Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
WINA MENGETAHUI


__ADS_3

"Kamu tidak ada niat untuk pulang dan jujur semuanya hm?" tanya Yuki. Dia hanya berpikir bahwa dirinya saja yang awalnya tidak siapa siapa Elena bisa menerimanya sekalipun Elena sudah membohonginya, apalagi semua keluarga dan temannya yang sudah mengenal Elena lama dan katanya sangat menyayanginya kan?


Elena menggeleng.


"Tidak kak." jawab Elena singkat.


"Lalu pria yang membuatmu seperti ini? Apa kamu tidak mau meminta pertanggung jawabannya Elena? Dia yang membuatmu seperti ini." ujar Yuki penuh emosi dalam. Enak saja pria yang membuat Elena seperti ini mau tinggal enaknya saja! Elena yang sekarang maksudnya? Padahal kan dia cuman menjadi korban disini? Pikir Yuki tidak terima.


"Elena tidak mau kak. Awalnya juga Elena mau seperti itu, namun setiap kali melihat wajah pria itu, Elena merasa keadaan Elena menjadi lebih buruk. Ditambah dia sudah memiliki tunangan kak. Mama dan tunangannya pernah menemui Elena dan ingin Elena pergi." jelas jujur. Memang iya kan? Dia tidak mau berbohong lagi!


"Manusia tidak punya hati!" gumam Yuki memerah.


"Karena itu Elena tidak mau berada diantara orang orang seperti itu kak, itu hanya akan membuat hidup Elena lebih susah." ujar Elena yang sudah memikirkannya. Suara Elena semakin lama semakin pelan. Yuki belum sadar akan hal itu karena masih memikirkan yang dikatakan Elena.


Uhukk...uhukk...


Batuk Elena dengan wajah pucatnya. Sekarang wajah Elena terlihat sangat pucat ditambah dengan matanya yang semakin lama semakin bengkak karena menangis.


Yuki yang melihatnya sontak khawatir.


"Kamu tidak apa apa Elena? Wajahmu terlihat pucat?" tanya Yuki khawatir. Dia memegang bahu Elena lembut.


Elena menggeleng lagi. Dia juga merasa tidak enak, seperti lelah, apalagi dia yang menangis lama tadinya.


"Ayo berbaring sini, biar kakak periksa." ujar Yuki yang kebetulan membawa stetoskop miliknya.


Elena hanya menurut saja karena khawatir akan bayinya juga. Dia langsung segera berbaring di sofa itu. Yuki memeriksa Elena dengan lembut, memeriksa perutnya menggunakan stetoskopnya.


"Bayi kamu tidak apa apa, sepertinya kamu kelelahan Elena sehingga membuat daya tahan tubuhmu melemah. Kamu sudah makan kan?" jelas Yuki bertanya.

__ADS_1


"Hanya sedikit tadi kak." jawab Elena pelan.


"Astaga! Kamu ini! Untung saja sekarang kakak sudah tau, Kakak pasti akan selalu menjagamu dan bayimu." ujar Yuki.


"Kamu duduk dulu ayo biar kakak ambilkan bekal yang kakak bawa dari rumah untuk kamu." ujar Yuki sembari membantu Elena berdiri.


"Tidak perlu kak, Elena juga membawa bekal." ujar Elena pelan.


"Benarkah? Yasudah dimana bekalmu biar kakak ambilkan, kamu harus makan sebelum keadaanmu dan bayimu lebih buruk." Ujar Yuki.


Elena tersenyum tidak enak.


"Ada di meja resepsionis kak hehe, tadi Elena titip disitu." ujar Elena tidak enak.


"Hmm yasudah kakak ambilkan ya, kamu tunggu disini." ujar Yuki hendak pergi namun ditahan oleh Elena.


"Pemeriksaan kakak dua jam lagi, kamu tenang saja. Sudah biar kakak ambilkan dulu." ujar Yuki langsung segera menjauh pergi.


Elena yang melihatnya tersenyum penuh arti melihat punggung Yuki yang sudah keluar dari ruangannya.


"Aku merasa lebih tenang setelah jujur, dan ternyata kejujuran itu sangat membantuku. Tuhan mengirimkan kak Yuki untuk membantu aku melewati masa masa sulit ini." gumam Elena pelan dengan senyumannya. Dia seperti ingin menangis lagi namun air matanya tidak keluar. Hahahha dia sangat cengeng....


