
"Istri mu yang melakukan ini kepada ku,dia tidak menginginkan aku melahirkan bayi ini."Ucap Rumi dengan tangisan nya.
"Tidak! Aku tidak melakukan apapun!"Ucap mama Fina tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat Rumi.
"Mama, mengapa tidak sopan sekali?"Ucap Aruna kepada mama Fina yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat dan marah-marah.
"Sudah salah tidak mau mengaku, sebenarnya apa yang kau inginkan?"Ucap papa Edwin.
"Itu hanya teh hangat biasa mana mungkin sampai separah itu? Kalian menjebak ku ya?"Ucap mama Fina menunjuk Rumi.
"Bagaimana mungkin? Teh itu aku buat dengan air yang sangat mendidih mengapa mama mengatakan hanya teh hangat?"Ucap Aruna melawan.
"Kau ini benar-benar pembuat ulah!"Ucap papa Edwin berdiri kemudian menampar wajah mama Fina sekali lagi.
"Kau! Kau lagi-lagi menampar wajah ku!"Ucap mana Fina menujuk papa Edwin.
"Keluar kau dari sini! Jangan membuat ulah lagi!"Ucap papa Edwin mendorong mama Fina keluar dari pintu ruang rawat.
"Tenang lah pa,Rumi dan anak nya akan baik-baik saja."Ucap Aruna sambil tersenyum manis.
Aruna bahagia melihat keluarga papa nya kini hancur seperti yang dia inginkan, perlahan hati nya mulai puas karena telah berhasil membuat orang yang membuat mama nya menderita menjadi lebih berkali-kali lipat lebih menderita.
"Ah,ini sudah hampir malam, aku sebaiknya pulang karena sopir ku sudah menunggu di gerbang rumah sakit,papa sebaiknya jaga Rumi di sini,aku keluar dulu."Ucap Aruna berjalan meninggalkan ruang rawat tersebut.
"Nona muda tuan muda Davin menyuruh nona menemui nya di sebuah mall."Ucap pak Andi kepada Aruna.
"Ada apa?"Ucap Aruna sambil membenarkan duduk nya di dalam mobil.
"Saya tidak tau nona, sebaiknya nona pergi saja."Ucap pak Andi sambil fokus menyetir.
"Baik lah."Jawab Aruna singkat.
Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di mall tersebut.
Aruna turun dari mobil nya kemudian berjalan masuk ke dalam mall itu.
Di pintu masuk sudah berdiri dua orang karyawan mall menunggu Aruna.
"Permisi, apakah ini benar dengan nona Aruna?"Tanya karyawan tersebut.
"Iya benar? Di mana suamiku?"Tanya Aruna tudepoin.
"Mari ikut kami nona."Ucap karyawan mall tersebut.
Tampa basa-basi Aruna pun mengikuti karyawan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang kita lakukan di sini?"Tanya Aruna bingung saat tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan gaun, sepatu dan berbagai alat rias.
"Nona ini adalah ruang rias dan ganti baju."Ucap karyawan tersebut.
"Lalu apa yang harus aku lakukan di sini?"Tanya Aruna semakin kebingungan.
"Nona,tuan muda Davin meminta kami untuk mendanai nona secantik mungkin."Ucap karyawan tersebut dengan sopan.
"Benar kah? Untuk apa? Lalu di mana suamiku?"Ucap Aruna.
"Nanti tuan muda akan ke sini menjemput nona sekarang mari kita mulai."Ucap karyawan tersebut.
Aruna hanya pasrah dengan apa yang di perintahkan oleh Davin dan menurut kepada dua karyawan tersebut.
Satu jam kemudian.
Aruna pun telah selesai di dandani,ia terlihat begitu cantik bak seorang putri kerajaan.
Ia mengunakan gaun ungu dan rambut yang di sanggul rapi dengan sepatu ungu yang senada dengan gaun nya.
"Nona lihat lah anda begitu cantik."Ucap karyawan tersebut.
