
"Maksudmu?" tanya Zeyn disana dingin. Degup jantung Zeyn serasa bertambah lebih cepat. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya? Pikirnya.
"Aku juga tidak tau pasti kenapa. Saat aku masih di Paris, adikku Elena saat itu tepat berwisuda pelantikan. Aku dan Wina tidak bisa datang karena keberangkatan kami tertunda. Namun entah apa yang terjadi, saat aku dan Wina pulang, keluargaku mengatakan Elena sudah pergi ke London namun sejak kepergiannnya, dia tidak ada kabar lagi sampai hari ini. Dia seperti hilang bak ditelan bumi. Aku benar benar membutuhkan bantuanmu Zeyn. Keluargaku sangat khawatir dan terus berharap Elena bisa ditemukan. Tolong bantu aku!" jelas Virgo memelas dengan rasa khawatirnya.
Zeyn terdiam mendengarnya. Tangannya terkepal kuat dengan degup jantung yang berdetak cepat. Otaknya berpikir keras mencoba memahami sesuatu, dan pikirannya teringat akan semua yang telah terjadi antara dia dan Elena.
Apa ini ada hubungannya karena peristiwa itu? Dia bunuh diri? Dia melarikan diri? Kemana dia pergi? Pikir Zeyn keras.
Sementara di sudut lain, Vania tersenyum miring mendengar kabar itu. Rasanya hari harinya untuk kedepannya akan lebih berbunga-bunga. Vania menetralkan lagi dirinya dengan menjadi pendengar yang antusias.
"Kau mau membantuku kan Zeyn?" tanya lagi Virgo karena Zeyn yang diam saja. Zeyn tersentak kaget dan mengangguk dengan pelan.
"Bagus kalau begitu. Dan kau tenang saja, aku tidak akan melupakan tugas yang kau berikan kepadaku. Hanya saja, aku berharap kau mengerti bahwa aku akan lebih fokus mencari keberadaan adikku." jelas Virgo tegas. Dia masih ingat tugas yang Zeyn berikan kepadanya. Apa kalian juga masih ingat??
Zeyn masih terdiam dengan pikirannya. Bahkan dia tidak tau maksud Virgo tadi karena dia yang terlalu memikirkan kabar yang baru saja dia dengar.
Virgo melirik Vania yang menatap mereka dan Vania yang sadar akan hal itu berdehem pelan dan membuang muka. Melirik tatapan Virgo yang tak berhenti menatapnya membuat Vania bangkit berdiri.
"Aku pergi ya. Pemotretan ku sebentar lagi akan dimulai." ujar Vania ragu namun setelah mengatakan itu, dia langsung menjauh pergi.
...****************...
"Benarkah?" tanya seorang wanita kaget mendengar kabar yang baru saja dia dengar.
"Iya Tante, wanita itu pergi dan tidak ditemukan. Tidak ada satupun yang tau dimana keberadaannya." ujar seorang wanita lain yang lebih muda. Dia adalah Vania dan yang bersamanya adalah Mila.
Vania langsung memberitahu kabar bahagia ini kepada tantenya tercinta. Mereka akan sama sama bahagia jadinya, pikirnya.
__ADS_1
"Bagus kalau begitu. Ternyata wanita malang itu mengikuti apa yang kita katakan. Dia ternyata sepenakut itu. Semoga dia tidak ditemukan lagi, kalau bisa semoga saja dia sudah tiada." ujar Mila dengan sinisnya mengingat Elena yang baginya adalah seorang hama.
"Kau benar tante." sahut Vania lagi tersenyum miring.
"Sekarang, tidak ada lagi penghalang mu dalam mendapatkan Zeyn sayang." ujar Mila lembut menatap Vania. Vania yang mendengarnya tersenyum malu malu.
...****************...
Tak terasa sebulan telah berlalu. Semuanya benar benar sangat berubah karena kejadian itu. Kalian tau apa saja perubahannya?
Elena berjalan dengan tenang ke arah ruangannya. Dia tersenyum kepada setiap orang yang menyapanya. Di rumah sakit ini, dia dikenal sebagai dokter yang cantik sekaligus pandai. Dia cukup terkenal.
"Selamat pagi Elena." sapa Yuki disana tersenyum manis dengan pakaian rapinya.
