
Mila mendengus kesal pelan. Ekspresinya cukup terlihat berubah. Dia cukup kesal mendengarnya. Virgo yang melihat itu tersenyum tersembunyi. Dia semakin yakin jika Vania memang mempunyai hubungan dengan Mila. Kepalanya terasa sangat pusing memikirkan ini semua.
Mila melirik Virgo yang menatapnya. Mila mencoba santai dan tenang menatap Virgo.
"Yasudah Virgo. Saya akan pulang. Dan saya ingin meminta bantuan kamu untuk terus mengawasi Zeyn. Jika semua yang saya katakan benar, mohon beritahu kepada saya." jelas Mila berdiri diikuti oleh Virgo.
"Baik tante." sahut Virgo menunduk pelan. Mila tersenyum dan segera menjauh pergi. Setelah kepergian Mila, Virgo kembali duduk dengan kasar.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kepalaku sangat sakit memikirkan semua ini. Pertama, apa hubungan Zeyn dengan Elena dan kedua, apa sebenarnya hubungan Mila dan Vania!" gumam Virgo mengusap wajahnya kasar. Sebentar lagi dia akan menikah, tapi kenapa hari hari menjelang pernikahannya cukup sulit dan rumit? Hati Virgo sangat tidak tenang. Apalagi sekarang sudah menyangkut adik kesayangannya.
Virgo sebenarnya tidak langsung percaya dengan semua kata kata Mila. Namun itu cukup menganggu pikirannya. Mulai dari sewaktu Mila mengatakan jika zeyn membahas tentang adiknya dengan papanya, Vania yang mulai bertanya soal wanita lain kepada Zeyn, lalu Mila yang mengatakan bahwa dia pernah melihat Zeyn dan adiknya Elena berduaan dan berbincang serius. Lalu melihat bagaimana Mila yang sangat mendukung dan membanggakan Vania. Kata katanya seakan mereka sangat sangat dekat. Virgo benar benar sangat pusing. Tapi dia juga harus fokus dengan pernikahannya. Setelah dia sudah menikah dan pulang honeymoon nanti, dia akan mencari tahu semua kebenarannya.
Setelah siap berperang dengan pemikirannya, Virgo kembali ke kantor untuk bekerja. Untuk sementara, dia tidak perlu memberitahu Zeyn tentang pertemuannya dengan mamanya Mila. Namun tidak menutup kemungkinan, Virgo pasti bertanya tentang hal ini kepada Zeyn dan Elena.
Sementara di tempat lain. Vania yang baru saja sampai di rumah langsung segera masuk untuk mempersiapkan barang barangnya akan keberangkatan besok. Namun sesampainya di dalam rumah dan hendak masuk kedalam kamarnya, suara berat mulai memanggil namanya.
"Vania!" panggil pria paruh baya. Dia cukup tampan dan berpenampilan rapi.
Vania menoleh kearah suara dan melihat kedua orang tuanya yang tengah menatapnya. Vania membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin. Semakin lama ada rasa benci di hati Vania karena merasa kedua orangtuanya yang tidak peduli kepadanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Vania dingin menatap papanya yang bernama John.
John menatap anaknya garang karena panggilannya dibalas dengan dingin.
"Kamu dari mana?" kali ini yang bertanya adalah mamanya yang bernama Aretha. Dia wanita yang masih sangat cantik dan gaya yang seksi.
"Aku baru bertemu dengan tante Mila. Kenapa? Tumben sekali kalian bertanya tanya kepadaku. Apalagi bertanya aku dari mana. Biasanya kalian sibuk dengan urusan kalian masing masing, dengan pacar kalian masing masing. Lalu kenapa tiba tiba seperti ini? Apa kalian sudah putus dengan pacar kalian?" tanya Vania dingin dengan menekan semua kata katanya. Dia meluapkan semua isi hatinya.
John dan Aretha yang mendengar semua ucapan Vania menatap Vania lebih garang. John hendak ingin menampar Vania namun ditahan oleh Aretha.
