Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
PESAN TERAKHIR


__ADS_3

Keesokkan harinya, kediaman Wilson benar benar digemparkan dengan satu pesan yang membuat mereka seisi rumah gelisah dan khawatir. Mereka sudah menunggu nunggu kabar dari Elena namun saat bangun pagi dan membuka ponsel mereka masing masing, Elena hanya mengirim satu pesan yang membuat mereka bingung dan bertanya tanya.


"Apa maksud Elena ini Edward?" tanya Nita khawatir.


"Apa maksudnya nak?" tanya lagi Wilson.


Edward terdiam. Dia menggeleng pelan. Kepalanya benar benar terasa sangat berat.


"Aku tidak tau ma pa. Tetapi Elena sepertinya mengirimkan pesan seperti ingin meninggalkan." jawab Edward pelan. Dia benar benar sudah mencoba memahami pesan dari Elena ini. Sewaktu bangun dan hendak ingin memeriksa kabar dari Elena, dia hanya melihat satu pesan dari Elena yang isinya benar benar membuatnya terkejut.


Kalian tau apa pesannya?


Wilson membaca pesan dari Elena yang berisi "Papa jaga kesehatan ya." Lalu Nita yang mendapatkan pesan dari Elena yang berisi "Aku sayang mama." Dan Edward yang mendapatkan pesan "Aku berharap abang segera menikah ya." Mereka semua menatap pesan dari Elena dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksudnya! Tidak mungkin Elena meninggalkan kita." ujar Nita kuat sembari mengeluarkan air matanya yang jatuh.


Wilson mendekat menenangkan Nita. Edward yang melihatnya semakin pusing. Dia kembali menatap pesan Virgo yang mengatakan bahwa mereka sudah berada di perjalanan untuk pulang.


Dia bertanya tanya, Apakah Virgo sudah tau hal ini? Apa dia juga mendapatkan pesan dari Elena? Namun Edward tidak mau bertanya secara tidak langsung. Mereka akan berbicara saat Virgo sudah pulang nanti.


"Abang Virgo dan kak Wina sedang dalam perjalanan. Kita tunggu sampai mereka pulang ya ma pa. Mereka mungkin tau maksud ini semua." ujar Edward mendekati Nita dan wilson. Dia tidak tega melihat Nita yang terus menangis dari semalam. Dia benar benar khawatir karena Elena yang tidak ada kabar lalu sekali ada kabar hanya mengirim satu pesan aneh saja. Padahal isi chat dan panggilan mereka sudah puluhan, namun Elena hanya membalas dengan satu pesan. Bukankah ini aneh?


Edward tentu sudah melacak keberadaan Elena dan terus mengirimkan pesan dan menelponnya namun semuanya benar benar nihil. Itu juga yang menjadi kecurigaannya, kenapa Elena membokir semuanya? Bahkan dia tidak bisa melacak keberadaan Elena.


Ditempat lain, orang yang di dibicarakan sedang asyik merapikan dirinya di depan cermin yang cukup besar. Ya itu Elena. Dia akan pergi kerumah sakit tempat dia akan bekerja. Dia akan mengkonfirmasi bahwa dia akan mulai bekerja.

__ADS_1


Setelah melihat diri sudah rapi dan lebih baik, Elena mengambil tas kecilnya dan mulai keluar dari apartemen ini. Elena tinggal di London, yang khususnya di kota kecil dan cukup jauh dari pusat kota. Elena memang sengaja memilih tempat seperti ini agar dirinya tidak dapat ditemukan.


Sebelum pergi, Elena sempat menatap ponsel dengan helaan nafas. Elena sudah mengirim pesan satu per satu sebagai komunikasi terakhirnya kepada orang orang tersayangnya. Rasanya berat sekali namun mau bagaimana lagi kan? Setelah mengirim pesan itu, Elena mengeluarkan kartunya dan membakarnya. Dia memblokir apapun yang bisa membuat orang orang melacak keberadaannya. Elena tentu tau hal itu karena Virgo sudah sering mengajarinya akan hal hal seperti ini. Jadi tentu dia sudah tau.


Elena pergi menggunakan bus umum. Sebenarnya uangnya cukup untuk membeli kendaraan namun Elena memilih mengundurkan niat untuk membeli itu. Dia mau berhemat sampai menunggu dia yang mendapatkan gaji bekerjanya. Saat sudah mendapatkan gaji beberapa kali, dia berniat akan membeli kendaraan untuk mempermudah perjalanannya.


