
"Virgo cuti ya?" tanyanya basa basi.
Zeyn berdehem sebagai jawaban. Vania menghela nafas berusaha untuk sabar. Sulit sekali rasanya jika diposisi seperti ini dia yang mengejar, apalagi wanita yang mengejar pria. Vania mengabaikan apa kata orang demi bisa mendapatkan Zeyn.
"Berapa lama?" tanyanya lagi.
Zeyn melirik Vania karena terus bertanya.
"Seminggu, kenapa?" tanyanya malas.
"Em itu, kau tidak ada niat untuk mencari pengganti sementara? Untuk membantumu?" tanyanya ragu.
"Maksudmu?" tanya Zeyn karena merasa Vania punya maksud tersendiri.
"Maksudku, menunggu Virgo yang pergi, aku siap kok untuk menggantikan posisinya, hitung hitung untuk bisa membantumu." jelasnya tersenyum.
Zeyn yang mendengarnya membuang muka malas. Wanita ini benar benar kehilangan akal sehatnya! Pikirnya.
"Saya katakan untuk pertama dan terakhir kalinya. Saya tidak ada niat mencari pengganti Virgo sekalipun dia akan pergi untuk sementara. Saya punya banyak karyawan yang bisa membantu saya, jadi saya tidak perlu lagi mencari yang baru." jelasnya dingin. Harus seperti ini, jika tidak Vania akan terus bertanya.
Vania mendengus kesal lagi sembari mengepalkan tangannya. Jika bukan karena rasa cintanya, tidak mungkin dia bersabar sejauh ini. Hilang sudah harga dirinya di depan Zeyn.
"Vania aku ingin bekerja, pekerjaanku sangat banyak, jadi bisakah kau keluar?" tanyanya menatap Vania dingin.
"A..apa Zeyn?" tanyanya nanar. Dia diusir?
"Iya keluar Vania!" serunya lebih jelas.
Vania semakin emosi dan langsung bangkit berdiri dengan kasar lalu berjalan dengan cepat keluar.
"Lihat saja nanti Zeyn!" gumamnya dengan penuh amarah.
"Wanita ini." gumam Zeyn menggeleng menatap kepergian Vania.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Malam telah menyambut. Kediaman Wilson sangat ramai. Semuanya berkumpul dengan riang dan senang.
"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi ya Bita." ujar Nita tersenyum senang sembari terus merangkul Bita.
Keluarga Bita sudah sampai dengan keluarga Wina. Ternyata Bita merupakan teman sekolah Nita dulunya, tetapi kenapa ya mereka tidak bertemu di pesta? Dan ternyata juga Edward juga sempat bersahabat lama dengan Brayen yang juga ikut. Semuanya benar benar tidak menyangka. Keluarga Wina juga sangat kaget mengetahuinya.
__ADS_1
"Apalagi aku Nita, aku tidak menyangka. Kau masih ingatkan bagaimana kita bolos sewaktu SMA? tanya Bita semangat.
"Aku masih ingat Bita, kita memanjat tembok yang sangat tinggi biar bisa bolos kan? Trus kita sering makan bakso di kantin belakang." balas Nita masih mengingat masa masa indah sekolahnya bersama Bita. Mereka ini sahabatan sewaktu sekolah hanya saja entah bagaimana akhirnya mereka putus kontak.
Semuanya hanya mendengar dengan seksama. Tania yang mendengar orang tuanya begitu langsung angkat bicara.
"Oh berarti mama sama mama kakak cantik dulu sering bolos ya." ujar Tania dengan gemas. Melirik Nita dan Bita dengan mata sipitnya.
"Iya Tania. Mama dulu suka bolos sama mama kakak cantik." sambung Bita.
"Ih kalian enggak malu ya, Tania aja masih kecil gak pernah bolos!" ujar polos Tania.
Semuanya merasa gemas melihat Tania.
"Dan bisa bisanya Elena sudah kenal lebih duluan ya." ujar Wilson terheran. Semuanya sudah diceritakan mengenai pertemuan dan perkenalan keluarga Tania dengan Elena.
"Iya, anak saya sangat suka dengan Elena." sambung Aditya melirik Tania yang berada di pangkuan Elena. Elena hanya tersenyum saja.
"Tania jangan mau sama dia, dia itu kakak nakal." ujar Aris menakuti Tania.
Tania mendongak menatap Elena. Elena yang melihatnya menatap tajam Aris.
"Kyaaa....om!" seru kesal Elena kepada Aris.
