
"Tentu saja tidak pa, karena biar bagaimanapun papa telah membesarkan aku."Ekting Aruna.
"Lalu apa yang harus papa lakukan untuk menebus semua kesalahan ini?"Ucap papa Edwin kepada Aruna.
"Aku ingin papa mengembalikan saham mama kepada ku pa "Ucap Aruna menatap papa nya.
"Aruna, apa yang kau katakan? Kau telah menikah dengan Davin Winston, kekayaan nya bahkan sangat melimpah, mengapa kau menginginkan saham yang tidak seberapa itu?"Tanya papa Edwin mulai takut.
"Sial aku tau laki-laki tua ini tidak akan memberikan saham itu kepada ku, lihat saja nanti jika aku mendapat kan nya aku akan membuat kalian menderita."Batin Aruna.
"Sial aku harus mencari cara agar bisa menyingkirkan rubah kecil ini."Batin papa Edwin.
"Papa benar juga,baik lah pa lupakan saja mari kita makan sesuatu aku sudah sangat lapar."Ucap Aruna mengenepikan permasalahan itu karena Rumi berada di sana, ia juga tidak ingin Rumi mencurigai dirinya.
"Anak baik ayo kita makan."Ucap papa Edwin merasa sedikit lega.
Sore hari nya Aruna dan Rumi pun duduk bersantai di taman rumah tersebut.
"Kau lihat bukan? Papa ku tidak ingin memberikan saham itu kepada ku,dia pasti akan memberikan saham itu kepada anak laki-laki kalian."Ucap Aruna kepada Rumi.
"Benar kah?"Ucap Rumi girang.
"Iya benar, dan rumah ini juga kedepannya pasti akan menjadi milik mu, namun kau tidak boleh senang dulu karena jika kau tidak bisa menyingkirkan mama Fina maka kau tidak akan mendapatkan apapun."Ucap Aruna menghasut Rumi.
"Kau benar,ini semuanya adalah hak ku dan anak ku, Aruna bagaimana caranya menyingkirkan wanita tua itu?"Ucap Rumi yang mulai terobsesi.
"Sudah ku bilang kau harus melakukan sesuatu, jika tidak dia lah yang akan menyingkirkan mu dan anak mu."Ucap Aruna semakin memanas-manasi Rumi.
"Aku akan mendengar kan apapun yang kau perintah, Aruna terima kasih kau sudah banyak membantu aku."Ucap Rumi dengan bodoh nya.
"Iya tentu karena kau sahabat ku."Jawab Aruna.
Rumi pun memeluk Aruna.
"Cuih, membantu mu? Tidak akan, karena kau penyebab aku di masukan ke rumah sakit jiwa,aku melakukan ini untuk saham mama ku."Batin Aruna sambil tersenyum miring.
"Sudah lah mari minum teh."Ucap Aruna melepaskan pelukan itu.
Rumi pun mengangguk senang.
"Perlahan dendam mama akan terbalas."Batin Aruna sambil menyeruput teh nya.
Namun tiba-tiba ponsel nya berdering menandakan bahwa ada telpon masuk.
__ADS_1
"Rumi tunggu lah di sini sebentar aku akan mengangkat telpon dulu."Ucap Aruna kepada Rumi.
"Baik lah."Jawab Rumi.
Aruna pun menjauh dari Arumi sambil memegang telpon nya.
Tertara nama Davin di ponsel tersebut.
Aruna pun mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.
Call on.
"Aruna kau belum pulang?"Ucap Davin kepada Aruna.
"Belum mungkin sebentar lagi."Jawab Aruna singkat.
"Baik lah kalau begitu jangan pulang terlalu malam."Ucap Davin lagi.
"Aku mengerti."Ucap Aruna kemudian mematikan telepon tersebut secara sepihak.
Call off.
Aruna pun kembali menghampiri Rumi yang sedang duduk dengan secangkir teh di bawah pohon rindang di taman rumah itu.
"Rumi tunggu lah sebentar di sini aku ingin ke dapur untuk melihat makanan karena aku lapar lagi."Ucap Aruna berjalan masuk ke dalam rumah papa nya.
