
"Ehem... sayang." ujar Wina kepada Virgo. Mereka sedang berada di kamar dengan Wina yang memasang dasi Virgo. Virgo akan pergi bekerja dan Wina tentu saja mengurusnya sebelum pergi.
Wina sadar sekarang Virgo cukup jauh berubah. Dia sudah jarang tersenyum lepas, membuat canda tawa, dan sekarang jauh lebih dingin. Wina memaklumi itu. Bahkan dia saja sama sekali tidak niat bercanda tawa karena ikut merasakan bagaimana hari hari yang terjalani rasanya sangat berat.
"Hmm." dehem Virgo menatap Wina dengan tersenyum tipis. Dia rasanya berat sekali untuk menjalani hari. Dimulai dari keluarganya yang hidup dengan tidak sebaik dulu. Mama dan papanya yang sakit sakitan dan terus saja bertanya tentang Elena. Wina yang juga berharap Virgo mendapatkan hasil terbaik dan dirinya sendiri yang rasanya gagal untuk melindungi dan menjaga adiknya. Virgo menanggung semua rasa sakit itu tanpa mau membagikannya kepada siapapun. Dia tidak mau orang lain juga ikut sangat terluka seperti dirinya.
"Aku ingin meminta izin." ujar Wina ragu.
Virgo memudarkan senyum tipisnya dan menatap Wina dengan heran. Tumben sekali, pikirnya.
"Izin apa? Kamu mau pergi?" tanya Virgo cepat.
Wina mengangguk ragu menatap Virgo.
"Iya, bolehkan? Hanya sebentar saja." ujar Wina menatap Virgo berharap.
"Mau kemana?" tanya Virgo dingin.
"E...ke supermarket, aku ingin berbelanja untuk kebutuhan dapur." ujar Wina sedikit gugup.
Virgo menaikkan alisnya heran.
"Bukannya bibi yang biasanya berbelanja kebutuhan dapur?" tanya Virgo menatap Wina intimidasi.
"I...iya, tapi bibi udah terlalu sibuk banget, aku kasihan sama dia, dia juga udah tua kan?" jelas Wina membujuk dengan halus.
Virgo mencerna sebentar dan menyetujui itu. Selama hari hari berat seperti ini, bibi mereka mengerjakan semua tugas rumah. Dia pasti lelah dan sibuk. Dia juga sudah mulai menua. Virgo baru sadar itu.
"Kamu benar. Yasudah, kamu bisa pergi sayang." ujar Virgo dengan tersenyum lagi.
"Makasih sayang. Aku tidak akan lama. Aku harus merawat mama dan papa juga kan?" tanya Wina tersenyum lebar. Virgo menjawab dengan mengangguk.
Cupp..
__ADS_1
"Aku pergi dan tolong urus semuanya selama aku pergi ya." ujar Virgo mengusap tangan Wina setelah mengecup keningnya.
"Iya, semoga ada kabar baik tentang Elena ya." ujar Wina sendu.
"Amin." sahut Virgo.
"Ayo sarapan." ujar Virgo mengajak Wina turun kebawah untuk sarapan.
"Tidak sayang, aku sarapan nanti saja. Kamu yang harus lebih dulu sarapan, aku sudah menyiapkannya. Jadi, pergilah sarapan sana." ujar Wina menolak dengan halus.
"Kamu ingin apa?" tanya Virgo.
"Aku masih harus membereskan kamar kita." jawab Wina lembut.
"Hm baiklah." sambung Virgo dan langsung pergi.
"Aku akan membuktikannya. Aku tidak percaya ini benar." gumam Wina menatap kosong kedepan.
Di rumah sakit London, Elena memasuki ruangannya dengan tenang. Dia tersenyum ceria seperti biasanya. Wajah cantiknya bertambah sangat sangat cantik dan menarik saat dia tersenyum dengan lepas. Sebenarnya, banyak yang menyukainya, termasuk dokter pria yang masih single. Namun, Elena menutup diri dan menjauhkan diri saat sadar bahwa hubungannya semakin lama semakin melebihi batas pertemanan.
"Pagi Elena." ucap seorang dokter wanita yang sudah cukup tua. Umurnya sudah jalan kepala 5 namun dia masih sangat cantik karena sering perawatan dan berolahraga.