"Kami hanya bertanya Vania, kenapa kau langsung marah marah." ujar Aretha dengan lembutnya. Aretha hendak mengusap kepalanya Vania namun ditepis kasar oleh Vania. Itu membuat John memerah menahan emosi. Aretha hanya diam menatap Vania yang kasar kepadanya.
Plak...
Vania kaget merasa panas di pipinya. Dia menatap John yang menatapnya marah dan menatap Aretha yang menatapnya khawatir.
"Tidak punya sopan santun kamu sebagai anak! Siapa yang mengajarimu seperti ini ha?!" tanya kuat John.
"Sudah pa, kasihan Vania." ujar Aretha lembut menenangkan John. Dia mengusap lembut lengan John.
__ADS_1
"Tidak ma, ini anak tidak tau diri. Tidak punya sopan santun kepada orang tua. Harus dikasih pelajaran anak seperti ini!" balas John masih menatap marah kepada Vania. Wajahnya memerah dengan urat urat yang terlihat.
"Apa kalian bilang? Sopan santun? Siapa yang mengajari? Coba saja berkaca pa mah! Apa kalian pernah mengajariku soal sopan santun? Bahkan kalian mengajariku saja tidak pernah! Sedari kecil, bukankah kalian hanya menitipkanku kepada bibi lalu kalian asik dengan urusan kalian masing masing? Lalu bagaimana bisa kalian berkata seolah seolah kalian orang tua yang peduli kepada anaknya, mengajari anaknya, apalagi soal sopan santun?!" ujar Vania tak kalah kuat. Dia menatap garang John dan Aretha.
Plak...
John menampar Vania untuk yang kedua kalinya di pipi yang sama. Darah segar mulai mengalir di sudut bibir Vania. Vania mengusapnya kasar dan menatap John dan Aretha tak percaya. Matanya mulai berkaca kaca.
"Orang tua tidak punya hati!" bentak Vania kuat lalu langsung masuk kedalam kamarnya. Dia menutup pintu dengan sangat kuat membuat John dan Aretha kaget melihatnya.
"Kenapa papa menamparnya lagi?" tanya Aretha khawatir. Dia tidak tega melihat Vania yang ditampar dua kali dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Biarkan saja ma. Dia memang anak yang tidak punya sopan santun dan tidak tau diri. Masih untung kita mau mengurusnya." sahut John menatap Aretha. Aretha hanya menghela nafas menatap balik John.
John dan Aretha tidak punya anak selain Vania yang mereka urus. Aretha tidak bisa mempunyai anak karena masalah pada rahimnya. Dan memang benar, John dan Aretha memang mempunyai pacar mereka masing masing. Namun mereka berdua sama sama tidak masalah akan hal itu dan mereka tidak ada niat untuk bercerai sekalipun mereka mempunyai pacar masing masing.
Vania yang berada di dalam kamar menangis dengan sedihnya. Dia merasa hidupnya sangat berat. Mulai dari ditolak oleh orang yang sangat dicintainya sekarang harus merasakan kehidupan keluarga yang hancur. Hanya Mila yang membantunya bertahan hidup.
Dengan masih menangis, Vania mengambil hpnya dan mulai berfoto memperlihatkan pipinya yang merah, sudut bibir yang berdarah, dan mata yang bengkak. Setelah berfoto, dia mengirim foto itu kepada Mila. Dia tau pasti bahwa Mila akan mendukungnya. Namun sekalipun dalam keadaan hancur seperti ini, Vania tetap mau berangkat kerja. Bagaimanapun dia harus tetap bekerja. Orangtuanya sudah sangat jarang memberinya uang bulanan dan dia harus bekerja sendiri untuk bisa menikmati semua kesenangan yang dia beli. Walaupun jalan hidupnya hancur, Vania tidak mau menderita karena miskin, tidak bisa makan enak, tidak bisa berbelanja sepuasnya, setidaknya uang bisa juga membantunya untuk menjadi manusia yang benar benar hidup.
__ADS_1