Namun tidak lama kemudian mama Fina datang menghampiri Rumi bersama satu teman nya.
"Oh, jadi ini pelakor itu?"Ucap teman mama Fina.
"Iya dia duduk di sini bersantai karena mendapat belaan dari anak tiriku."Ucap mama Fina.
"Nyaman sekali, pantas saja dia begitu suka dengan posisinya saat ini."Ucap teman mama Fina kemudian mengambil teh hangat milik Aruna yang belum habis kemudian menyiram nya ke wajah Rumi.
"Ahh! Panas!"Teriak Rumi sambil memegang wajah nya yang basah akibat teh panas itu.
"Bagaimana? Enak bukan? Ini adalah rumah Fina kau seharusnya sadar diri masih muda sudah menjadi pelakor!"Ucap teman mama Fina.
"Dia pantas mendapatkan itu,ayo kita pergi."Ucap mama Fina kepada teman nya.
Mereka pun meningal kan Rumi yang kesakitan akibat di siram dengan teh panas tersebut.
Aruna yang sedari tadi mengintip pun keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Astaga,Rumi apa kau baik-baik saja? Ayo masuk ke dalam, aku akan mengobati luka mu."Ucap Aruna membopong Rumi yang menangis.
"Aduh pelan-pelan Aruna ini sangat perih."Ucap Rumi sambil merintih kesakitan.
"Mengapa mereka bisa melakukan ini kepada mu? Apa kau tidak bisa melawan?"Tanya Aruna berpura-pura kasihan.
"Bagaimana aku melawan nya, mereka menyerang ku tiba-tiba."Ucap Rumi lagi.
"Sudah ku bilang,mama tiriku tidak akan membiarkan mu melahirkan anak itu, seharusnya kau cepat bertindak sesuatu sebelum dia benar-benar membunuh mu dan bayi mu."Ucap Aruna kepada Rumi.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berpura-pura masuk rumah sakit untuk membuat papa mu marah kepada mama tirimu?"Ucap Rumi dengan bodoh nya.
"Bodoh,papa ku tidak akan peduli jika luka mu hanya sekecil ini."Ucap Aruna lagi.
"Lalu bagaimana?"Tanya Rumi bingung.
"Apa kau masih tidak mengerti atau kau mau mama Fina terus menyiksa mu dan mengambil hak anak mu?"Ucap Aruna menghasut.
"Maksud mu aku harus menambah luka ini?"Ucap Rumi menaikan satu alis nya.
"Hmmm."Gumam Aruna.
"Baik lah demi anaku,ayo kita ke dapur."Ucap Rumi kepada Aruna.
Mereka pun berjalan menuju dapur mansion bersama.
"Aruna ini air yang sangat mendidih, cepat siram ke tangan dan leher ku."Ucap Rumi sambil membawa dua gelas air panas.
"Baik lah, setelah itu aku akan membawa mu kerumah sakit ayo cepat berjongkok."Ucap Aruna sambil memasang wajah tenang nya.
Rumi pun berjongkok di lantai bersiap-siap untuk menerima siraman air panas tersebut.
"Mengingat siksaan yang telah aku rasakan di rumah sakit jiwa dulu karena perbuatan mu,maka sekarang kau juga akan merasakan bagaimana perih nya siraman air panas."Batin Aruna sambil bersiap-siap untuk menyiram air panas itu ke tubuh Rumi.
"Jika saja bukan karena harta aku tidak akan sudi menuruti ucapan mu."Batin Rumi.
Aruna pun menyirami Rumi dengan air panas sesuai permintaan Rumi.
Rumi menjerit kesakitan setelah itu jatuh pingsan di lantai.
Satu jam kemudian.
"Sayang apa yang terjadi kepada mu?"Ucap papa Edwin memegang tangan Rumi.
__ADS_1
Rumi sekarang sedang terbaring lemah di rumah sakit dengan banyak luka akibat air panas di tubuh nya.
Bersambung ....