Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
MENGUNDANG NAMUN DITOLAK


__ADS_3

"Mama sama papa senang sekali tau kamu hamil sayang, kamu baik baik ya, jaga calon cucu mama papa." ujar Nita kepada Wina yang berada di sampingnya.


Tentu semua keluarga sudah tau tentang kehamilan Wina, dan mereka sangat sangat bahagia.


"Iya sayang, kamu tidak perlu lagi mengerjakan semua tugas rumah, biar orang lain saja yang mengerjakannya ya, kamu tidak boleh lelah berlebihan nak." sambung Wilson.


"Iya pa, Wina tau." sahut Wina.


"Mama dan papa kamu kapan datangnya?" tanya Nita.


"Mama dan papa datangnya esok ma." jawab Wina.


"Ohh yasudah kalau begitu." ujar Nita.


"Ma pa." panggil Wina ragu.


"Kenapa sayang?" tanya Nita.


"Gimana besok ya ma?" tanya Wina pelan.


"Emangnya besok kenapa nak?" tanya wilson.


"Tadi, waktu Virgo tau aku hamil, sementara dia besok akan pergi ke London, dia jadi ragu untuk pergi ma. Katanya, dia mau menjaga aku juga, padahal aku udah bilang kalau disini yang jaga aku banyak." jelas Wina jujur. Sebenarnya, dalam hati kecilnya, Wina takut jika Virgo tidak jadi pergi mencari Elena karena dirinya, maka keluarga Virgo akan membenci dirinya. Wina takut itu!


Nita dan Wilson terdiam. Mereka juga bingung akan hal itu. Mereka ingin agar Virgo tetap pergi mencari Elena namun mereka juga mengerti kalau Virgo pasti mau menemani istrinya yang baru dikabarkan hamil, apalagi Virgo tidak pergi sehari atau dua hari.


"Ma pa!" panggil lagi Wina karena Nita dan Wilson tidak menjawab.


"Entahlah sayang, biarkan itu menjadi keputusan Virgo." jawab Nita pasrah. Dia tidak tau harus mengatakan dan melakukan apa lagi. Dia menyerahkan semuanya kepada Virgo, Nita dan Wilson yakin jika Virgo pasti selalu berusaha membuat keputusan dan melakukan yang terbaik.


"Kalau misalkan Virgo tidak pergi dan akan menetap di sini, mama dan papa akan benci Wina?" tanya Wina takut. Dia takut itu semua terjadi.

__ADS_1


Nita dan Wilson saling tatap karena kaget.


"Apa maksudmu nak? Kami tidak mungkin membencimu." ujar Wilson.


"Iya sayang, kamu jangan bicara begitu. Pergi atau tidaknya Virgo, biar itu menjadi keputusannya. Mama yakin dia pasti berusaha yang terbaik untuk semuanya." ujar Wina dan diangguki Wilson.


"Iya ma, Wina yakin juga." sambung Wina. Keduanya menjadi berpelukan hangat dan saling menguatkan.


...****************...


"Gimana, ada keluhan gak?" tanya Yuki dengan manis memasuki ruangan Elena. Terlihat Elena dengan tenang memakan makanan yang dibawanya dari apartemennya.


"Em gak ada kok kak." jawab Elena.


"Tadi kakak periksa ibu hamil seperti kamu Elena, tetapi kandungan dia bermasalah karena stres, kamu jangan sampai gitu ya, kamu harus jaga kesayangan kakak di perut kamu, titik!" ujar Yuki tegas sembari mendudukkan dirinya di sampai Elena.


Yuki memang setiap hari ke ruangan Elena, termasuk sewaktu jam istirahat. Mereka benar benar sangat dekat. Kemanapun termasuk membeli apapun, Elena pasti ditemani oleh Yuki. Elena sangat bersyukur bisa mengenal orang seperti Yuki.


"Elena, kakak mau bilang sesuatu." ujar Yuki semangat.


Elena melirik Yuki heran. Biasanya juga ketika Yuki ingin memberitahu apapun, dia langsung mengatakannya tanpa perlu meminta izin, ini? Dia ingin mengatakan apa? Terlihat sangat serius.


"Apa kak? Kenapa terlihat serius begitu?" tanya Elena.