"Pagi ibu Nita." sahut Elena. Namanya adalah Nita. Elena tiba tiba teringat dengan mamanya karena nama mamanya dan nama dokter ini sama sekali. Elena benar benar teringat dengan mamanya yang dia tinggalkan. Apa kabar ya?
"Kamu terlihat lebih ceria dari biasanya, kenapa?" tanya Nita disana menggoda.
"Tidak apa apa ibu, ya suasana hati Elena sangat baik hari ini." jawab Elena santai.
"Iya iya. Makanya kamu selalu cantik, kamu suka tersenyum ternyata." ucap lagi Nita.
"Emang gitu ya Bu?" tanya Elena tidak percaya.
"Kamu ini seorang dokter masa tidak tau!" ketus Nita bercanda.
__ADS_1
"Iya ibu, Elena juga pernah denger kok." ucap Elena mengalah
"Yasudah, kita kembali bekerja ya." ucap Nita semangat.
"Sukses buat hari ini ibu dokter yang cantik." ujar Elena mengedipkan satu matanya dan langsung berjalan cepat untuk menjauh pergi.
"Tengil kamu!" ketus Nita. Nita tau maksud Elena apa. Nita yang sudah masuk kepala 5 ini sama sekali belum menikah. Jadi, maksud Elena adalah semoga hari ini Nita mendapatkan pasangannya. Padahal, Nita sebenarnya sudah tidak ada niat lagi untuk mencari pasangan. Dia akan menikmati masa tuanya sendiri.
Yuki memasuki rumah sakit dengan dingin. Orang orang rumah sakit bahkan heran mengapa Yuki berbeda sekali seperti biasanya. Biasanya, dia akan datang dengan senyuman yang ramah. Tapi sekarang?
Yuki berjalan kearah ruangan Elena dan langsung memasukinya. Saat sudah masuk, Yuki melirik kesekeliling ruangan yang kosong. Elena dimana?
Yuki kembali ke luar dan bertanya kepada dokter yang lewat.
"Maaf Aina, dokter Elena ada dimana?" tanya Yuki kepada dokter Aina yang kebetulan lewat. Dokter Aina adalah dokter anak.
"Dokter Elena sedang melakukan pemeriksaan di ruangan lantai paling atas Bu." jawab Aina sopan dan jujur. Yuki yang mendengarnya terdiam
"Saya permisi kembali bekerja ya Bu." ujar Aina dan langsung menjauh pergi setelah Yuki memberikan anggukan.
Waktu terus berputar dan berlalu. Yuki yang sedari tadi gelisah memikirkan Elena memilih untuk menemuinya langsung ke lantai paling atas. Dia yakin pemeriksaan pasti sudah selesai karena waktu yang sudah cukup lama berlalu.
Saat ingin berjalan ke arah lift, ternyata Elena baru saja keluar dari lift menuju lantai paling bawah, tempat dimana ruangannya berada. Yuki yang melihatnya langsung bergegas berlari ke arah ruangan Elena. Dia tau Elena pasti menuju ruangannya. Yuki harus lebih dulu sampai di ruangan Elena sebelum Elena sendiri! Ingin apa? Kita lihat saja nanti.
Elena berjalan dengan santai dan pelan ke arah ruangannya. Saat sudah sampai, dia langsung memasuki ruangannya dan menutup pintunya.
"Haduhh...cape banget deh." ujar Elena menghela nafas lelah saat sudah mendudukkan dirinya di kursi kerja miliknya.
"Kalian bisa merasakan lelah mama gak sih kembar?" tanya Elena menatap perutnya yang mulai membesar sembari mengusapnya lembut. Jasnya? Dia sudah melepasnya.
"Kalau iya, maafin mama ya. Mama gak bisa kaya ibu lain yang duduk tenang di rumah. Mama harus bekerja, dan itu semua untuk kalian. Biar mama punya uang buat besarin kalian sayang." ucapnya sembari terus mengusap perutnya lembut.
"Mama gak tau gimana saat bos mama tau trus dia pecat mama. Mama harus cari pekerjaan lain dong buat biayain kalian. Gak apa apa, demi kalian mama rela lakuin apapun. Sehat sehat sampai lahir ya. Mama gak punya siapa siapa selain kalian hem." jelas lagi Elena dengan mata yang berkaca kaca. Dia mengusap perutnya lebih lembut dan mengusap air matanya yang ingin jatuh.
__ADS_1