Elena yang berada di bus, duduk dengan tenang sambil menatapi jalanan yang indah. Elena tersenyum tipis tidak tau kenapa.


Elena sudah bertekad bahwa dia akan memulai lembaran hidup yang baru di kota London ini. Rasanya, apa kata hatinya seperti mendukung tekadnya. Dan yah, Elena sudah tau cukup banyak hal tentang kota London karena sebelumnya dia sudah pernah kesini lebih dari satu kali. Oleh karenanya dia tidak terlalu kaku dan tegang saat sampai di kota ini.


Saat sudah sampai, Elena turun dan bus dan berjalan sedikit. Saat sudah sampai di depan rumah sakit, Elena menatap bangunan rumah sakit yang bisa dikatakan cukup besar dengan senyuman tipis. Lalu setelahnya, Elena langsung masuk kedalam dengan tenang.


"Perkenalkan saya Yuki, pemilik dari rumah sakit ini sekaligus juga dokter kandungan di rumah sakit ini." ujar seorang wanita yang cantik dengan menggunakan jas putih mengulurkan tangannya didepan Elena. Elena yang mendengarnya tersenyum sopan dan membalasnya.


"Saya Elena nyonya." sahut Elena sopan.


"Saya rasa umur kita tidak beda jauh, jadi jangan panggil saya seperti itu." ujar Yuki disana.


"Bos?" tanya Elena polos. Yuki tertawa kecil mendengarnya.


"Kamu belum menikah?" tanya Yuki. Elena sedikit tidak enak mendengar pertanyaan Yuki namun tetap menjawab dengan mengangguk.


"Berarti saya lebih tua dari kamu. Saya sudah menikah dan mempunyai satu orang anak. Anak saya masih kecil. Jadi kamu bisa panggil saya kakak Yuki saja." ujar Yuki.


Elena merasa aneh mendengarnya. Kakak? Pikirnya. Dia tidak punya kakak perempuan dan lagian wanita yang didepannya ini adalah pemilik rumah sakit ini, rasanya sangat tidak nyaman namun mau bagaimana? Elena mengangguk ragu disana.

__ADS_1


"Kamu yang akan bekerja menjadi dokter spesialis dalam kan? tanya Yuki dan Elena mengangguk.


"Bagus. Saya dengar dengar juga kamu mahasiswa yang pandai sewaktu berkuliah dan sewaktu koas. Saya beruntung memilikimu kalau begitu." ujar Yuki disana tersenyum manis. Elena diam mendengarnya dengan senyuman saja. Dia dipuji yah hahaha.


"Kalau boleh tau, apa alasanmu ingin bekerja di kota ini saja? Bukankah di kotamu juga banyak rumah sakit yang siap menerimamu?" tanya Yuki penasaran.


Elena berdehem lalu langsung menjawab.


"Itu benar, namun saya lebih menyukai bekerja di kota lain dibandingkan di kota saya sendiri. Saya suka dengan kota ini dan saya mau bekerja disini." jawab Elena disana jujur. Memang dia menyukai bekerja di kota lain, termasuk london ini.


Yuki mengangguk pelan.


"Kamu punya berapa saudara?" tanya Yuki lagi.


"Saya anak terakhir. Saya punya kakak lelaki dua dan mereka juga sudah bekerja." jawab Elena dan Yuki kembali mengangguk.


"Jadi kamu tinggal dimana di kota ini?" tanyanya.


"Saya menyewa apartemen." jawab Elena.


"Kenapa tidak membeli rumah atau apartemen saja? Tanyanya lagi.


"Saya berencana membeli salah satu dari situ jika saya sudah gajian nanti." ujar Elena malu malu. Yuki mengangguk mengerti. Apa dia orang yang berkekurangan? Pikirnya, namun rasanya tidak mungkin melihat Elena yang mengambil jurusan kedokteran pasti mempunyai banyak biaya dan juga gaya elena seperti tidak orang berkekurangan.


"Baik kalau begitu. Kamu sudah bisa bekerja mulai besok dirumah sakit ini. Selamat bergabung!" Ujar Yuki tegas mengakhiri perbincangan mereka.

__ADS_1


"Terimakasih kak Yuki." ujar Elena disana masih samar samar tidak enak mengatakannya. Yuki hanya tersenyum tipis saja.


"Sekarang, mari saya antar ke ruanganmu." ujar Yuki dan Elena mengangguk. Akhirnya Yuki dan Elena pergi untuk melihat ruangan Elena.


__ADS_2