
Elena terdiam mendengarnya. Dia bisa melihat Yuki berkata dengan tegas dan seperti tidak ada kebohongan di kata katanya. Namun tetap saja, Elena masih merasa takut. Baginya, hati manusia bisa berubah-ubah kapan saja!
"Em tapi maaf kak, Elena benar benar belum siap." ujar Elena tertunduk.
"Tapi keluarga kakak udah pengen banget ketemu kamu Elena. Kakak sering cerita tentang kamu kepada mama kakak, suami kakak, dan anak kakak juga. Mereka ingin melihat kamu Elena." jelas Yuki jujur. Selama kedekatannya dengan Elena, tentu keluarga Yuki tau itu. Setiap Yuki ingin menemani Elena, keluarganya pasti bertanya, termasuk Arihta dan xior. Mereka sangat ingin melihat seseorang yang sering diceritakan Yuki dengan sangat bersemangat.
Elena terdiam mendengarnya. Dia mendengar itu juga terharu, namun dirinya memang benar benar belum siap.
"Maaf kak, aku belum siap untuk sekarang." sahut Elena lagi lagi menolak.
Yuki memejamkan mata sebentar mencoba untuk mengerti.
"Baiklah, kakak akan tunggu sampai kamu merasa siap." ujar Yuki lembut dengan senyuman manisnya.
Elena yang melihatnya membalas senyuman Yuki dan langsung memeluknya.
Buggg...
"Terimakasih telah mau mengerti kak." bisik Elena di pelukan Yuki. Yuki mengangguk mengelus rambut halus milik Elena.
...****************...
"Mas, sudah pulang." ujar Wina menyambut Virgo yang baru saja pulang. Ingat, hari sudah gelap.
"Iya sayang, kamu ada keluhan?" tanya Virgo lembut sembari memeluk dan mengecup kening Wina.
"Tidak ada mas, hanya sedikit masih mual saja." jawab Wina tersenyum.
"Yasudah, kamu harus jaga kesehatan dan ikut saran dokter ya." ujar Virgo dan Wina hanya mengangguk.
"Ayo mas, kita gabung sama mama dan papa sebentar." ujar Wina menarik lembut tangan Virgo ke arah ruang tengah yang diisi oleh Nita, Wilson, dan ada Edward juga disitu.
"Edward, tumben sekali kamu disini. Bukankah pekerjaanmu jauh lebih penting daripada keluargamu?" tanya Virgo sembari berjalan mendekati orang tuanya yang duduk dengan tenang.
__ADS_1
Edward yang mendengarnya terdiam menatap Virgo yang menatapinya dengan sinis. Edward tau, kakaknya ini pasti kesal kepadanya karena dirinya jarang di rumah dan sibuk dengan pekerjaannya. Tapi kalian tau apa saja sebenarnya pekerjaan nya? Emm, biarkan itu menjadi rahasia Edward saja.
"Sudah mas." bisik Wina. Mereka duduk tepat disamping Nita dan Wilson. Nita dan Wilson hanya diam saja menatapi anak anak mereka.
"Kenapa kamu ada disini? Urus saja pekerjaanmu yang jauh lebih penting itu atau kalau tidak, kamu sudah memiliki kekasih sehingga waktumu habis bersamanya?" tanya Virgo sinis dengan senyuman miringnya menatap Edward.
"Virgo, sudah!" tegas Wilson. Wina yang merasa aura semakin mencekam dan semakin panas mencoba untuk mempercepat waktu dan mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Virgo berlama lama dekat dengan Edward karena pasti akan menimbulkan pertengkaran yang semakin sengit.
"Mas, sudah! Jadi, gimana jadinya keputusan kamu?" tanya Wina mengalihkan pembicaraan. Nita dan Wilson yang mendengar pembahasan itu mulai semakin serius.
Virgo yang mendengarnya menghela nafas.
"Aku sudah membuat keputusan setelah membahas ini dengan Zeyn atasanku. Dan, aku memutuskan kalau pencarian akan terus berlangsung tetapi tanpa diriku." ujar Virgo.
