
Elena menjalani dan mengelilingi ruangan kecil yang berisi penuh foto foto itu.
"Emm." gumam Elena menghentikan langkahnya ketika melihat foto yang cukup besar didepannya.
Elena mengambilnya perlahan.
Foto itu berisi gambar dua orang anak yg berusia balita. Elena kembali mengerutkan keningnya ketika melihat foto itu. Pasalnya, gambar salah satu anak itu sangat mirip dengan pria yang sangat dia benci, dan gambar satu anak lagi, Elena bisa berpikir itu adalah foto masa kecil suami Yuki.
"Elena!" seru Yuki yang tiba tiba sudah berada di belakang Elena.
Elena nyaris menjatuhkan foto itu namun tangannya bisa menahan foto itu, Elena benar benar sangat terkejut. Elena menoleh kebelakang dan melihat Yuki yang sudah berada di belakangnya dan mulai mendekati dirinya.
"Kamu lihat foto foto ya." ujar Yuki yang sudah berada di samping Elena.
"Iya kak hehe." sahut Elena cengesan.
"Kamu lihat foto siapa itu?" tanya Yuki mulai menatap sebuah foto yang dipegang oleh Elena.
"Ahh, itu foto masa kecil suami kakak dan sepupunya, ganteng kan mereka." ujar Yuki tersenyum lebar. Elena hanya mengangguk kaku.
"Dan kamu tau Elena, ini adalah pria yang kakak ceritakan itu kepadamu." ujar Yuki lagi.
"Sepupu suami kakak?" tanya Elena dan Yuki mengangguk semangat.
"Yasudah, ayo Elena, Reno pasti sudah menunggu di sekolah." ujar Yuki kembali mengingat tujuan awal mereka.
"Iya, kakak benar sekali, ayo!" ujar Elena.
Sesampainya di sekolah Reno, Elena dan Yuki sudah disambut dengan kedatangan anak kecil.
"Mama." teriak anak itu berlari mendekati Yuki dan Elena.
"Kesayangan mama." ujar Yuki menyambut anak itu dengan gembira.
"Mama kok lama sih jemputnya, kan nenek udah bilang mama harus jemput reno tepat waktu, nenek saja tidak pernah telat menjemput Reno, mama masa telat." gerutu Reno meluapkan kekesalannya. Dia sudah menunggu hampir 30 menit di ruang satpam bersama para satpam disana.
__ADS_1
Yuki tersenyum cengesan menatap putra semata wayangnya.
"Maafin mama ya sayang, mama tadi hampir kelupaan." sahut Yuki memberikan ekspresi memelas.
Reno membuang muka masih kesal, dia akhirnya sadar jika ada wanita yang bersama mamanya. Reno menatap mamanya penuh tanda tanya.
"Mama mau ngenalin, ini adalah Tante yang sering mama ceritain." ujar Yuki sadar akan tatapan anaknya. Tentu Reno tidak kenal dengan Elena.
Reno membulatkan mata lebar menatap mamanya tidak percaya.
"Mama serius?" tanya Reno. Yuki mengangguk semangat.
"Tante adalah orang yang sering diceritakan mama Reno?" tanya Reno ragu.
Elena tidak tau harus apa selain tersenyum aja.
Bugh...
"Tante, tante tau tidak, mama aku sering ceritain tentang Tante sama aku, papa dan nenek. Kami ingin sekali bertemu dengan Tante, tapi mama bilang Tante belum siap bertemu kami, dan sekarang aku ketemu tante, Reno senang sekali." ujar Reno belum melepas pelukannya. Memang begitulah kenyataannya, Reno berkata jujur. Dia sedari dulu ingin bertemu dengan Elena semenjak Yuki sering bercerita tentang Elena.
"Iya Tante. Tante ternyata cantik sekali ya." ujar Reno tersenyum lebar.
"Kamu bisa saja, masih kecil tapi sudah berani menggoda orang dewasa ya." ujar Elena mengacak lembut rambut Reno.
"Nanti Reno mau punya pacar kaya Tante, iyakan ma?" tanya Reno menatap mamanya. Yuki yang mendengarnya membulatkan mata lebar dengan garangnya.
