
"Felicia apa yang kau lakukan?"Ucap Davin memegang tangan Felicia.
"Mengapa? Mengapa harus aku yang menderita seperti ini? aku bahkan tidak akan bisa hamil anak mu lebih naik aku mati saja."Ucap Felicia bersandiwara.
"Tidak, tenang lah aku akan menerima mu dengan keadaan apapun."Ucap Davin dengan bodoh nya.
Aruna pun masuk ke dalam kamar tersebut dan mendekati Felicia.
"Maaf,maaf kan aku."Ucap Aruna merasa bersalah dan tidak tau jika ia hanya di jebak.
"Kau! Kau yang membuat aku seperti ini!"Ucap Felicia melepaskan pelukan Davin kemudian mendekati Aruna dan menampar nya.
"Ah."Ucap Aruna memegang pipinya yang terasa memanas akibat tamparan itu.
"Aku akan membalas mu! Kau harus mati!"Ucap Felicia mengambil pisau yang ada di dalam Napan buah-buahan di atas nakas.
Namun dengan cepat Davin menghalangi Felicia,dan akhirnya lengan nya lah yang di gores oleh Felicia.
"Davin!"Jerit Aruna.
"Felicia tentang kan dirimu."Ucap Davin sambil memegang lengan nya yang kini bercucuran dengan darah.
"Kenapa kau melindungi nya?"Ucap Felicia marah.
"Bodoh jika aku tidak melindungi nya maka kau akan menghabiskan sisa hidup mu hanya di dalam penjara."Ucap Davin lagi.
"Ternyata dia melakukan nya untuk melindungi Felicia."Batin Aruna terasa sedih.
"Bisa kah kau tenang sedikit?"Ucap Davin kepada Felicia.
"Bagaimana aku bisa tenang kita tidak akan memiliki keturunan."Ucap Felicia menangis.
"Bisa, kita pasti bisa, kita masih bisa mengunakan ibu pengganti."Ucap Davin sambil menahan sakit di lengan nya.
"Davin aku akan panggil dokter untuk mu."Ucap Aruna kemudian keluar dan memanggil dokter untuk menangani Davin.
Satu jam berlalu kini Davin telah di bawa ke ruang rawat dan di obati lukanya.
"Apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak berniat untuk mendorong nya."Ucap Aruna menghampiri Davin sambil membawa segelas air panas.
Karena tangan nya licin Aruna tampa sengaja menumpahkan air tersebut ke tangan nya sendiri.
"Ahhh,Panas."Ucap Aruna memegang tangan nya.
__ADS_1
"Segera periksa ke dokter,itu akan bahaya jika telat di obati, bisa infeksi."Ucap Davin menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Baik kah setelah itu aku akan kembali ke sini lagi."Ucap Aruna kemudian keluar dari kamar rawat Davin.
"Mengapa aku masih memiliki rasa khawatir kepadanya?"Batin Davin saat Aruna keluar dari ruang rawat tersebut.
Aruna pun pergi ke sebuah ruangan untuk mengobati lukanya.
"Mengapa kau tidak berhati-hati?"Ucap suster tersebut melihat tangan Aruna yang memerah akibat air panas tersebut.
"Ah iya aku tidak sengaja menumpahkan segelas air panas."Ucap Aruna lagi.
"Baik lah karena dokter nya masih sibuk kau tunggu lah di sini dulu aku akan keluar sebentar."Ucap suster tersebut kepada Aruna.
"Baik lah terima kasih."Ucap Aruna kemudian berbaring.
Namun tidak lama kemudian ia mendengar ada suara langkah kaki yang masuk menuju ruangan tersebut.
"Siapa itu?"Batin Aruna.
Aruna pun memilih untuk bersembunyi di dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan tersebut karena ia mendengar langkah kaki orang itu semakin dekat.
"Tunggu mengapa aku bersembunyi? Siapa tau itu dokter yang akan merawat luka di tangan ku."Ucap Aruna kemudian ingin keluar dari kamar mandi tersebut.
