
Yuki yang melihat Elena keluar hanya bisa menatapinya dalam. Yuki mengamati baik baik perut Elena yang cukup besar. Elena memang membuka jasnya sehingga menampilkan tubuhnya. Yuki menjadi lebih kaget.
Kalian tentu tau kan apa yang ada di pikiran Yuki? Ya, dia curiga jika Elena sedang hamil!
Yuki berniat ingin menghampiri Elena namu teringat jika dia belum tau semua faktanya. Yuki tidak mau asal menuduh atau gegabah tanpa bukti. Dia harus tau semua faktanya.
Setelah melihat Elena sudah benar benar pergi, Yuki cepat cepat berjalan masuk. Dia tau pasien selanjutnya akan segera masuk maka Yuki cepat cepat memasuki ruangan itu.
Ceklek....
Dokter wanita itu menatap siapa yang membuka pintu. Saat berbalik, matanya menyipit ketika melihat bukan pasien yang masuk, melainkan seorang dokter juga. Ya, Yuki masih memakai jas putihnya!
"Anda siapa?" tanya dokter wanita itu.
Yuki berdehem segera mendekat.
"Perkenalkan saya dokter Yuki." ujar Yuki tersenyum tulus sembari memberikan tangannya untuk dijabat.
Dokter wanita itu menatap tangan Yuki sembari mengingat nama itu. Tiba tiba...
"Kamu dokter sebelah kan? Pemilik rumah sakit juga?" tanya dokter itu teringat. Siapa tidak kenal rumah sakit Yuki dan juga pemiliknya. Dia pasti tau itu. Dia juga kenal bahwa pemilik rumah sakit itu juga seorang dokter.
__ADS_1
Yuki masih tersenyum dengan mengangguk pelan membenarkan perkataan dokter wanita itu.
Dokter itu yang melihatnya menganga sebentar namun kembali menenangkan dirinya.
"Apa tujuan anda kesini nona?" tanya dokter itu mulai lebih sopan. Bagaimanapun, dia tau bahwa Yuki cukup jauh di atasnya. Mereka tidak setara!
"Saya ingin membicarakan sesuatu dengan kamu. Tetapi kita membicarakan itu tidak sekarang karena saya tau kamu sedang bekerja. Bisakah kita bertemu untuk membicarakan itu setelah kamu siap bekerja?" jelas Yuki sembari bertanya dengan sopan.
Dokter itu mengerutkan keningnya heran. Ingin membicarakan apa? Pikirnya. Dia saja baru pertama kali ini dekat bahkan berbicara langsung dengan Yuki.
Dokter itu mengangguk cepat meskipun belum paham. Dia juga penasaran. Buat apa orang sepertinya diajak membicarakan sesuatu? Mereka saja tidak terlalu saling kenal.
"Baiklah, saya pergi dulu. Kita akan bertemu nanti." ujar Yuki lalu segera pergi. Dokter itu hanya diam mematung dengan pikirannya yang masih terus bertanya tanya. Namun diamnya dokter itu tidak lama karena pasien baru segera masuk sehingga membuatnya melanjutkan pekerjaannya.
"Elena, kamu dimana?" gumamnya pelan. Bibirnya serasa kaku ingin berbicara dan bulir air mata masih terus membasahi pipinya.
"Kami disini sudah terus mencarimu sayang." gumamnya lagi. Siapapun akan tau jika dia benar benar sedang sangat sedih ketika melihat dia yang seperti ini.
Kalian tau siapa wanita itu? Dia adalah Wina.
Wina tengah diam terduduk sendiri di belakang rumahnya. Lalu apakah dia tidak mengurus Nita? Dia mengurusnya dengan baik. Wina sudah mengurus Nita dengan sangat baik sebisanya. Saat ini, Nita sudah tidur sehingga dia bisa tenang dengan kesendiriannya. Selama dia mengurus Nita, nita terus bertanya mengenai Elena. Di juga terus bertanya bagaimana kehidupannya sekarang? Apakah dia masih hidup? Setiap hari, Wina harus memberikan jawaban yang pas dan berbeda untuk menenangkan nita. Wilson? Keadaannya semakin lama semakin memburuk. Setiap hari merasakan kekhawatiran membuat kondisinya semakin lemah dan buruk. Dia sedang beristirahat juga di kamar. Lalu Virgo dan Edward? Tentu saja mereka bekerja sembari terus berjuang mencari keberadaan Elena. Sehingga tinggal Wina yang berada di rumah ini dengan keadaan yang masih lebih sadar. Namun dia juga merasa sangat sedih dan sangat merindukan Elena.
