
"Siapa kau sebenarnya,dan mau apa kau mengajakku bertemu?"Tanya Felicia penasaran.
"Aruna memiliki kehidupan yang kuat, dia tertusuk oleh penculik wanita dan di larikan kerumah sakit namun ia masih hidup."Ucap perempuan tersebut.
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, mengapa kau menceritakan semua itu seolah kau benar-benar mengenali Aruna."Ucap Felicia lagi.
"Perkenalkan,aku Hana, adik Aruna."Ucap Hana mengulur kan tangan nya kepada Felicia.
Ya wanita itu adalah Hana entah apa lagi yang ingin ia rencanakan.
"Adik?"Ucap Felicia kurang mengerti.
"Iya adik, namun dengan mama yang berbeda,mama nya sudah meninggal dan dia hanya lah anak haram papa ku."Ucap Hana.
"Lalu?"Ucap Felicia.
"Nona Felicia,aku tau kau pasti menginginkan kematian Aruna lebih cepat terjadi bukan?"Ucap Hana menghasut Felicia.
"Lalu apa urusan nya dengan mu?"Ucap Felicia malas.
"Jangan bilang kau tidak akan melakukan apapun nona Felicia,apa kau akan merelakan tuan muda Davin untuk nya?"Ucap Hana lagi.
"Apa maksud mu?"Ucap Felicia.
"Tuan muda Davin sangat mencintai mu,lalu bagaimana kau bisa tahan melihat nya bersama dengan Aruna yang berstatus istri nya sekarang."Ucap Hana.
"Tentu saja aku tidak tahan bahkan aku setiap hari di buat kesal oleh wanita itu."Ucap Felicia.
"Nah coba renungkan baik-baik mengapa di sat dia pergi kutukan itu malah berpindah kepada mu, itu aneh bukan, bagaimana jika dia tidak akan mati itu berarti selama nya dia akan menjadi istri sah Davin Winston dan kau selamanya tidak akan bisa merebut posisi itu kalau dia tidak mati."Ucap Hana panjang lebar.
"Tidak aku tidak akan rela bagaimana pun caranya perempuan itu harus mati dan aku akan menikah dengan Davin, dan menjadi nona muda keluarga Winston sesungguhnya."Ucap Felicia semakin memanas.
"Kita punya tujuan yang sama nona Felicia, bagai mana jika kita berkerja sama?"Ucap Hana menatap Felicia.
"Bekerja sama maksud mu?"Ucap Felicia.
"Ya bekerjasama untuk membuat Aruna lebih cepat menemui ajal nya."Ucap Hana dengan jahat nya.
"Apa aku tidak salah dengar? Bukan kah seharusnya kau membela nya kau ini saudara nya atau musuh nya?"Ucap Felicia.
"Itu tidak penting yang jelas aku membencinya dan aku tidak ingin dia kembali merusak kebahagiaan ku."Ucap Hana.
__ADS_1
"Seperti nya perempuan itu benar-benar sial, dia selalu saja merusak kebahagiaan orang lain pantas tidak ada yang menyukai nya sama sekali."Ucap Felicia.
"Benar sekali."Ucap Hana.
"Lalu bagaimana cara nya?"Ucap Felicia.
"Kita bantu dia sedikit agar cepat mati."Ucap Hana lagi.
"Apa ide awal mu?"Tanya Felicia.
Hana pun membisikan sebuah rencana ke telinga Felicia
"Ide yang bagus."Ucap Felicia bersemrik.
Mereka pun tertawa bersama, entah ide jahat apa yang akan mereka lakukan kepada Aruna yang jelas mereka berencana untuk membunuh Aruna.
Sementara itu di sisi lain.
Beberapa jam lalu Aruna meminta ijin Kepada Davin untuk keluar jalan-jalan menemui Rumi sahabat nya.
Setelah beberapa saat mengobrol Aruna pun memutuskan untuk pulang ke mansion.
Karena rumah Arumi berada di tempat yang sedikit terpencil dan melewati beberapa lorong Aruna pun memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Hari semakin gelap gerimis pun sudah mulai turun.
