
Bukan tidak bisa dia mencari pengganti yang baru, namun hatinya masih tetap mengingat dan mencintai kekasihnya itu.
Elena diam mendengarnya. Simpati, itulah yang dirasakan Elena. Dia jadi tidak enak bertanya seperti tadi, namun dia juga penasaran.
"Sudahlah, itu juga sudah terjadi cukup lama." ujar Brayen dengan tegas.
"Maaf ya udah bertanya seperti tadi, aku tidak tau." ujar Elena tidak enak. Brayen mengangguk tersenyum masam.
"Kamu sendiri kenapa?" tanya balik brayen.
"Hey, kakak keduaku saja belum punya calon apalagi aku." ujar Elena mencoba memecah situasi yang tegang. Dia tertawa kecil mendengar pertanyaan Brayen.
"Kamu tidak harus sama dengan kakak keduamu kan? Bukan berarti karena dia belum punya calon, kamu juga harus seperti itu kan?" tanya Brayen melirik Elena malas.
Elena mengangguk pelan dan tersenyum saja.
"Iya sih. Tapi aku emang belum ada kekasih." ujar Elena jujur.
"Berpacaran?" tanya lagi Brayen.
"Sekarang enggak, tapi emang sih pernah waktu masa masa sekolah lah." balasnya ingin tertawa mengingat masa pacaran sekolahnya dulu. Hanya sebentar saja haha...
Brayen tersenyum melihat Elena.
"Kenapa gak cari pasangan saja? Kamu cantik dan hebat." ujar Brayen memuji Elena. Baginya, Elena memang cantik dan keren sekali dimatanya. Dia itu dosen, jadi dia tau bahwa Elena pasti mahasiswi yang pandai sehingga secepat itu wisuda pelantikan.
"Kisah asmara kita sebelas dua belas. Bahkan lebih miris aku." ujarnya Elena tersenyum masam.
Brayen melirik Elena tidak percaya. Masa iya? Pikirnya.
"Maksudmu?" tanya Brayen melirik dalam Elena.
Elena menghela nafas pelan sambil tersenyum kecut.
"Aku memang tidak memiliki kekasih, tapi aku tau tidak akan ada yang mau bersamaku." ujarnya berkaca kaca. Brayen semakin bingung namun melihat mata Elena yang berkaca kaca membuat Brayen yakin bahwa Elena juga pasti mempunyai masalah yang berhubungan dengan kisah asmara.
__ADS_1
"Tapi kenapa? Itu tidak mungkin." ucap Brayen bingung.
"Sudahlah, lupakan saja." sahut Elena. Brayen hanya diam saja tidak mau memperpanjang. Mungkin Elena belum siap untuk bercerita, pikirnya.
"Aku ingin bertanya lagi." ujar Elena mengalihkan pembicaraan. Brayen melirik Elena.
"Bertanya apa?" tanya Brayen.
"Kau adik tante Bita kan?" tanyanya dan Brayen mengangguk membenarkan.
"Tante bita seumuran dengan mamaku, tapi Tania sebagai anaknya masih kecil sementara anak mamaku sudah menikah. Aku hanya bingung kenapa begitu berjarak." ujar Elena. Dia memang bingung ketika mengamati ini semua. Bisa dikatakan Bita dan Aditya sudah mulai tua, namun anaknya masih sangat kecil.
Brayen yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Kalau aku memberitahumu, kau harus berjanji untuk tidak memberitahu Tania." ujar tegas Brayen. Elena mengangguk dengan yakin.
"Sebenarnya Tania bukan anak kandung kak Bita dan suaminya. Dia hanya anak adopsi. Kakakku tidak bisa memiliki anak karena masalah pada kesehatannya. Jadinya mereka memilih untuk mengadopsi saja." jelas Brayen dengan pelan. Elena terkejut mendengarnya. Sebenarnya dia juga sempat berpikir seperti itu karena mengamati jarak yang sangat jauh, namun dia belum ada pembuktian.
"Oh begitu." sahut singkat Elena. Namun dia tau bahwa Tania pasti sangat disayangi oleh mereka, karena dia bisa melihat itu.
"Loh kalian ternyata bersama ya?" tanya Bita melihat Elena dan Brayen yang beriringan berjalan masuk. Brayen dan Elena tersenyum tipis saja.
"Kalian juga sudah saling kenal lama seperti kami?" tanya Nita namun mereka menggeleng.
