
"Kalian teman Elena kan?" tanya Brayen melirik keempat orang itu bergantian.
Mereka mengangguk.
"Kamu juga teman Elena kan?" tanya salah satu dari mereka lagi dan Brayen mengangguk saja walaupun sebenarnya dia lebih dekat dengan Wina.
"Emangnya kenapa ya?" tanya wanita dari keempat orang itu.
Teman Elena? Tentu saja keempat orang itu adalah Anira, Gina, putra, dan Viktor. Kenapa mereka ada di taman yang sama? Karena taman ini adalah taman yang biasa dikunjungi oleh Elena. Mereka tentu tau itu. Mereka juga sudah pasti mengetahui tentang kehilangan Elena yang tiada kabar. Jadi, setiap kali mereka merindukan Elena, mereka pasti janjian untuk datang ke taman ini untuk mengobati rasa rindu mereka. Apa mereka tidak mencari Elena? Tentu saja mereka mencari Elena namun tetap saja tidak menemukannya.
"Kalian tentu sudah tau mengenai Elena yang hilang kan?" tanya Brayen ragu. Mereka mengangguk dengan wajah sedihnya.
Brayen mengangguk mendengarnya.
"Bisa duduk saja sebentar?" tanya Brayen. Mereka saling lirik namun sama sama menyetujuinya. Akhirnya mereka duduk di sebuah tempat duduk yang cukup luas untuk diduduki mereka semua.
"Tania, kakak bisa minta tolong, Tania main main sebentar lagi ya? Kakak ada yang perlu dibacarain." ujar Brayen menatap Tania yang sedari tadi diam melihati mereka. Tania hanya mengangguk menyetujuinya dan langsung menjauh pergi.
"Em, aku ingin bertanya bagaimana perkembangan pencarian Elena?" tanya Brayen saat keadaan sudah tenang dan mereka semua sudah duduk.
"Tidak ada perkembangan. Elena sampai sekarang belum ditemukan." jawab Viktor lesuh.
"Katanya, salah satu dari kalian yang mengantar Elena ke bandara kan?" tanya Brayen mengingatnya.
"Iya, aku yang mengantar Elena sampai ke bandara. Aku melihatnya sendiri berangkat. Namun sejak kepergiannya, dia tidak ada kabar lagi. Ponselnya mati, dan tidak ada jejak apapun." jelas Viktor terheran. Bagaimana bisa seperti itu? pikirnya.
"Apa sebelum kepergiannya dia mempunyai masalah? Hem maksudku karena kalian temannya, kalian pasti banyak tau tentang dia kan?" tanya Brayen lagi.
"Elena itu orang yang baik dan sejauh yang kami tau dia tidak mempunyai masalah yang terlalu berat atau tekanan apapun. Itulah mengapa kami sangat heran. Entah dia sengaja menghilang atau karena perbuatan orang lain kami sama sekali tidak tau." jelas Gina.
__ADS_1
Brayen mengangguk angguk mendengarnya. Dia menjadi semakin bertanya tanya. Kenapa bisa ini semua terjadi? Elena tidak punya masalah berat atau masalah dengan orang lain, lalu buat apa dia menghilang?
"Apa kau menyukainya?" tanya Anira menatap intimidasi Brayen. Brayen sangat antusias bertanya tentang Elena, tidak mungkin tidak ada rasa kan?
"Tidak." jawab singkat Brayen. Anira diam tidak mau memperpanjang.
"Kalian semua ke taman ini..." ujar Brayen tidak sepenuhnya karena dipotong oleh putra.
"Kami semua kesini karena kami merindukan Elena. Ini adalah tempat yang biasa dikunjungi oleh Elena. Jadi setiap kali kami merindukan Elena, kami pasti akan janjian untuk datang kesini." jawab putra.
"Lalu kau?" tanya Anira.
"Ini memang tempat yang biasa aku kunjungi juga untuk tempat bermain adikku. Tapi, di taman ini juga aku dan adikku mengenal Elena." ujar Brayen jujur mengungkapkan.
Mereka semua mengangguk mendengarnya. Terdiam sebentar tanpa pembicaraan, akhirnya Brayen kembali bertanya.
