menenangkan dirinya agar bisa berpikir dengan jernih.


"Aku akan membuktikannya." gumamnya pelan membuka mata. Karena tidak mau menebak nebak, Wina akan memeriksa dan membuktikannya sendiri.


Apa karena ini, semuanya terjadi seperti ini?


Ditempat lain, disebuah kedai berdesain klasik, dua orang wanita tengah duduk berhadapan. Apa yang membuat mereka duduk berdua seperti ini? Ya, itu karena perjanjian yang telah dibuat.


Siapa lagi kalau bukan Yuki dengan dokter wanita itu. Sehabis kerja, mereka langsung bertemu di tempat yang telah ditentukan. Berakhirlah mereka bertemu di kedai sederhana namun terkesan mewah di dekat rumah sakit tempat dokter itu bekerja.


"Apa yang ingin anda bicarakan nona?" tanya dokter wanita itu memecah keheningan. Dia sedikit gugup merasakan aura mahal Yuki.


Yuki tersenyum tipis mendengarnya. Dia mencoba duduk dengan tegak sambil menatap dalam dokter wanita itu. Dokter itu yang melihatnya bertambah gugup.


"Eum.. saya ingin bertanya kepadamu." ujar Yuki. Dokter itu menatap tanda tanya Yuki.


"Tetapi sebelumnya, kita berkenalan dulu." ujarnya lagi menyambung.


"Saya sudah kenal anda nona." sahut dokter itu cepat.


"Tapi saya tidak kenal kamu." ujar Yuki lagi.


Dokter itu terdiam sembari meneguk saliva kering. Benar juga ya?


"Saya Mira Quanita nona." ujar dokter itu memperkenalkan namanya. Dia tau itu memaksudkan kode agar dia memperkenalkan dirinya.


"Mira." gumam Yuki mengangguk pelan. Nama dokter itu ternyata Mira.


"Baiklah Mira, saya langsung saja. Saya ingin bertanya mengenai Elena, salah satu pasien kamu." ujar Yuki langsung mengatakan tujuannya.

__ADS_1


Mira yang mendengarnya terdiam sebentar mencoba mengingat nama itu. Ahh yaaa...!!


"Elena? Wanita muda yang mengandung itu?" tanya Mira memastikan.


Yuki tersentak kaget saat Mira mengatakan kata kata terakhirnya.


WANITA MUDA YANG MENGANDUNG ITU??


"Wanita mengandung? Maksudmu?" tanya Yuki gelisah.


"Iya nona. Saya hanya mengenal satu orang yang bernama Elena, dan dia juga pasien rutin saya yang sedang mengandung. Apa orang itu yang anda maksud?" jelas Mira.


Yuki membuka tas kecilnya dan mengambil handphonenya dengan terburu buru. Dia cepat cepat membuka galeri yang berisi foto dirinya dan Elena. Mereka memang punya foto berdua.


"Apa orang ini yang kamu maksud?" tanya Yuki cepat.


"Iya nona, ini adalah Elena, pasien rutin saya." ujar Mira mengangguk linglung. Dia heran melihat ekspresi Yuki yang terlihat sangat kaget.


Yuki menutup mulutnya tidak percaya sembari membuang muka.


Mungkin pertanyaan seperti itulah yang dipertanyakan oleh Yuki di dalam benaknya. Mengapa Elena melakukan semua ini? Dia berbohong!


"Ada apa nona? Nona mengenal Elena?" tanya Mira menatap Yuki yang seperti tengah berpikir.


"Saya mengenalnya. Kalau boleh tau, Elena sudah mengandung berapa bulan?" tanya Yuki lagi.


"Dia mengandung anak kembarnya dengan jalan 3 bulan. Baru saja tadi pagi dia melakukan pemeriksaan." jelas lagi Mira.


ANAK KEMBAR? TIGA BULAN?


Yuki benar benar terkejut. Bagaimana bisa dia tidak mengetahui hal ini. Padahal, Elena mengandung sudah jalan tiga bulan. Dirinya adalah dokter kandungan, tapi dia tidak menyadarinya? Astaga!


Yuki tiba tiba teringat dengan semuanya yang dia lihat. Dia sudah beberapa kali melihat Elena mengusap perutnya. Dia juga melihat Elena yang semakin lama semakin sering duduk dan malas untuk bergerak. Dia juga sudah beberapa kali menolak ajakan dirinya untuk keluar. Dan, dia ingat bahwa pakaian Elena selalu pakaian yang terkesan tebal dan dan cukup besar. Itu membuatnya tidak menyadarinya ini!

__ADS_1


"Dia mengandung anak kembar?" tanya lagi Yuki tidak percaya.


"Iya nona." jawab Mira.


"Baiklah, saya hanya bertanya itu. Terimakasih atas penjelasannya dan maaf telah mengganggu waktumu." ujar Yuki lalu setelah mengatakan itu dia langsung menjauh pergi.


Mira yang melihatnya hanya terdiam membisu. Apa yang terjadi? Cuman begini sajakah? Hanya bertanya tentang Elena? Itulah yang ada di pikirannya. Tidak mau pusing, Mira memilih pulang juga. Toh, hari sudah akan gelap.


"Maaf nona, pesanan anda belum dibayar." ujar seorang pelayan yang menghampiri Mira.


Mira menatap pelayan itu heran. Minuman dirinya dan Yuki ternyata belum dibayar?


"Nona." panggil lagi pelayan itu karena Mira tidak menjawab.


"Ahh baik baik, berapa totalnya?" ujar Mira sadar.


"Ini nona." jawab pelayan itu memberikan kertas pemesanan. Mira membayar sesuai harga yang tertera di kertas itu. Lalu setelah membayar, pelayan itu pun pergi untuk kembali berkerja.


"Orang kaya tetapi bayar minuman segini saja tidak mau!" gerutu Mira kesal karena pesanan dibayar oleh dirinya. Padahal, yang mengajak bertemu adalah Yuki kan? Dan juga, Yuki yang lebih kaya dari dirinya kan?


Tetapi kenyataannya, Yuki hanya lupa membayar karena keterkejutan dirinya akan semua kebenaran yang baru saja dia ketahui. Dia ingin cepat cepat menemui Elena untuk bertanya semua ini.


Marah? Tentu saja dia marah. Kesal? Tentu saja dia kesal. Perasaannya seperti meluap luap ingin mendengar langsung alasan kebohongan ini semua!


Didalam mobil, Yuki tak henti hentinya memikirkan Elena dan kebohongannya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasanya ke arah rumah sakit miliknya. Dia berharap Elena belum pulang dari rumah sakit.


Sesampainya di depan rumah sakit, Yuki bertanya kepada satpam yang berjaga tanpa turun dari mobilnya.


"Pak, dokter Elena sudah pulang?" tanya Yuki sedikit berteriak setelah lebih dulu membuka kaca mobilnya.


"Iya dokter, dokter Elena sudah pulang sekitar 15 menit yang lalu." jawab satpam yang berjaga dengan sopan.


Yuki yang mendengarnya menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Baik, terimakasih pak." sahut Yuki juga sopan. Setelah mengatakan itu, dia kembali menutup kaca mobilnya.


Didalam mobil, Yuki kembali berpikir. Dia tidak mungkin menghampiri Elena ke apartemennya. Dia tau, mama, anak, dan suaminya pasti akan khawatir karena dirinya biasanya sudah pulang jam segini, dan lagi pula hari sudah benar benar akan gelap. Yuki memilih untuk membicarakannya besok saja di rumah sakit.


__ADS_2