__ADS_1
Wina mengambil kotak kecil yang berada di kantong bajunya. Kotak yang berwarna merah keemasan yang berukuran kecil. Dia membukanya perlahan. Terlihat sebuah kalung yang berwarna perak dengan kemewahannya yang sangat terlihat.
Kalian tau buat apa itu? Itu adalah kalung yang dibeli oleh Wina dan Virgo sebagai oleh oleh juga hadiah buat Elena atas wisudanya. Mereka membelinya untuk Elena. Mereka yakin kalau Elena melihat ini, dia pasti akan sangat senang.
"Kami sudah membelikanmu kalung ini sayang. Pulanglah Elena, kami merindukanmu!" gumam Wina lagi. Bulir air matanya semakin deras. Wina mengusapnya dengan kasar. Dia terus menatapi kalung itu sambil terus membayangkan bagaimana senangnya Elena jika menerima kalung ini. Tetapi ternyata, ini yang terjadi?
Wina tiba tiba teringat jika mereka tidak pernah memeriksa kamar Elena selama kehilangannya. Wina yang mengingat itu bergegas ingin memeriksa kamar Elena. Ini juga bisa mengobati rasa rindunya bukan? Lagian saat ini adalah saat yang tepat untuk memeriksanya karena Nita dan Wilson sedang beristirahat.
Wina berjalan pelan kearah kamar Elena. Saat sudah sampai didepannya, Wina menarik nafas dalam dalam untuk membuka pintu dan memasukinya. Selama kepergian Elena, tidak ada orang yang memeriksa kamar Elena. Semuanya sibuk mencari keberadaan nya saja. Bahkan pembantu tidak berani untuk masuk sekedar membersihkannya. Mereka benar benar tidak berani! Biarkan sampai diperintahkan saja. Mereka tidak mau membuat kesalahan fatal!
Wina memasukinya dengan tenang. Masih didepan pintu, Wina melirik kesetiap sudut kamar Elena. Kamar Elena yang berwarna putih dengan dipenuhi barang barang yang tertata rapi. Kamar Elena ini bisa dikatakan cukup besar karena berisi kamar mandi dan juga balkon kamar.
Wina semakin berjalan maju dan akhirnya tidak sengaja melihat foto Elena yang bersama keluarganya. Bahkan di foto ini, dirinya sangat terlihat. Kenapa? Karena itu adalah foto sewaktu Virgo melamar dirinya. Wina tersenyum mengetahui itu. Ternyata Elena memajang foto itu di kamarnya. Wina sangat terharu.
"Aku sangat menyayangimu Elena." gumamnya lagi sangat pelan.
Wina meletakkan foto itu dan berjalan kearah kamar mandi setelah selesai menatapi setiap foto.
Dia berjalan dengan pelan menatapi kamar mandi yang terlihat masih bersih dan rapi. Wina juga melihat cerminan dirinya di kaca yang cukup besar. Namun tak lama, dia tersenyum dengan sendirinya.
"Kakak izin memasuki kamarmu ya Elena. Kakak sangat merindukanmu, dan dengan memasuki kamarmu, itu bisa mengobati rasa rindu kakak sayang.
__ADS_1
Ditengah kesedihannya itu, Wina tidak sengaja sekilas menatap sesuatu aneh berwarna putih di tong sampah milik Elena. Dengan sudah terlanjur penasaran, Wina mendekati tong sampah itu dan mengambil benda misterius itu.
Wina mengerutkan keningnya saat sudah memegang benda aneh itu. Sebenarnya ini bukan benda aneh karena dia sudah mengenali benda apa ini namun yang membuat aneh adalah mengapa benda seperti ini ada di kamar Elena? Dan berada di tong sampahnya dia juga?