"Selamat pagi kak." sahut Elena lagi. Dia sekarang sudah tidak ragu lagi memanggil sebutan kakak kepada Yuki.
"Bagaimana, kau sudah jadi membeli motornya?" tanya Yuki disana semangat.
Elena mengangguk tersenyum.
"Iya kak." jawabnya.
"Ahh bagus kalau begitu. Kau harus membonceng ku dengan motor barumu nanti." ujar Yuki bercanda. Elena tertawa kecil mendengarnya.
"Tetapi setelah kakak lihat, kamu makin gemuk saja ya." ujar Yuki memperhatikan badan Elena yang jauh lebih berisi.
Elena terdiam memudarkan senyumnya.
__ADS_1
"Elena memang lebih banyak makan sekarang kak." ujar Elena lagi kembali tersenyum paksa. Tentu kalian sudah tau jika dia berbohong.
Yuki mengangguk saja mendengar jawaban Elena.
"Yasudah, Elena ke ruangan Elena dulu ya kak." ujar Elena disana. Yuki mengangguk lagi tersenyum.
Sebenarnya, Yuki masih penasaran dengan jalan hidup Elena. Baginya, Elena sangat tertutup dan jarang membicarakan tentang dirinya sendiri. Dia pasti akan menjauh jika ditanya yang bersangkutan dengan hidupnya. Yuki benar benar curiga.
Elena sudah melayani beberapa Pasien. Sekarang adalah jam istirahat. Elena duduk di dekat jendela tenang setelah sehabis memakan bekal yang dia bawa.
"Kamu sudah sebulan diperut mama nak." gumam Elena mengusap perutnya yang mulai lebih berisi.
Elena sudah mengeceknya langsung kerumah sakit namun bukan dirumah sakit ini. Dirumah sakit ini, dokter kandungan adalah Yuki sendiri jadi tidak mungkin Elena mau memeriksa bersama Yuki. Dia tidak ingin Yuki tau. Kalian tau kenapa? Karena dia bisa saja dipecat karena hamil namun dia sudah pernah mengatakan bahwa dia belum menikah.
Itulah yang Elena pikirkan. Bagaimana kelanjutan hidupnya jika Yuki tau jika dia hamil tanpa suami. Dia bisa saja dipecat. Dia bisa dianggap wanita yang tidak baik. Bagaimana ini? Pikirnya. Cepat atau lambat, tentu semuanya akan terbongkar. Elena menyesal mengatakan bahwa dia belum menikah. Harusnya, dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dan suaminya bekerja di kota lain atau dia bisa saja mengatakan suaminya meninggal kan? Entahlah, Elena bingung.
Elena sudah memeriksa kehamilannya dan ternyata anak yang dia kandung adalah anak kembar. Elena bingung kenapa dia bisa mengandung anak kembar padahal di keluarganya tidak ada yang kembar, atau ini karena di keluarga Zeyn si pria brengsek itu ada yang kembar? Atau memang ada faktor lain? Entahlah. Elena hamil anak kembar dua. Dan jenis kelaminnya adalah sepasang, laki laki dan perempuan. Elena tidak tau mau berekspresi seperti apa namun dia tetap senang dan sangat bahagia.
Nanti mereka akan bertiga kan? Hahaha.
Ceklek..
Elena yang tadinya mengusap perutnya tersentak kaget saat pintu ruangannya tiba tiba terbuka. Ternyata itu adalah Yuki yang datang memasuki ruangannya. Yuki terdiam sebentar setelah sekilas melihat Elena mengusap perutnya.
"Ada apa kak?" tanya Elena berdiri dengan cepat.
Apa tadi Yuki melihat dirinya mengusap perutnya sendiri?
__ADS_1
Yuki menggeleng tersenyum pura pura tidak tau apa apa. Dia mendekati Elena dengan semangat.
"Elena, kamu bisa kan menemani kakak untuk berbelanja. Mama kakak ingin memasak banyak dirumah dan dia mau kakak berbelanja. Kakak tidak punya kawan dan kakak akan mengajakmu. Kamu mau kan?" tanya Yuki semangat. Memang tujuan awalnya keruangan Elena adalah untuk mengajak Elena menemaninya berbelanja.