"Tunggu,apa yang ia buang?"Ucap Aruna melihat sang dokter melemparkan sebuah kertas kedalam tong sampah.
"Aku rasa tugas ku sudah selesai."Ucap dokter tersebut kemudian keluar dari ruangan itu.
"Tugas? Tugas apa?"Batin Aruna kemudian perlahan berjalan mendekati tong sampah.
Terlihat sebuah kertas yang sudah tidak tapi lagi.
Dengan perlahan Aruna pun mengambil kertas tersebut kemudian membaca nya.
"Apa? Ini-ini? Kertas ini milik Felicia?"Ucap Aruna kemudian lanjut membaca.
Ternyata itu adalah kertas yang menjelaskan jika Felicia mandul dan tidak bisa memiliki anak.
"Ouh, sekarang aku mengerti mengapa rubah betina itu melakukan hal ini kepada ku,dia menjebak ku,agar aku yang di salah kan."Ucap Aruna tak habis pikir.
Aruna pun berjalan keluar dari ruangan tersebut kemudian menuju ruang rawat Felicia.
"Hikss,aku tidak bisa memiliki anak,apa kah kau masih akan menerima ku?"Ucap Felicia terus memeluk Davin.
__ADS_1
"Tenang lah jangan menangis."Jawab Davin lagi.
"Hentikan drama ini!"Ucap Aruna menatap tajam ke arah Felicia.
"Lihat lah setelah dia berbuat kesalahan bahkan dia tidak mau meminta maaf kepada ku."Ucap Felicia menujuk Aruna.
"Kesalahan? Aku tidak memiliki kesalahan apapun kepada mu wanita ******!"Ucap Aruna emosi.
"Aruna hentikan! Mengapa kau tidak ada habisnya-habisnya membuat masalah?"Ucap Davin marah.
"Dia lah yang membuat masalah,dia memang sejak awal tidak bisa memiliki anak,lalu dia bekerja sama dengan dokter untuk menjebak ku dan seolah-olah aku lah penyebab nya."Ucap Aruna dengan tatapan tajam.
"Apa maksud mu aku melihat kau lah yang mendorong nya!"Ucap Davin lagi.
"Lihat lah betapa licik nya Aruna dia tidak ingin di salah kan."Ucap Felicia sambil menangis.
"Aku tidak peduli lagi apapun yang terjadi dengan dirimu! Yang jelas bukan aku lah yang salah, Davin baca baik-baik surat ini."Ucap Aruna kemudian pergi dari ruangan tersebut.
Davin pun membuka surat yang sudah-sudah kumuh tersebut dan mulai membaca nya.
"Felicia coba jelas kan kepada ku apa yang sebenarnya kau lakukan?"Ucap Davin bingung.
"Davin jangan percaya itu bisa saja di rekayasa oleh Aruna dia tidak ingin di salah kan dia lah yang meminta dokter untuk membuat surat palsu itu,kau tau jika aku sangat sehat, bagaimana bisa aku mandul."Ucap Felicia begitu pintar berdalih.
"Astaga banyak sekali akal Aruna."Ucap Davin kesal.
Davin pun masih tetap mempercayai Felicia bahwa Aruna lah yang salah.
Satu Minggu kemudian.
Kini Felicia telah di bawa pulang ke mansion karena kondisi nya sudah semakin membaik.
"Mama tidak mau tau Davin pokok nya dia harus membayar apa yang telah dia perbuat kepada Felicia!"Ucap mama Jihan kepada Davin.
"Tapi apa yang harus kita lakukan ma, semuanya sudah terjadi."Ucap Davin kepada mama nya.
"Mama ingin sebelum dia mati dia harus melahirkan seorang anak untuk mu, dan kau dan Felicia akan merawat nya mengerti?"Ucap mama Jihan kepada Davin.
"Tidak akan!"Ucap Aruna yang tiba-tiba datang ke ruang tengah.
Ya sedari tadi Aruna mendengar kan apa yang di bicarakan oleh mama Jihan dan Davin.
Bersambung ....
__ADS_1