Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
WISUDA PELANTIKAN


__ADS_3

"Gue pengen banget sebenarnya di posisi loe Elena, cuman gue nya belum selesai. Ini semua karena guru bimbingan gue yang super ribet!" ketus Anira kesal mengingat dia yang tidak lulus wisuda cepat seperti Elena. Gina juga mengangguk setuju.


"Apalagi kami." sambung Putra dengan malasnya. Viktor juga sama karena mereka satu jurusan.


"Kayanya loe perlu mengubah sedikit apa yang perlu diubah deh." ujar Elena santai.


"Enggak perlu Elena, emang dasar gurunya aja yang ribet banget." balas Gina malas. Semuanya mengangguk membuat Elena mengangkat bahu acuh saja.


"Selamat Elena." ujar pria yang datang tiba tiba ditengah perbincangan mereka. Dia adalah Sean yang datang dengan senyumnya. Siapa yang tau bahwa itu masih merupakan senyuman kecewa.


Semuanya menoleh termasuk Elena. Tadinya dia ingin mencari Sean karena dia belum ada melihatnya namun tidak jadi karena teman temannya yang datang, namun sekarang Sean sendiri yang datang menghampirinya.


Elena tersenyum.


"Selamat juga untukmu Sean." balas Elena juga memberikan selamat. Karena mereka berdua memang sama sama wisuda pelantikan hari ini kan.


"Astaga gue sampe lupa kalau Sean juga sama kaya loe Elena!" ujar putra menepuk pelan keningnya. Dia benar benar lupa jika Sean juga sama seperti Elena. Mereka memang jarang melihat Sean semenjak dari koas mereka yang berbeda.


Sean tersenyum tipis melihatnya.


"Selamat juga buat loe ya sean. Dari kita semua." ujar Anira tersenyum tulus. Sean mengangguk tersenyum lebih lebar.


Elena sedari tadi hanya melirik Sean saja. Dia merasa Sean jauh lebih beda semenjak kejadian kemarin. Dia jauh lebih pendiam dan lebih kalem.


"Tadi pak Mizan cari loe Sean." ujar Elena.

__ADS_1


"Iya gue tau Elena, kami udah ketemu kok." jawab Sean dan Elena hanya mengangguk.


"Loe setelah ini mau kerja dimana Elena?" tanya Viktor yang sedari tadi diam.


"Seperti yang gue katakan kepada kalian semua." jawab Elena.


"Loe beneran pergi Elena?" tanya putra menatapnya sedih, begitupun yang lain. Elena mengangguk juga ikut merasa sedih.


"Loe kapan berangkatnya?" tanya Gina pelan. Dia sangat sedih mendengarnya.


"Belum tau, kemungkinan dalam Minggu ini kalau tidak ada halangan." jawab Elena. Dia akan pergi bekerja ke London sebagai dokter dan sudah ada yang menampungnya. Sebenarnya Mizan ingin agar Elena dan Sean bekerja di tempat rumah sakit mereka koas namun ada juga tampungan yang tidak beda jauh yang diberikan kepada mereka. Dan Elena memang sedari dulu keinginannya untuk tidak bekerja di kota kelahirannya namun bekerja di kota lain. Jadinya dia memilih ke luar kota saja berangkatnya. Sementara Sean, dia memilih tetap di sini. Keluarganya mempunyai rumah sakit sendiri sebenarnya, dan dia ingin menjalankan itu sebagai pemimpin. Namun tentu dia harus punya pengalaman bekerja dulu kan? Jadinya Sean memilih bekerja di kota Ini saja. Dia memilih untuk bekerja di tempat koasnya bersama Mizan saja.


"Yah cepat banget sih." balas Anira sedih.


"Yaudah pokoknya selama loe belum pergi, loe harus sering sering sama kita. Dan sekarang kita berfoto sebagai kenangan, ayo!" ujar gina tegas. Elena mengangguk tersenyum saja begitupun dengan yang lain.


Selesainya berfoto, tiba tiba Genda, Mila, dan Moris datang menghampiri mereka. Elena cukup kaget.


"Halo Elena, selamat ya!" seru Moris yang datang dengan jas rapi dan dengan senyuman lebarnya. Mereka menyalami Elena dan Elena membalasnya dengan sopan dan dengan senyumannya juga. Namun dia risih melihat tatapan Mila yang tidak membuatnya nyaman.


