Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 36


__ADS_3

"Ini tidak boleh di biar kan, semakin lama Davin semakin dekat dengan perempuan itu, bahkan dia menyuruh ku menikah dengan laki-laki lain."Ucap Felicia gelisah.


Felicia benar-benar di buat stres akan masalah ini ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Ia pun mengambil tas nya kemudian berjalan keluar dari kamar nya menuruni tangga menuju pintu keluar mansion.


Sudah malam begini ia keluar dari Mansion mengunakan taxi online.


"Kemana nona?"Tanya sopir tersebut.


"Bar."Ucap Felicia singkat.


"Baik nona."Jawab sopir taxi tersebut kemudian melajukan taxi nya menuju bar.


Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di bar


Felicia pun turun dari taxi tersebut, kemudian berjalan menuju pintu masuk bar.


"Huh, setidaknya aku bisa menghilangkan rasa stres ku malam ini."Ucap Felicia berjalan duduk di kursi dalam bar tersebut.


Setelah beberapa menit duduk ia pun memesan sebotol bir dan meminum nya.


Sementara itu tidak jauh dari tempat Felicia duduk ada seorang yang menatap nya dengan tatapan aneh.


"Bukan kah itu tunangan tuan muda Davin?"Batin laki-laki tersebut kemudian berjalan mendekati Felicia.


"Hey."Ucap laki-laki itu.


"Tony? Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Felicia menatap wajah Tony.


Ya laki-laki itu adalah Tony.


"tentu saja bersenang-senang. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Tony tersenyum miring.


"Sama seperti mu,aku juga bersenang-senang."Jawab Felicia.


"Apa Davin tidak akan marah kepada mu?"Tanya Tony lagi.


"Marah kepada ku? Dia bahkan tidak mempedulikan aku.


"Mengapa begitu?"Ucap Tony kemudian duduk di samping Felicia.


"Huh, kau tidak tau ya? Aku ini tidak bisa hamil dan sekarang dia lebih memilih Aruna Sialan itu dari pada aku."Ucap Felicia.


"Apa kau masih mencintainya?"Ucap Tony lagi.


"Tentu saja iya."Ucap Felicia.


"Sebaiknya kau lupakan dia malam ini aku akan menemanimu bersenang-senang."Ucap Tony lagi.


"Pergi lah aku tidak butuh teman?"Ucap Felicia malas.


"Kau sangat cantik, tepi lebih sombong."Ucap Tony Dudu di sebelah Felicia.

__ADS_1


"Bukan urusan mu."Jawab Felicia jutek.


"Sudah lah jangan terlalu galak, lebih baik kau minum lagi."Ucap tony menuangkan bir ke gelas Felicia.


"Apa kau gila!?"Ucap Felicia melotot.


"Aku tidak gila, asal kau tau, ketika sedang banyak masalah minum bir adalah jalan terbaik untuk melupakan masalah ini."Ucap Tony.


"Apa kau juga memiliki masalah?"Tanya Felicia.


"Tentu saja iya."Jawab Tony sambil menatap wajah Felicia.


Yang namanya Tony pasti sangat haus akan wanita ia bahkan lupa jika ia memiliki istri di rumah.


"Di mana Hana? Apakah dia tidak bersama mu?"Tanya Felicia lagi.


"Tidak, sudah lah lebih baik kita minum lupakan orang lain."Ucap Tony kembali meneguk minuman nya.


Entah berapa botol bir telah mereka habiskan, Felicia kini sudah mabuk berat bahkan kesadaran nya sudah hampir hilang.


Tony pun memanfaatkan hal itu untuk memuaskan nafsu nya,ia membopong Felicia masuk ke dalam kamar bar tersebut.


Tony merebahkan tubuh Felicia di atas kasur.


"Tidak ku sangka dia sangat ****."Gumam Tony menatap wajah Felicia.


Sementara itu Felicia yang sudah mabuk berat tidak memedulikan apapun yang terjadi ia hanya pasrah dan menikmati.