...****************...


"Bagaimana hasil pemeriksaannya om?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Wina. Iya, dia adalah Wina yang sekarang sedang berada di rumah sakit dengan membawa tespek yang dia dapatkan dari kamar Elena.


Om yang dimaksud oleh Wina adalah seorang dokter. Dokter ini merupakan dokter keluarga Wina yang sudah bertahun tahun dekat dengan keluarganya. Dokter ini merupakan dokter yang sangat dipercayai oleh Wina dan keluarganya, jadi Wina yakin bahwa hasil pemeriksaan dokter ini tidak mungkin palsu atau tidak benar.


"Dari hasil pemeriksaannya om, tespek yang kamu bawa ini adalah tespek asli dan bergaris positif." ujar dokter pria itu yang bernama Mahen.

__ADS_1


Wina melebarkan matanya tidak percaya.


"Lalu apa rambut yang saya bawa itu positif dengan tespek itu?" tanya Wina lagi teringat dengan rambut yang dia bawa.


Rambut siapa? tentu saja rambut Elena yang tinggal di sisir miliknya. Wina sadar itu untuk memastikan bahwa tespek itu memang milik Elena atau bukan.


Dokter Mahen terdiam sebentar lalu mengangguk dengan yakin. Setelahnya, dia langsung memberikan surat hasil pemeriksaan kepada Wina. Wina yang melihatnya dengan cepat membuka kertas itu dan membaca isinya baik baik.


Wina yang membacanya menutup mulutnya tidak percaya.


"Ada apa Wina? Katakan kepada om?" tanya dokter Mahen. Dia sebenarnya sudah curiga maksud dari semua yang dilakukan oleh Wina, namun dia tidak mau langsung bertanya melihat situasinya yang tidak pas. Wina terlihat tidak bisa diganggu.


"Om..om gak salah kan?" tanya Wina menatap Mahen tidak percaya.


"Om tidak salah, itu hasil pemeriksaannya Wina. Siapa orang yang kamu maksud ini?" tanya Mahen. Kebetulan, dia belum tau masalah yang menimpa keluarga suaminya Wina yang juga menjadi masalahnya.


"Wina gak bisa ceritakan ini sekarang om, tapi makasih untuk semuanya. Wina perlu dulu om." ujar Wina buru buru dan langsung menjauh pergi.


"Hati hati Wina." ujar Mahen nyaris berteriak. Dia menggeleng menatap Wina yang buru buru pergi. Penasaran namun Wina belum mau menceritakannya, yasudahlah....


Wina memilih pergi ke sebuah taman dekat rumah sakit. Dia mau mencoba tenang dan berpikiran jernih.


"Bagaimana ini? Aku tidak menyangka kalau ini yang sebenernya terjadi. Ini yang membuat Elena pergi. Tapi kenapa? Aku kenal Elena anak yang baik, dia tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Elena seperti ini? Dia tidak punya pacar seingatku. Lalu bagaimana jika keluarganya tau. Mama, papa, apalagi kakaknya dan teman temannya, mereka pasti akan sangat hancur." gumam Wina. Dia memijit pelipisnya yang terasa pening. Entah kenapa, sudah hampir seminggu Wina merasa dirinya sering merasa pening dan mual. Dia sempat berpikir dirinya hamil, namun Wina tidak percaya dan tidak ada niat untuk memeriksanya. Mereka berhubungan intim di ranjang, Wina bisa menghitungnya karena Virgo yang sering pulang malam dengan wajah lelahnya. Palingan saat Wina benar benar menginginkannya, mereka akan melakukannya. Namun Wina tidak sering memikirkan dan merasakan untuk menginginkan itu karena banyaknya hal yang terjadi. Mungkinkah secepat itu?


...****************...


Esoknya ditempat lain, Virgo dan Zeyn beserta dengan semua bawahan Zeyn tengah berkumpul di ruangan Zeyn. Mereka akan membahas semua hasil pencarian.


"Bagaimana?" tanya Zeyn dingin menatap bawahannya yang lengkap dengan pakaian hitam tebal mereka yang berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka ini adalah ketua dari setiap rombongan kawanan mereka. Jadi ada sepuluh ketua, entah sudah berapa banyak bawahan mereka dengan satu ketua saja.

__ADS_1


__ADS_2