Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 32


__ADS_3

"Astaga, rasanya aku ingin mengulang kembali masa-masa bahagia itu."Ucap Rumi kemudian memeluk erat tubuh Aruna.


"Huh,aku juga."Ucap Aruna membalas pelukan Rumi.


"Biar bagaimanapun Rumi tetap lah sahabat ku, masalah dia menaruh obat dalam minuman itu,itu hanya karena terpaksa,tapi apakah aku terlalu kejap jika aku memanfaatkan nya untuk balas dendam?"Batin Aruna.


"Aruna di mana toilet di rumah ini,aku ingin mencuci wajah ku."Ucap Rumi sambil memainkan ponselnya.


"Di samping kamar ini ada toilet,aku sengaja tidak ingin toilet di dalam karena bagi ku itu menjijikan."Ucap Aruna.


"Ouh baik lah."Ucap Rumi keluar dari kamar Aruna menuju kamar mandi.


Lima belas menit berlalu,tapi Rumi belum juga kembali dari toilet,dan itu membuat Aruna curiga.


"Lebih baik aku melihat nya."Ucap Aruna berjalan keluar dari kamar nya dan menuju kamar mandi.


Tepat di depan toilet tersebut Aruna mendengar suara orang yang seperti nya sedang bercumbu.


"Oh sayang aku sangat merindukanmu."Ucap suara laki-laki di dalam toilet tersebut.


"Iya untung saja anak mu mengajak ku ke sini dan kita bisa bertemu."Ucap Rumi.


Ya ternyata Rumi sedang bersama dengan pala Edwin di dalam kamar mandi.


"Ouh, pantas saja lama, mereka benar-benar tidak tau malu."Batin Aruna sambil terus mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Sayang boleh kah aku memeluk tubuh mu yang indah ini?"Ucap papa Edwin menggoda Rumi.


"Tentu saja mengapa tidak."Ucap Rumi yang tidak kalah ****** nya.


"Seharusnya kau berterima kasih kepada Aruna dia mengajak ku ke mari dia memang sahabat yang paling bodoh "Ucap Rumi dengan suara ****** nya.


"Iya, seandainya dia tau waktu itu kau lah yang memberikan saran untuk memasukkan dia ke dalam rumah sakit jiwa apakah dia masih akan menganggap mu sahabat?"Ucap Edwin lagi.


"Shhht, jangan keras-keras nanti ada yang mendengar nya."Ucap Rumi sambil tertawa kecil.


Deg ... rasanya jantung Aruna ingin berhenti berdetak,baru saja ia berfikir telah terlalu jahat kepada Rumi mengunakan Rumi untuk balas dendam ternyata dia salah Rumi bahkan lebih jahat dari nya.


"Ternyata dia penyebab penderitaan aku di dalam rumah sakit jiwa,dan papa mendengar kan nya,Rumi ternyata aku salah menganggap mu sebagai sahabat ku."Batin Aruna tak habis fikir.

__ADS_1


Aruna pun kini semakin membenci Rumi harinya yang awalnya Lulu kini telah mulai kembali memanas.


"Lihat saja,malam ini kebusukan mu akan terbongkar."Batin Aruna kemudian kembali masuk ke dalam kamar nya.


Tidak lama kemudian Rumi pun masuk ke kamar Aruna.


Mengapa begitu lama?"Tanya Aruna sambil memainkan ponselnya.


"Aku sakit perut jadi aku agak sedikit lama."Ucap Rumi tersenyum kecil.


"Baik lah malam ini menginap lah di sini bersama ku."Ucap Aruna kepada Rumi.


"Menginap?"Tanya Rumi lagi.


"Iya karena seperti nya Davin tidak akan datang dia sangat sibuk dengan urusan kantor nya."Ucap Aruna lagi.


"Baik lah aku akan menemanimu."Ucap Rumi yang sebenarnya sangat senang bisa menginap di sana agar bisa bertemu dengan papa Edwin terus.


Malam harinya.


Jam menujukkan pukul 07.20


"Kalau begitu tidur lah."Ucap Rumi yang mengharapkan Aruna tidur dengan cepat.