"Enggak kok tante, kami juga baru baru ini kenal sewaktu bersama Tania." jawab Brayen dan Elena mengangguk menyetujui. Mereka hanya mengangguk saja mendengar jawaban Brayen.
"Kamu suka Elena Bray?" tanya senang Wina. Jika iya, dia sangat senang. Akhirnya, Brayen bisa melupakan wanita yang telah meninggalkannya dan yang membuat dia senang lagi adalah sahabatnya menyukai adik iparnya. Itu suatu kebahagiaan untuknya.
Semuanya menatap Brayen dan Elena. Brayen dan Elena juga saling melirik bingung.
"Enggak win, kami hanya berbincang saja tadi." jawab Brayen.
"Iya kak." sambung Elena.
"Kalau iya juga gak apa apa, kami senang kok." ujar Wina menyahut dengan senyumnya. Virgo yang disampingnya hanya diam dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
Semuanya tersenyum mengangguk pelan. Menurut mereka juga tidak apa apa kalau Elena dan Brayen bersama. Sama sama bisa dikatakan mapan dan masih sendiri juga.
"Kamu ini! Tania mana?" tanya Brayen mengalihkan pembicaraan.
"Tania sudah tertidur. Jadi kita bermalam disini saja semuanya. Kebetulan juga, malam sudah sangat larut." jawab Bita disana. Tania memang sudah tertidur dan mereka sudah bersepakat untuk bermalam disini. Mereka sudah seperti satu keluarga jadinya.
"Kita juga bisa sama sama melihat kepergian mereka besok, karena mereka akan berangkat lebih cepat." ujar Elora menyambung. Semuanya mengangguk.
"Yasudah ayo Bray, kita tidur di kamarku saja." ujar Edward merangkul Brayen dan berakhirlah dengan semuanya tertidur dengan pasangannya masing masing. Kebetulan juga rumah Elena ini cukup besar dan terdapat banyak kamar tamu.
\*\*\*\*\*\*\*
Suara kicauan burung sudah mulai terdengar. Semakin lama gelap menjadi terang dengan matahari yang mulai terbit.
"Kami pergi ya semuanya." ujar Virgo tersenyum dengan Wina yang berada disampingnya. Mereka akan pergi berdua dengan diantar sopir ke bandara. Keluarga tidak perlu ikut untuk mengantar mereka ke bandara karena permintaan mereka.
"Kalian hati hati ya. Dan selamat menikmati bulan madu." ujar Nita disana tersenyum diikuti yang lain.
"Jangan lupa dipakai ya kak." ujar Elena tengil. Dia memang memberikan hadiah berupa baju dinas kepada Wina di hari pernikahannya.
"Iya iya." jawab Wina tersenyum malu.
"Kakak, jangan lupa belikan Tania oleh oleh ya." ujar Tania disana senang.
"Iya sayang." jawab Wina mengusap kepala Tania.
"Nanti kami beli banyak ya." ujar Virgo ikut mengusap kepala Tania. Tania mengangguk dengan senangnya.
"Yasudah kami pergi ya, dada!" seru mereka bersama saat sudah masuk mobil dan mulai menjauh pergi. Semua orang melambaikan tangan mereka dengan senyuman haru.
Sebenarnya Zeyn menawari Virgo untuk menaiki jet pribadinya saja, namun Virgo menolaknya karena tau bahwa Wina pasti akan menolaknya. Wina ini tipe wanita yang lebih menyukai kesederhanaan. Dia akan lebih suka seperti orang orang yang pada umumnya. Walaupun sebenarnya di jet pribadi mereka bisa bebas, namun Wina tetap tidak menyukainya. Baginya lebih terkesan romantis dan lebih nyaman dengan mengunakan pesawat umum saja.
"Yasudah kami pulang ya Nita Wilson. Kita akan berkumpul lagi saat mereka sudah pulang." ujar Elora memeluk Nita.
"Kami juga berterimakasih ya, sudah bisa bermalam disini dan menikmati indahnya berkumpul bersama." sambung Bita memeluk Elora dan Nita bergantian.
__ADS_1
Akhirnya berakhirlah mereka yang saling berpamitan dan berpelukan. Keluarga Wilson juga sudah mengundang keluarga Bita untuk menghadiri hari wisuda Elena yang sebentar lagi, kalau keluarga Elora dan Aris sudah pasti datang.