"Jadi, akan ada orang istimewa yang akan datang ke rumah Kakak. Kamu tau siapa? Dia adalah ipar kakak. Nah, jadi kakak mau mengundang kamu untuk datang kerumah kakak Elena. Kamu datang ya." jelas Yuki semangat.


"Aku datang mau ngapain kakak?" tanya Elena bingung.


"Ya, kita makan bersama Elena. Kamu datang ya. Dia sampainya besok, jadi kamu ikut sama Kakak. Kakak jemput kamu menjelang malam, oke?" tanya Yuki semangat dengan harapannya.


Elena hanya tersenyum tipis sembari mencerna kata kata Yuki. Dia merasa berat untuk datang. Sebenarnya, Yuki sudah beberapa kali mengajaknya kerumah, namun dirinya menolak karena merasa tidak enak. Dirinya takut ditanya tanya oleh keluarga Yuki.

__ADS_1


Dan ini, apa lagi? Tidak tidak, dirinya tidak mau datang. Elena tidak berani berjumpa dengan keluarga besar Yuki.


"Ehem, maaf sebelumnya kak, tapi Elena sepertinya tidak bisa ikut." ujar Elena menunduk takut. Dia takut Yuki akan kesal kepadanya karena dirinya terus menolak ajakan Yuki.


Yuki memudarkan sedikit senyumnya dan menatap Elena dengan mata indahnya.


"Elena, kakak mau tanya satu hal sama kamu." ujar Yuki pelan dan lembut.


Elena mengangkat kepalanya dan menatap Yuki dengan luas.


"Apa kak?" tanya Elena.


"Kenapa kamu selalu menolak ajakan kakak untuk datang kerumah kakak, hm?" tanya Yuki. Dirinya juga penasaran mengapa Elena selalu menolak ajakan dirinya. Dia seperti tidak ingin menemui keluarga Yuki.


Elena terdiam belum menjawab. Yuki yang melihatnya menghela nafas panjang. Dia lalu mengelus kepala Elena lembut seperti ibu dengan anaknya. Yuki sangat lembut!


"Kamu mau berbohong lagi sama kakak? Kamu tidak mau cerita lagi sama kakak seperti kemarin? Kakak tidak sepenting itu di hidup kamu Elena?" tanya Yuki mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di hatinya. Dia merasa Elena masih bersikap tertutup kepada dirinya.


Elena menggeleng cepat dan langsung menggenggam tangan Yuki dengan lembut.


"Kakak, Elena tidak seperti itu lagi." ujar Elena.


"Lalu kenapa kamu tidak mau jujur kepada kakak?" tanya Yuki. Elena tertunduk sebentar lalu kembali menatap Yuki.


"Sebenarnya, Elena merasa malu dan tidak berani menemui keluarga kakak. Elena takut kak. Elena takut kalau Elena datang, keluarga Kakak akan menanyai banyak hal tentang Elena. Dan ketika mereka tau Elena seperti ini, mereka bisa saja tidak menyukai Elena dan menyuruh agar kakak tidak dekat dekat lagi dengan Elena. Elena takut itu semua terjadi kak." jelas Elena dengan jujur. Dia berkata dengan yang sebenarnya.


Yuki yang mendengarnya tertawa kecil. Elena dibuat heran dengan tanggapan Yuki yang malah menertawakan dirinya.


"Kakak kenapa tertawa?" tanya Elena bingung.


"Elena, omongan kamu jauh banget dari kenyataannya. Asal kamu tau Elena, keluarga kakak sangat memanusiakan manusia. Malah, orang tua kakak selalu mengajarkan kakak untuk selalu menghargai dan hormat kepada semua orang selagi orang itu tidak merugikan kita. Dan itu tidak bergantung dari bagaimana latar belakang seseorang. Sekalipun keluarga kakak tau kamu yang sebenarnya, kakak yakin, tanggapan mereka akan sama seperti tanggapan kakak Elena." jelas Yuki. Memang apa yang dikatakan Yuki itu semua sesuai dengan kenyataan. Sedari kecil, dia diajar oleh orang tuanya untuk berperilaku seperti yang dia katakan. Hormat kepada sesama namun tau alasan dibalik itu!

__ADS_1


Elena terdiam mendengarnya. Dia bisa melihat Yuki berkata dengan tegas dan seperti tidak ada kebohongan di kata katanya. Namun tetap saja, Elena masih merasa takut. Baginya, hati manusia bisa berubah-ubah kapan saja!


__ADS_2