"Masih kecil kamu!" ketus Yuki dan Reno hanya memutar bola mata malas.
Elena tersenyum kecil melihat itu. Dia malah berpikir, bisakah dia seperti itu suatu hari nanti saat anak kembarnya sudah lahir? Ntahlah.
"Perut besar Tante mana, kata mama Tante lagi hamil ya?" tanya Reno ingat akan apa kata Yuki yang mengatakan Elena sedang hamil.
"Ini sayang." ujar Elena menunjukkan perutnya. Wajar saja Reno tidak melihat perutnya yang besar, perut Elena ditutupi oleh jas miliknya.
"Reno boleh pegang tidak?" tanya Reno hendak ingin menyentuh perut Elena namun ditahan karena takut Elena tidak mengizinkannya.
__ADS_1
"Tentu saja sayang." jawab Elena. Reno dengan sigap dan lembut mengelus perut Elena yang dilapisi oleh pakaian dirinya.
"Ini kakak ya adek, adek sehat sehat biar nanti kita bisa main bersama." ujar Reno lembut sembari masih mengelus lembut perut Elena.
Mata Elena berkaca kaca mendengar dan melihat itu. Dia bahagia sekali begini saja.
"Iya, nanti kalau anak tante udah lahir, Reno bisa main main bersama saat sudah besar nanti ya." ujar Yuki menyambung. Dia senang karena anaknya Reno bisa langsung menyayangi Elena seperti dirinya.
Menurut kalian, panggilan tante itu terlalu tua atau tidak cocok dengan Elena yang statusnya belum menikah? Maka jawabannya tidak. Bagi mereka, panggilan itu sangat cocok dibandingkan kakak yang lebih mengarah ke lebih muda, sedangkan Elena sedang hamil.
"Tante, jaga dedek bayi ya, biar kalau dedek bayi sudah besar, Reno bisa main sama mereka." ujar lagi Reno menatap Elena.
"Iya sayang." jawab Elena mengangguk pelan.
"Yasudah kamu makan dulu ini, biar mama dan Tante Elena antar pulang kamu ke rumah karena mama dan Tante masih ada kerjaan di rumah sakit." ujar Yuki.
"Tidak mama, Reno tidak mau di rumah bersama bibi, Reno ikut mama dan Tante saja di rumah sakit, Reno juga bisa makan disana nanti." jawab Reno menolak. Dia tidak mau di rumah sendiri bersama para bibi yang mereka juga pasti asik bekerja.
"Tapi Reno, di rumah sakit tidak bagus buat anak kecil sayang, mama bukannya tidak suka Reno ke rumah sakitnya mama, tapi bau rumah sakit tidak bagus buat kesehatan reno." ujar Yuki lembut. Dia berkata dengan jujur. Bukannya dirinya tidak suka Reno ke rumah sakit, namun bau rumah sakit tidak baik buat kesehatan anaknya yang masih kecil.
"Sekali ini saja mama, Reno kesepian dirumah, please." ujar Reno memelas dengan wajah penuh harapnya.
"Tante tolong katakan kepada mama untuk mengizinkan aku ke rumah sakit, aku kesepian di rumah Tante." ucap Reno menatap Elena memelas juga meminta bantuan. Dia memegang erat tangan Elena.
"Kak, kita izinkan saja Reno ke rumah sakit kali ini saja. Kasihan dia di rumah sendiri kak, dia pasti kesepian. Lagian, di ruangan kakak, bukankah ada ruangan khusus yang cocok buat tempat Reno?" jelas Elena. Dia ingat di ruangan Yuki ada ruangan khusus yang paling tepat untuk tempat Reno.
"Lagian, pekerjaan kita juga sudah akan selesai kan?" jelas lagi Elena meyakinkan.
"Iya mama." sambung Reno lagi.
Yuki berpikir sejenak, apa yang dikatakan Elena memang benar sekali. Mereka sudah akan pulang dan di ruangannya juga ada ruangan khusus yang cocok buat tempat Reno.
"Hm, kamu bisa ikut, tapi hanya kali ini saja." tegas Yuki.
"Yeyyy.. makasih mama, makasih tante cantik." senang Reno. Elena ikut senang melihat Reno yang gembira seperti ini.
__ADS_1