"Mengapa aku merasa seperti ada orang yang mengikuti aku?"Batin Aruna kemudian berhenti dan menoleh ke arah belakang nya.
Namun tidak bada siapapun di belakang nya.
Aruna pun semakin mempercepat langkahnya ia sudah merasa sangat tidak aman berda di lorong itu.
"Wanita ini sangat cantik, sayang sekali jika ia harus mati, mengapa aku tidak mengajak nya bersenang-senang terlebih dahulu?"Ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi dan bertato memakai pakaian serba hitam dan juga topi yang ternyata memang dari tadi mengikuti Aruna.
Karena takut akan kehilangan jejak Aruna laki-laki itu pun bergegas mengejar Aruna.
"Hay cantik."Ucap laki-laki tersebut memegang pundak Aruna.
"Siap ... siapa kau?"Tanya Aruna gemetar saat melihat sosok laki-laki yang menyeramkan di belakang nya.
"Haha, ternyata wajah mu memang sangat cantik."Ucap laki-laki tersebut mencolek dagu Aruna.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin uang? Aku akan memberikan apa yang ku punya ini ambil lah."Ucap Aruna memberikan tas nya.
"Aku tidak butuh uang!"Ucap laki-laki tersebut menepis tas Aruna.
"Pergi dari sini atau aku akan menelpon polisi!"Ucap Aruna lagi.
"Aku tidak peduli,aku ingin nyawa mu."Ucap laki-laki tersebut mendorong Aruna hingga jatuh terduduk.
"Apa salah ku siapa kau?"Ucap Aruna mulai panik karena laki-laki tersebut memegang pisau di tangan nya.
"Kau tidak perlu tau siapa aku,kau akan mati sebentar lagi mari kita bersenang-senang, aku akan membuat kematian yang indah untuk mu."Ucap laki-laki itu menjulurkan lidahnya sambil menatap tubuh Aruna.
"Ada seseorang yang menyuruh nya untuk membunuh ku."Batin Aruna.
Laki-laki itu kemudian menyobek pakaian yang di gunakan oleh Aruna sambil tertawa.
"Lepas kan aku! Jangan menyentuh ku dasar bajingan!"Ucap Aruna kemudian mengambil batu yang berada di samping nya dan memukul keras ke kepala laki-laki itu.
"Arghh! Dasar wanita ******!"Teriak laki-laki itu kesakitan dan pisau nya pun terlepas dari tangannya.
Dengan cepat Aruna mengambil pisau itu dan dan menodongkan ke pada laki-laki tersebut.
"Cepat katakan kepada ku siapa yang telah membayar mu untuk menghabisi nyawa ku?"Tanya Aruna dengan tatapan mengerikan.
"To ... Tolong jangan,baik lah aku akan mengatakan nya."Ucap laki-laki tersebut ketakutan.
"Cepat sebelum pisau ini menembus usus mu!"Ucap Aruna lagi semakin mendekat.
"Dua orang wanita iya dua orang!"Ucap laki-laki tersebut sambil memegang kepala nya yang bercucuran dengan darah.
"Katakan siapa nama nya!"Ucap Aruna.
"Aku tidak tau siapa namanya,tapi dia bilang hanya dengan membunuh mu maka ia akan bisa menjadi nona muda keluarga Winston seutuhnya."Ucap laki-laki itu.
"Felicia hahaha ternyata dia! Apa salah yang telah ku perbuat sehingga saat aku susah menjadi tumbal dia masih tidak bisa untuk tidak mencari masalah dengan ku."Ucap Aruna kemudian melemparkan pisau itu.
Laki-laki itu pun bergegas kabur dari sana karena takut dengan Aruna yang sudah seperti pesicopat saja, jika ia terus di sana maka ia lah yang akan mati.
"Mulai sekarang selama aku masih hidup, mereka yang telah berani menindas dan membuat penderitaan dalam hidup ku akan ku balas satu persatu."Ucap Aruna dengan tatapan mata penuh dendam.
Hujan semakin deras menguyur tubuh Aruna petir terus menyambar seakan menjadi saksi dari sumpah Aruna.
__ADS_1
Bersambung ....