
Wanita itu ikut sedih mendengar cerita Elena. Dia juga seorang wanita dan dia bisa membayangkan bagaimana jika dia yang diposisi Elena. Bahkan, kalau dia di posisi Elena, dia mungkin bisa saja punya rencana untuk bunuh diri. Jujur, dia tidak sanggup. Dia kagum melihat Elena yang bisa kuat menghadapi ini. Wanita itu benar benar ikut sedih namun juga merasa kagum.
Elena mulai merasa lebih tenang. Wanita itu menatap Elena dengan tersenyum kagum dan hangat. Elena diam menatapnya sembari menghapus air matanya. Dia menarik ingusnya dan mulai menyandarkan tubuhnya lebih nyaman.
"Saya kagum sama kamu. Kalau saya yang berada diposisi kamu, saya tidak tau apakah saya sanggup ataukah tidak. Bahkan pada saat keadaan seperti ini, kamu masih bisa memakai hatimu. Kamu tau kenapa kamu masih bisa sanggup?" jelas wanita itu tersenyum sembari bertanya di akhir kata. Elena yang mendengarnya menggeleng.
"Karena Tuhan berkenan kepadamu. Dia mendukungmu dan menguatkanmu. Dia mau kamu tetap kuat bersama anak yang kamu kandung ini. Tidak ada kuasa manapun yang lebih hebat daripada kuasa Tuhan. Kalau Tuhan tidak menguatkanmu, kamu mungkin sudah menyerah saja. Tapi apa? kamu masih bisa bertahan dan mengambil keputusan. Menurut saya, keputusanmu untuk pergi itu tidak salah. Uruslah anakmu dengan penuh kasih sayang. Dan biarkan waktu yang menjawab apakah kamu masih bisa bertemu dengan keluargamu atau tidak, tapi percayalah, kita tidak akan mendapatkan ujian yang melebihi batas kemampuan kita." jelas wanita itu mengusap tangan Elena lembut.
Elena tertegun mendengar penjelasan wanita itu. Dia benar benar sangat tersentuh. Hatinya lebih menghangat mendengarnya. Dia tidak membuat kesalahan atas keputusannya ini kan? Elena juga seperti pernah mendengar kata kata seperti ini, tapi dimana?
Elena menggangguk pelan. Dia mulai tersenyum tipis. Dia kembali memeluk wanita itu.
"Terimakasih telah mau mendengarkan cerita saya nyonya. Nyonya tau, saya baru pertama kali ini jujur tentang rahasia besar saya ini. Tidak ada yang tau nyonya. Dan nyonya adalah orang pertama yang mendengarnya." jelas Elena jujur. Wanita itu mengangguk mengerti.
"Sudah jalan berapa bulan?" tanya wanita itu.
"Saya tidak tau. Saya belum memeriksanya." jawab Elena pelan mengusap pelan perutnya yang rata.
Wanita itu yang mendengarnya lebih mendekat kepada Elena dan mulai mengusap juga perut Elena yang masih rata.
"Apapun nanti jenis kelamin kalian, kalian harus tumbuh menjadi anak yang kuat yang bisa melindungi mama kalian ya." ujarnya tersenyum sembari terus mengusap perut Elena.
Elena lagi lagi tertegun. Ini seperti mimpi baginya. Dia benar benar mengandung!
"Kita belum berkenalan nak. Perkenalkan nama saya Arihta, kalau kamu sendiri?" tanya wanita itu teringat kalau mereka belum berkenalan. Dia adalah Arihta.
__ADS_1
Elena berdehem pelan.
"Nama saya Elena nyonya." jawab Elena.
"Kamu akan pergi ke London dan sudah ada rencana?" tanya Arihta lagi.
"Sebelum saya mengalami semua ini, saya memang sudah memilih akan bekerja di London setelah saya wisuda pelantikan. Dan karena saya sudah wisuda pelantikan, saya akan pergi langsung ke London nyonya." jelas Elena.
"Jadi kamu akan bekerja disana?" tanya Arihta dan Elena mengangguk.
Arihta menghela nafas lega.