"Dan bagaimana bisa kalian juga sudah kenal Brayen?" tanya Elora melirik Brayen dan Edward yang duduk bersampingan.
Edward dan Brayen tersenyum.
"Kami ini juga dulu teman sekolah tante dan kami sempat sahabatan. Cuman aku pindah sekolah sehingga kami jadinya putus kontak." jelas Brayen dan Edward mengangguk menyetujui.
Semuanya kaget.
"Loh sahabatan juga toh?" tanya Wina kaget.
Semuanya tertawa kembali dengan banyak perbincangan yang seru dan mengundang banyak tawa. Selesai makan bersama, mereka kembali berbincang satu sama lain.
Elena hanya duduk sendiri memandang bintang bintang yang menerangi malam. Disaat semuanya sibuk berbincang, dia malah sendiri. Dia merasa sangat tenang seperti ini. Bahkan ditempat keramaian pun dia merasa sangat kesepian.
Itulah arti dari sebuah perasaan kesepian. Jika punya banyak teman sekalipun, punya banyak harta, keluarga yang lengkap, tidak soal usia baik muda ataupun tua, kesepian bisa dirasakan siapa saja dan itu tidak memandang tempat. Semua orang pasti pernah merasakan kesepian, hanya kadarnya saja yang berbeda. Tetapi sebenarnya, kesepian itu hanyalah sebuah perasaan, dan perasaan dipengaruhi oleh cara berpikir. Elena tau pasti itu. Hanya saja, memang kenyataannya bahwa perasaan dan cara berpikir Elena sedang hancur atau tidak stabil.
"Halo." ujar seseorang yang datang dari arah samping.
__ADS_1
Elena yang tadinya sedang nikmatnya menikmati indahnya malam melirik kearah suara.
"Eh Brayen." ujarnya disana ketika melihat Brayen yang menghampirinya.
"Boleh duduk?" tanya Brayen tersenyum. Elena mengangguk.
"Tania mana?" tanya Elena melirik kesekitar.
"Dia ada sama Wina dan suaminya." jawab Brayen yang sampai sekarang masih suka lupa namanya Virgo.
"Maksud kamu abang aku Virgo?" tanya Elena menaikkan alisnya. Brayen mengangguk tersenyum canggung.
"Aku masih suka lupa namanya." ujar Brayen ragu. Takut Elena kesal kepadanya.
Elena tertawa kecil melihatnya. Bisa bisanya nama abangnya sulit dikatakan, padahal cuman lima huruf loh...padahal juga Virgo itu seperti zodiak zodiak itukan hahhaaa
"Kapan wisudanya?" tanya Brayen menatap Elena.
"Tinggal beberapa hari lagi." jawab Elena tersenyum tipis. Brayen mengangguk pelan mendengarnya.
"Nanti aku diundang ya." ujar Brayen lagi. Elena tersenyum mengangguk.
"Kenapa gak nyusul kak Wina? Kalian kan sahabatan, kamu juga sudah mapan." tanya Elena memecah keheningan yang sempat terjadi.
Brayen melirik Elena dengan tanda tanya.
"Maksud kamu menikah?" tanyanya mengerutkan keningnya. Elena mengangguk menunggu jawaban.
Memang wajar saja Elena berpikir seperti itu. Secara Brayen adalah pria yang bisa dikatakan sangatlah tampan. Kulit putih bersih, hidup mancung, mata yang indah, senyum yang manis, dan dia juga masih muda, oh iya dia sudah menjadi dosen loh. Tidak mungkin tidak ada yang mau kepadanya kan?
Brayen menghela nafas berat mendengar pertanyaan Elena. Menatap kosong kedepan dan mulai berbicara dengan berat.
"Kisah percintaan saya cukup miris." ujarnya berat. Elena bisa merasakan itu.
"Miris kenapa?" tanya Elena.
"Sebenarnya kalau bisa dibilang saya yang akan lebih dulu menikah dibandingkan Wina. Tapi.." ujarnya tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
Elena kaget menunggu ucapan Brayen. Lalu kenapa dia masih sendiri sampai sekarang?
"Tapi kenapa?" tanya Elena penasaran.
__ADS_1
"Kekasih saya pergi meninggalkan saya. Kami sudah tunangan dan akan menikah namun tiba tiba dia menemui saya dan mengatakan dengan terang terangan bahwa hubungan kami harus berhenti dan tidak jadi menikah. Padahal saya sangat mencintainya. Kami sudah berpacaran selama lima tahun, namun entah mengapa dia tega melakukan itu." jelasnya dengan berat. Rasanya Brayen ingin menangis mengingat nasibnya.