Pernikahan Karena Satu Malam

Pernikahan Karena Satu Malam
BERBICARA


__ADS_3

Elena memasuki rumahnya dengan tenang. Ternyata baru saja saat ia ingin memasuki rumahnya, ternyata kedua orang tuanya dan satu abangnya sedang berdiri didepan pintu. Mereka yang melihat Elena pulang langsung memeluk Elena dengan kekhawatiran mereka.


"Kamu dari mana saja sayang?" tanya Nita selepas memeluk Elena. Elena masih diam saja menatap mereka. Hatinya hangat setiap kali diperhatikan seperti ini.


"Kami sudah cukup lama menunggumu. Ini sudah jam berapa, kenapa baru pulang jam segini nak? Kami khawatir." ujar Wilson mengelus kepala Elena sayang.


"Abang juga udah telpon semua kawan kamu, cuman mereka bilang kamu gak sama mereka." sambung Edward yang juga khawatir.


Elena menatap mereka semua dengan tersenyum. Bahkan dalam situasi hangat seperti ini, pikiran buruk masih saja suka menghantuinya. Terlintas pertanyaan seperti ini di benaknya, " Apakah mereka masih sesayang ini kepadanya jika mereka sudah tau semua yang telah terjadi?" pikirnya.


Elena tersenyum menatap mereka.


"Tadi Elena habis dari lapangan ma pa Abang, Elena duduk makan bakso tadi." jawabnya berbohong. Tidak mungkin kan dia bilang dia baru saja menangis?


Nita menatap Elena sedikit menyipit. Dia tau Elena habis menangis karena mata Elena yang terlihat sembab. Karena lampu depan mereka yang berwarna kuning ditambah jarak, Wilson dan Edward tidak memperhatikannya. Hanya Nita yang paling dekat dengan Elena dan dia bisa melihat itu. Sebenarnya bisa dikatakan Nita ini sebagai salah satu ibu yang terbaik dan sangat memperhatikan anaknya, namun kita semua tau bahwa semua ibu pasti selalu berbuat yang terbaik buat anak anaknya.


Wilson dan Edward hanya mengangguk karena mereka tau Elena memang suka sendirian seperti itu. Saat lelah bekerja, dia suka makan makan di pinggir jalan. Mereka tau itu. Sementara Nita menatap ragu Elena. Dia tau Elena ini pasti menyembunyikan sesuatu. Dia bisa melihat perubahan yang hampir sebulan ini dari diri Elena. Namun sampai sekarang dia tidak tau itu apa karena Elena tidak mau bercerita.


"Yaudah ayo kita masuk, malam ini sangat dingin." ujar Elena sambil menarik Nita dan Wilson masuk, tetapi Edward masih di teras rumah. Dia mengambil hpnya yang berada di kantongnya dan mulai mengetikkan sesuatu. Ternyata Edward memberi tahu hal ini kepada Virgo, kebetulan juga chat Virgo yang menanyakan kabar Elena belum di balasnya.


Keesokkan harinya, Zeyn harus kembali dibuat muak. Masih pagi pagi, ternyata Vania sudah datang ke kantornya. Dia harus bersabar sampai Virgo kembali untuk menyelidiki semua kecurigaan mereka tentang Vania dan mila. Ya, dia harus bersabar sementara. Ingatkan dirinya bahwa ini hanya sementara!


"Kenapa pagi pagi sudah disini?" tanya dingin Zeyn tanpa menatap Vania. Dia sibuk menatap berkas berkas yang akan dikerjakannya.


"Iya Zeyn, tadi mama kamu bilang kamu enggak sarapan karena buru buru, jadi dia suruh aku buat nganterin sarapan untuk kamu." jawab Vania ala ala sangat lembut.

__ADS_1


"Enggak perlu." balas Zeyn singkat. Vania menarik nafas untuk bersabar.


"Zeyn!" seru Vania memanggil. Zeyn hanya berdehem saja.


"Kayanya mama kamu suka deh sama aku, trus dia pernah bilang bahwa dia senang kalau kita bersama." ujar Vania sambil berjalan jalan di depan Zeyn. Zeyn menaiki alisnya menatap Vania.