"Apa sebelum Elena pergi, dia ada memberikan pesan atau keinginan?" tanya Brayen lagi melirik Viktor. Teman teman Elena yang lain juga melirik Viktor.
"Kami sudah bersama seperti keinginannya, namun dia tidak kembali untuk melihatnya." sambung Anira pelan. Matanya berkaca kaca. Putra dengan sigap memeluk Anira. Mereka berdua memang sudah berhubungan sesuai dengan keinginan Elena namun bukan berarti mereka terpaksa, mereka memang sudah saling mencintai.
Viktor yang melihatnya terdiam tidak berkutik.
"Lalu apa yang membuat ini semua terjadi?" tanya Viktor pelan namun masih terdengar.
"Entahlah, kami tidak tau. Kami hanya bisa mendoakan Elena semoga dia baik baik aja dan bisa segera kembali." ujar Anira berharap dan diangguki yang lain.
"Semoga dia bisa kembali." gumam Brayen tidak terdengar.
...****************...
__ADS_1
Dua bulan sudah terjalani. Elena dan Yuki semakin dekat. Walaupun Elena belum pernah bertemu dengan keluarga Yuki, namun dia dan Yuki sudah sering melakukan kegiatan bersama. Arihta, Xior, dan anaknya Yuki selalu penasaran seperti apa orang yang sering diceritakan oleh Yuki namun mereka belum bisa bertemu karena Elena tidak mau diajak ke rumah.
Elena yang baru saja siap melakukan pemeriksaan kepada pasien teringat jika hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungannya. Perutnya sudah semakin besar. Dia tau sebentar lagi, semuanya akan terbongkar.
Elena hanya perlu bersiap.
Elena mengusap keringat di dahinya lalu tersenyum menatap perutnya yang sudah semakin besar. Karena dia menggunakan jas tebal yang cukup panjang membuat perutnya tidak terlalu terlihat. Elena mengusap perutnya lembut. Dia akan pergi sebentar lagi ke tempat biasa dia melakukan pemeriksaan kandungan.
"Elena!" seru Yuki yang tiba tiba datang. Kebetulan pintu ruangan Elena memang sudah terbuka membuat Yuki asal masuk saja.
Lagi dan lagi, Yuki melihat Elena yang mengusap perutnya. Namun melihat dirinya yang datang, Elena langsung cepat cepat melepas tangannya dari perutnya dan menatap dirinya dengan tatapan kaget.
"Kamu lagi apa?" tanya Yuki pelan pura pura tidak tau lagi.
"Ehem.. aku lagi istirahat aja kak, soalnya aku baru aja siap lakukan pemeriksaan." jawab Elena gugup.
Yuki mengangguk angguk saja. Dia sudah semakin curiga dengan tingkah Elena. Yuki bukan orang yang sembarangan. Dia bisa melihat gerak gerik Elena semakin aneh hari demi hari. Dia juga bisa melihat perubahan Elena. Elena semakin sering memakai baju atau jas kebesaran, dia sering duduk, dan dia beberapa kali memergoki Elena mengusap perutnya. Hanya saja, Yuki memilih diam saja. Tapi kali ini sepertinya tidak, dia akan mencari tahu. Sudah lebih dari tiga kali dia memergoki Elena mengusap perutnya. Apa ada yang Elena sembunyikan? Mengingat asal usulnya juga tidak terlalu jelas?
"Oh begitu." jawab Yuki singkat.
"Kakak ngapain datang ke ruangan Elena?" tanya Elena tersenyum.
"Kakak mau ajak kamu makan siang bersama." jawab Yuki dengan tersenyum juga.
Elena yang mendengarnya menatap Yuki tidak enak. Dia tidak mungkin menerimanya karena sebentar lagi dia akan pergi untuk melakukan pemeriksaan kandungannya.
"Aku sudah makan siang kak." ujar Elena.
"Yah... kamu ternyata sudah makan siang. Yaudah gak apa apa, kakak makan sama yang lain aja ya." ujar Yuki sedikit kecewa. Dia sebenarnya ingin makan siang bersama Elena agar bisa bercerita cerita. Namun apa boleh buat? Elena sudah makan siang kan?
__ADS_1
"Kak Yuki, aku ingin meminta izin." ujar Elena ragu.