Aruna terdiam melihat bayangan dirinya yang berada di dalam cermin,baru kali ini ia merasa jika dirinya terlihat begitu cantik.
"Baik kah di mana dia?"Ucap Aruna kembali bertanya.
Aruna pun membalikkan badan nya menatap Davin.
Seketika Davin terpana melihat kecantikan Aruna bahkan ia tidak berkedip sedikit pun.
"Davin,dari mana saja kau?"Ucap Aruna kesal sambil berjalan menghampiri Davin.
"Aku-aku dari ganti pakaian."Ucap Davin gugup dan terlihat terpesona dengan Aruna.
Davin juga terlihat rapi dan sangat tampan dengan memakai kemeja hitam senada dengan celana nya.
"Kau,kau sangat tampan."Gumam Aruna melirik Davin.
"Kau bahkan lebih cantik dari putri kerajaan."Gumam Davin menggoda istrinya itu.
"Ah, sudah lah, buat apa berdandan seperti ini?"Ucap Aruna bingung.
"Maaf aku belum sempat mengatakan ini kepada mu,mama ku kembali mengadakan sebuah pesta atas kembali nya Jesi dari luar negeri dan kita harus hadir di sana."Ucap Davin menjelaskan.
"Hmm, begitu, tapi buat apa aku harus pergi ke sana? Bukan kah mama mu tidak menyukai aku?"Ucap Aruna malas.
__ADS_1
"Jika kau tidak datang maka mama akan mencari cara untuk mendekatkan aku dengan wanita itu."Ucap Davin malas.
"Baik-baik ayo berangkat."Ucap Aruna tak ingin membuat suaminya marah.
Mereka pun akhirnya menuju hotel tempat mama Jihan mengadakan pesta itu mengunakan mobil mewah Davin.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di hotel tersebut.
Davin turun dari mobil dan membuka kan pintu untuk Aruna.
Dengan lembut Aruna meraih lengan Davin dan mereka berjalan anggun masuk ke dalam aula pesta.
"Lihat lah,itu istri tuan muda Davin dia terlihat sangat cantik."Gumam para tamu.
"Alah, tidak usah bilang cantik,dia bahkan tidak ada apa-apa nya di banding kan dengan Jesi."Ucap tamu lainnya.
"Bibi,itu Davin sudah datang."Ucap Jesi kepada mama Jihan.
"Ah cepat pergi lah temui dia."Ucap mana Jihan kepada Jesi.
"Tapi bibi, Aruna berada di samping nya."Ucap Jesi cemburu.
"Sudah tidak perlu memikirkan wanita itu."Bisik mama Jihan.
Namun baru saja Jesi ingin menghampiri Davin, Davin dengan cepat menarik tangan Aruna menaiki tangga menuju lantai atas hotel.
"Ada apa? Mengapa kita meningal kan aula pesta?"Ucap Aruna memberhentikan langkah nya.
"Jika kita tidak kabur maka mama akan memaksa ku untuk berbincang dengan Jesi."Gerutu Davin malas.
"Mengapa kau tidak mau? Bukan kah Jesi juga sangat cantik?"Tanya Aruna kepada Davin.
"Apa kau mau aku menyapa nya? Aku bahkan tidak ingin melirik nya sama sekali."Ucap Davin malas.
"Ya sudah, jangan menatap ku dengan tatapan marah seperti itu kau terlihat menakutkan."Ucap Aruna tertawa geli.
Sementara itu Jesi begitu kesal melihat Davin yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya.
"Awas saja kau Aruna."Batin Jesi kesal.
"Lihat lah tuan muda bahkan tidak melirik nona Jesi,dia malah asik bercanda dengan nona Aruna."Gumam tamu di samping Jesi.
"Sudah biar kan saja."Jawab tamu lainnya.
Jesi pun kembali menyibukkan dirinya agar tidak terlalu malu di depan tamu karena Davin tidak peduli sedikit pun kepada nya.
__ADS_1
Bersambung ....