"Syukurlah kamu sudah mempunyai pekerjaan untuk membiayai hidupmu dan anakmu nanti. Saya juga akan ke London untuk menemui anak, menantu, dan cucu saya. Dan saya akan tinggal di London. Semoga di sana nanti kita bisa bertemu ya." ujar Arihta tersenyum. Dia berharap mereka bisa bertemu lagi. Jujur dia sangat tertarik dengan Elena. Baru pertama kali bertemu, dia rasanya sudah sayang kepada Elena.
Elena mengangguk ragu. Dia tersenyum tipis mendengar ujaran Arihta. Kenapa terdengarnya aneh ya? Pikirnya.
Setelah selesai dengan perbincangan itu, Elena tidur dengan Arihta yang membuat posisinya lebih nyaman. Arihta benar benar membantu Elena tidur dengan posisi yang yang nyaman. Arihta juga bercerita bagaimana cara terbaik untuk mengurus anak nanti. Elena mendengarnya dengan baik. Dia mau membesarkan anak ini dengan sebisa mungkin. Entah kenapa dia merasa lebih baik.
Perjalanan akhirnya sampai juga. Akhirnya Elena dan Arihta berpisah di bandara London. Arihta memeluk kembali Elena sebelum berpisah dan memberikan kata kata yang menguatkan untuk Elena. Elena benar benar dikuatkan!
Elena tentu sudah tau dia akan kemana. Di sudah mempersiapkan semuanya. Dia pergi ke apartemen yang sudah dipersiapkannya. Elena tidak membeli apartemen itu, dia masih menyewa. Saat dia sudah punya uang yang cukup, dia akan berencana membeli tempat tinggalnya sendiri. Dia pergi ke apartemen itu menggunakan taksi yang didapatnya.
Ditempat lain, semua orang gelisah. Mereka benar benar khawatir karena mereka sangat menunggu kabar dari satu orang.
"Kenapa Elena belum memberikan kabar?" tanya Nita gelisah karena Elena yang belum memberi kabar kepada mereka. Nita berjalan mondar mandir karena kegelisahannya sambil terus menatap ponselnya yang berisi komunikasinya dengan Elena.
__ADS_1
"Papa juga tidak tau. Elena anak yang tidak mau membuat orang tuanya khawatir namun kenapa sampai sekarang dia tidak memberi kabar." gumam Wilson yang juga sama khawatirnya.
"Handphone Elena juga tidak aktif." sambung Edward juga yang ikut khawatir.
"Apa kata Viktor yang mengantar Elena? Apa ada yang terjadi?" tanya Nita teringat akan Viktor yang mengantar Elena.
Edward menggeleng pelan.
"Dia mengatakan bahwa dia benar benar mengantar Elena dan melihatnya akan pergi." jawab Edward jujur. Tentu dia sudah menelpon Viktor. Bahkan, Viktor saja belum sampai kerumahnya, dia masih di dalam perjalanan.
"Lalu kenapa Elena belum memberi kabar?" Gumam Nita lagi khawatir.
"Coba kamu lacak keberadaan dia Edward." ujar Wilson.
"Sudah pa, Edward sudah melacak keberadaan Elena, namun tidak bisa. Kemungkinan ponsel Elena tidak hanya mati namun dia juga mematikan semuanya dan bisa saja mengeluarkan kartunya." jawab Edward.
"Benar benar tidak bisa?" tanya lagi Wilson dan Edward menggangguk.
"Bagaimana ini?" tanya Nita menatap suaminya memelas.
"Mungkin Elena belum sampai ma, sehingga ponselnya benar benar dimatikan. Kita tunggu saja besok ya ma, Elena pasti mengabari kita. Virgo dan Wina juga akan pulang besok kan." ujar Wilson mencoba berpikir tenang dan positif.
"Iya ma, mungkin saja Elena belum sampai sehingga dia belum mengabari kita." ujar Edward lagi menenangkan mamanya.
Nita hanya menghela nafas berat dan pasrah dibawa oleh Edward dan Wilson ke kamarnya untuk tidur. Malam semakin larut dan mereka semua akhirnya tidur. Mereka akan menunggu kabar dari Elena besok.
__ADS_1