"Trus?" tanyanya tenang.


"Ya kamu gak senang juga? Kamu gak ada perasaan yang sama kaya mama kamu gitu? Dan kamu gak mau buat mama kamu bahagia?" tanya Vania dengan memainkan tangannya.


"Maksud kamu apa sih?" tanya Zeyn kurang mengerti.


Vania menghela nafas menatap Zeyn.


"Kamu gak mau ikuti keinginan mama kamu?" tanya Vania. Zeyn membuang muka malas.


"Kenapa? Kamu gak mau buat mama kamu bahagia?" tanya Vania tidak senang mendengar jawaban Zeyn.


"Kamu tau kan kalau aku gak suka dipaksa? Dan aku juga tidak mau bersama dengan orang yang tidak aku cintai." balas Zeyn dingin.


"Zeyn, kamu emang gak ada sedikitpun perasaan sama aku?" tanya Vania mulai mendekati Zeyn. Dia menatap Zeyn dengan penuh harap.


Zeyn menatap Vania dengan tenang sembari menghela nafas lelah. Lelah terus terusan membahas hal ini.


"Aku udah beberapa kali berbicara soal ini kan Vania? Apa kurang jelas?" tanya dingin Zeyn.

__ADS_1


"Iya aku tau, tapi aku masih sangat berharap kita bisa bersama Zeyn. Aku udah lama menunggu kamu. Kamu gak ada niatan membuka hati untukku Zeyn?" tanya lagi Vania dengan matanya yang mulai berkaca kaca.


"Enggak. Lagian aku gak nyuruh kamu nunggu aku kan? Ada banyak pria diluar sana yang lebih baik dari aku, jadi kenapa harus aku Vania? Kau bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik diluar sana." jelas Zeyn menatap Elena tenang.


"Aku gak mau yang lain, aku maunya kamu Zeyn." balas Vania lagi mulai meneteskan air matanya.


Zeyn diam dengan malasnya menatap Vania. Lama lama dia muak dengan hal hal seperti ini. Dia tidak memaksa Vania untuk menunggunya. Bahkan dia sudah beberapa kali mengatakan bahwa dia tidak akan bisa bersama dengan Vania dan dia juga tidak memberikan harapan apapun. Lalu salahnya dimana? Zeyn sangat heran.


"Terserahmu saja Vania. Aku mau bekerja, tolong jangan ganggu aku." balasnya malas dan mulai kembali sibuk dengan pekerjaannya. Vania diam saja menatap Zeyn dengan kesalnya. Dia menghapus sisa air matanya dan mulai keluar dengan kesalnya.


Saat ingin keluar, ternyata Vania berjumpa dengan Mila yang juga ingin masuk keruangan Zeyn.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Mila yang melihat Vania yang terlihat sedih.


"Zeyn menolak aku lagi Tante." jawab Vania dengan sedihnya.


"Kamu tenang ya, Tante akan berbicara dengan Zeyn." ujar lembut Mila sembari mengelus lembut tangan Vania. Vania mengangguk lebih tenang.


"Kamu pulang dan siap siaplah. Kamu ada jam pemotretan hari ini kan sayang?" tanya Mila lembut dan Vania kembali mengangguk. Dia memang ada jam pemotretan siang hari ini.


"Yaudah aku pulang ya tante. Aku percayakan semuanya kepada tante." ujar Vania menatap Mila dengan penuh harap. Mila mengangguk tersenyum.


Setelah Vania menjauh pergi, Mila langsung segera masuk kedalam ruangan Zeyn. Dia mendapatkan Zeyn yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Mila langsung berjalan dengan tenang dan duduk di sofa. Zeyn yang melihatnya menoleh dan menatap Mila dengan penuh heran.


Tumben sekali dia datang kesini? Pikirnya.

__ADS_1


"Zeyn." seru Mila menatap Zeyn yang mulai memberhentikan sejenak pekerjaannya.


"Ada apa ma? Tumben sekali datang ke kantor?" tanyanya tenang. Sebenarnya dia juga malas dengan situasi seperti ini. Baru saja terlepas dari Vania, sekarang dia harus kembali menghadapi wanita yang ia curiga ini.


__ADS_2