Perlahan Tony naik ke kasur dan menindih tubuh Felicia


Keesokan harinya.


Felicia membuka mata nya dan melihat Tony yang masih tertidur lelap di samping nya, mereka sama-sama tidak mengunakan sehelai benang pun.


"Astaga apa yang aku lakukan tadi malam?"Ucap Felicia terkejut.


Felicia pun bangun kemudian memakai pakaian nya, diam-diam ia berjalan keluar dari kamar tersebut.


"Aku harus cepat keluar dari sini sebelum ada orang yang mencurigai aku."Ucap Felicia takut.


Felicia pun bergegas keluar dari bar tersebut kemudian menuju jalan raya.


Ia memberhentikan taxi kemudian masuk ke dalam taxi tersebut.


"Mansion Winston ya pak."Ucap Felicia terburu-buru.


"Iya nona."Ucap sopir tersebut.


Tidak butuh waktu lama Felicia pun akhirnya tiba di mansion Winston.


Setelah membayar ongkos taxi tersebut ia pun bergegas masuk ke dalam Mansion.


Sementara itu di balkon atas Aruna sedang melihat nya.

__ADS_1


"Dari mana dia? Seperti nya dia tidak pulang tadi malam."Ucap Aruna curiga.


Namun Aruna tidak ingin menambah masalah nya lagi, ia pun tidak menghiraukan hal tersebut, dan terus melanjutkan aktivitas pekerjaan nya.


Dua Minggu kemudian.


"Aduh apa yang terjadi dengan ku? Mengapa aku sangat mual dan pusing?"Batin Felicia sambil mondar-mandir di dalam kamar nya.


Sudah beberapa hari ini Felicia terus mengurung diri di kamar, bahkan ia tidak pergi ke kantor untuk bekerja seperti Aruna.


"Apa sebaiknya aku ke dokter saja?"Batin Felicia karena sudah tidak tahan dengan rasa mual dan pusing yang ia rasakan.


Siang itu ia pun memutuskan untuk pergi ke dokter dengan menaiki taxi. Karena ia tidak ingin ada satupun orang di mansion itu yang mencurigai nya.


"Selamat nona anda sedang hamil, usia kehamilan anda sekarang sudah menginjak satu Minggu saya harap anda bisa menjaga nya dengan baik karena ini masih terlalu baru."Ucap sang dokter.


"Apa! aku, aku hamil?"Ucap Felicia terbelalak.


"Iya nona ada apa?"Ucap dokter tersebut.


"Tidak, itu mustahil dok, saya tidak bisa hamil bagaimana mungkin saya ini mandul dok."Ucap Felicia terkejut.


"Benar nona,awal nya nona sulit untuk hamil, tetapi bukan tidak mungkin."Jawab dokter itu.


"Astaga benar kah?"Ucap Felicia kebingungan.


"Benar nona."Ucap dokter tersebut.


"Baik lah dok, terima kasih."Ucap Felicia kemudian bergegas keluar dari ruang tersebut.


Dokter itu hanya bisa diam dan melihat tingkah Felicia yang aneh.


Felicia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Apa yang aku lakukan? Bodoh sekali bagaimana jika Davin mengetahui hal ini?"Batin Felicia.


Felicia berfikir keras untuk mencari cara agar menyelesaikan masalah ini.


Namun timbul lah akal licik nya untuk menjebak Davin.


"Aku rasa aku punya ide."Ucap Felicia tiba-tiba tersenyum kecil.


Ia pun kembali pulang ke mansion.


Tidak lama kemudian ia pun tiba di mansion dan bergegas masuk ke dalam kamar nya, ia membuka laci nakas nya terlihat mencari sesuatu.


"Ini dia."Ucap Felicia memegang sebuah botol yang berisi obat tidur.


Entah apa yang ingin di lakukan oleh Felicia saat ini.


"Davin,malam ini kau akan benar-benar menjadi milikku."Ucap Felicia memelan kan suaranya.


Malam harinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2