"Maksudnya mas? Bagaimana bisa pencarian terus berlangsung tapi tanpa kamu? Lalu siapa yang memimpin pencarian itu selama di London?" tanya Wina bingung.
"Yang memimpinnya adalah Zeyn. Sebenarnya, aku tidak enak tapi dia sendiri yang memberiku saran ini. Aku mengatakan kepada dirinya kalau aku merasa bingung. Aku ingin ikut mencari Elena ke London namun aku juga tidak bisa meninggalkanmu yang sedang hamil. Dia meyakinkanku bahwa dia bisa mengendalikan semuanya. Dia akan berangkat besok." jelas Virgo menjelaskan.
"Tapi kan aku sudah bilang aku dijaga oleh banyak orang mas, mas pergi aja ya." ujar Wina. Yang lainnya hanya diam saja memperhatikan mereka.
Wina dan yang lainnya hanya terdiam mendengarnya.
"Ma!" panggil Wina pelan. Dia takut yang lainnya akan tersinggung dan akan membenci dirinya dalam diam.
"Tidak apa apa sayang, ini mungkin keputusan yang terbaik." ujar Wina tersenyum sembari mengangguk pelan. Dia yakin kepada Virgo, bahwa dia pasti akan selalu memberikan yang terbaik.
"Dia sangat baik kepada keluarga kita, papa tidak habis pikir." ujar Wilson angkat bicara. Dia kadang sangat terheran mengapa ada orang yang bukan bagian dari keluarga mereka bisa melakukan banyak pengorbanan seperti ini. Dia tau boss dari Virgo bukan orang yang sembarangan, tapi kenapa dia rela melakukan semua ini? Ntahlah...
Di arah lain, Edward malah membuang muka saat Wilson mengatakan itu semua. Dia terlihat mengigit bibir bawahnya dan menggoyangkan kakinya.
Virgo tak sengaja melihat itu. Dia menatap Edward dengan dengan tatapan intimidasi.
"Ada apa denganmu? Kau tau sesuatu hal?" tanya Virgo tegas.
__ADS_1
Edward menghentikan goyangan kakinya dan menelan Saliva kering.
"Tidak kak." jawab Edward singkat.
"Cih.. bagaimana kau tau, kau saja sibuk selalu dengan pekerjaanmu itu." ujar Virgo sinis. Wina menghela nafas melihat pertengkaran kecil itu.
"Sudah, bawa saja istrimu ke dalam kamar. Dia harus istirahat Virgo." ujar Wina melerai mereka.
"Ayo sayang, kau harus istirahat." ujar Virgo bangkit berdiri dan segera pergi bersama Wina.
"Edward, kau tidak sibuk lagi?" tanya Nita datar.
Edward terdiam dan menggeleng sebagai jawaban. Dia tau semua orang rumah pasti kesal kepadanya karena dia terlihat tidak peduli dengan masalah yang terjadi. Tapi benarkah seperti itu? Kita lihat saja nanti.
...****************...
"Sayang, Zeyn kapan sampainya?" tanya Yuki sembari memasang dasi Xior yang ingin pergi berangkat kerja.
"Kemungkinan besar sore nanti sayang." jawab Xior lembut.
"Yaudah, kamu usahakan cepet pulang ya, aku juga begitu nanti." ujar Yuki lagi.
"Iya sayang." jawab xior menyetujui.
Tidak mungkin Zeyn datang berkunjung namun tidak ada yang menyambutnya kan? Dia datang tidak sekali setahun, tapi bisa sekali dalam lima tahun, mereka harus menyambutnya!
Waktu terus berlalu, di rumah sakit, Yuki menemui Elena yang baru saja melakukan pemeriksaan kepada pasien.
"Elena." panggil Yuki.
"Ada apa kak?" tanya Elena sembari menyusun semua peralatannya.
"Kakak mau izin pulang duluan, kamu bisa urus semuanya kan?" tanya Yuki. Ini bukan pekerjaan berat, Yuki hanya meminta Elena untuk memastikan pekerjaan tetap berlangsung dan mengamankan pekerjaannya, itu saja.
__ADS_1
"Emang kakak mau pergi?" tanya Elena heran.