"Iya tapi aku masih belum bisa tidur."Jawab Aruna.


"Mengapa?"Tanya Rumi kesal.


"Tante Fina pergi keluar bersama teman-teman nya jika aku tidur aku akan melewatkan momen di mana papa akan mengamuk saat tante Fina pulang dalam keadaan mabuk."Ucap Aruna.


Aruna kini tidak lagi memanggil mama tirinya dengan sebutan mama.


"Benar kah? Jadi dia sekarang sedang tidak ada di rumah?"Ucap Rumi.


"Iya benar sekali."Ucap Aruna mulai menjalankan aksi nya.


"Ah, Aruna aku merasa sedikit gerah, aku ingin ke kamar mandi sebentar,kau istirahat lah lebih dulu jangan khawatir kan aku."Ucap Rumi kemajuan berjalan keluar dari kamar Aruna.


"Baik lah."Ucap Aruna kemudian berbaring.

__ADS_1


"Aku pernah berfikir jika Tante Fina dan Hana yang memasukan aku ke dalam RSJ ternyata aku salah itu semua ide Rumi, lalu telah mengkhianati persahabatan baik ini, sekarang lihat lah bagaimana aku membalas mu."Batin Aruna.


Aruna tau jika Rumi tidak lah ke kamar mandi melainkan ke kamar papa Edwin.


Aruna pun berjalan pelan menuju kamar Hana dan ternyata Hana sudah tertidur lelap, dengan cepat Aruna mengambil ponsel Hana yang berada di atas nakas di samping kasur Hana, Aruna mengunakan ponsel Hana untuk mengirimkan pesan kepada mama Fina.


Isi pesan.


"Ma pulang lah lebih cepat perut ku sangat sakit aku mungkin salah makan sup."Isi pesan Aruna kepada mama Fina dengan mengunakan ponsel Hana.


Setelah itu Aruna pun keluar dari kamar Hana dan kembali masuk ke dalam kamar nya.


"Tingal menghitung menit akan ada perang dunia ke dua."Ucap Aruna sambil berbaring.


Tiga puluh menit kemudian.


"Wanita tidak tau malu! Beraninya kau tidur di kamar ku!"Ucap mama Fina di dalam kamar nya.


Ya mama Fina telah pulang karena menerima pesan dari Hana,ia tidak tau jika orang yang mengirim pesan tersebut adalah Aruna dan bukan Hana.


Setelah pulang ia berniat untuk mengantikan pakaian setelah itu baru menemui Hana, namun apa daya ia melihat papa Edwin tidur bersama dengan Rumi tampa mengunakan sehelai benang pun.


"Ini salah paham aku hanya ..."Ucap Rumi gugup.


"Hanya apa? Dasar wanita sial beraninya kau selingkuh dengan suamiku!"Ucap mama Fina memukul dan menampar wajah Rumi yabg kini menutupi dirinya dengan selimut.


"Tenang lah tenang!"Ucap papa Edwin kepada mama Fina.


"Tenang katamu? Kau berselingkuh di depan mataku dan kau mengatakan aku untuk tenang!"Ucap mama Fina terus melampiaskan emosi nya.


"Huaaam,ada apa ini apa yang terjadi?"Tanya Aruna masuk ke dalam kamar tersebut dengan wajah khas bangunan tidur dan menguap sambil mengucek mata nya.


"Lihat lah sahabat ****** mu ini telah berani berselingkuh dengan papa mu, kalian sama-sama ****** sialan!"Ucap mama Fina mengamuk.


"Tante aku sama sekali tidak mengetahui nya dan kau! Apa yang kau lakukan Rumi dia adalah papa ku mengapa kau berselingkuh dengan papa ku kau telah mengkhianati persahabatan kita!"Ucap Aruna marah.


"Aku,maaf kan aku aku hanya."Ucap Rumi kembali terpotong.


Di sini Rumi sudah benar-benar terpojok dan tidak bisa berkata apapun lagi,ia tau jika tidak ada gunanya untuk beralasan lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2