"Kamu juga Sean." ujar Moris dan Genda sembari menepuk bahu Sean. Sean mengangguk sopan.


"Kami bangga punya lulusan seperti kalian. Kalian ini termasuk lulusan terbaik loh!" ujar Moris semangat. Mereka benar benar bangga pernah mendidik Elena dan Sean. Mereka memang benar benar bisa diandalkan sekali.


Elena dan Sean tersenyum.

__ADS_1


"Bapak gak bangga sama Anira?" tanya Anira dengan polosnya. Putra menyenggol lengan Anira gugup. Bisa bisanya dia berkata seperti itu kepada orang penting di kampus mereka. Anira melirik putra kesal karena disenggol senggol.


Moris dan Genda tertawa. Mereka tentu kenal si Anira ini. Gadis polos yang berani mengungkapkan semuanya, termasuk apa yang dia pikirkan dan yang ada dihatinya. Anira ini tidak ada malu malunya bagi mereka. Tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi. Mereka hanya menggeleng saja menatap Anira.


"Kami bangga kepada kamu juga Anira!" ujar Moris disana menepuk pundak Anira. Anira yang mendengarnya tersenyum lebar.


"Bangga dengan kenakalan dan kelancanganmu." sambung Genda disana. Semuanya tertawa termasuk putra yang tertawa keras. Senyum Anira menjadi pudar mendengarnya.


"Ih bapak. Masa tidak ada yang positifnya untuk dibanggakan." ujar Anira kesal.


"Iya iya, kamu ini ya. Hanya satu yang bisa kami banggakan darimu, yaitu keberanianmu." ujar Moris disana jujur. Genda juga mengangguk setuju.


Anira tersenyum lebar lagi. Walaupun cuman itu yang dikatakan, dia tetap merasa bangga. Dia melirik teman temannya dengan tatapan bangga. Teman temannya malah menggeleng melihat tingkah Anira.


"Nanti kamu bekerja dimana Elena?" tanya Genda menatap Elena.


"Saya sudah berencana untuk bekerja di luar kota pak." jawab Elena. Moris dan Genda mengangguk. Namun Elena sekilas melirik reaksi Mila yang disampingnya Genda. Dia bisa melihat Mila jauh lebih segar dan tersenyum tipis mendengarnya. Elena tau, Mila pasti senang karena tau bahwa dia akan pergi. Ini juga yang membuat Elena membulatkan keputusannya untuk pergi dari kota ini, yaitu karena dia tidak mau terus terusan terbayang bayang dengan kejadian buruk itu dan tidak lagi melihat orang orang yang telah menyakitinya. Dia akan pergi dari mereka semua!


"Kalau kamu Sean?" tanya Moris melirik Sean.


"Saya tetap disini pak. Saya akan bekerja di tempat saya koas untuk mencari pengalaman bekerja. Setelah cukup matang, saya akan menjalankan rumah sakit milik keluarga saya pak." jelas Sean. Semuanya mengangguk termasuk Elena. Dia sebelumnya sudah tau karena Sean sudah pernah bercerita tentang ini kepadanya.


"Yasudah kami pergi ya. Selamat buat kalian semua termasuk yang tidak wisuda hari ini." ujar Moris dengan kekehannya melirik Anira dan teman temannya. Mereka mendengus kesal karena dosen mereka menyindir mereka.


"Bapak jahat!" ujar Anira kesal dengan cukup kuat namun Moris sudah berlari terbirit-birit karena tau Anira pasti memakinya. Genda dan Mila hanya berjalan menjauh pergi saja dengan lebih santai.

__ADS_1


Elena tertawa kecil melihatnya. Namun dia merasa ada yang aneh. Dia merasa mual serasa ingin muntah. Dia akhirnya memilih izin ke toilet dan teman temannya mengangguk saja. Mereka sama sekali tidak ada yang khawatir karena Elena mengatakan bahwa dia hanya izin membuang air kecil. Dia tidak mau mengatakan bahwa dia mual. Akhirnya Elena pergi dengan jalannya yang cepat. Teman-temannya memilih asyik berfoto saja dan Sean yang juga pergi untuk menemui keluarganya.


__ADS_2