
"Ah tenang saja papa, aku sangat mempercayai mu mana mungkin aku akan mengatakan ini kepada mama Fina."Ucap Aruna tersenyum kecil.
"Jika mama tau papa memiliki perempuan lain selain dirinya aku yakin akan ada perang dunia kedua, dan orang jahat akan mendapatkan ganjaran nya."Batin Aruna.
"Ah terima kasih banyak Aruna,ayo kita pulang kerumah sekarang."Ucap papa Edwin.
"Ayo pa."Ucap Aruna lagi.
Mereka pun masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju rumah papa Edwin.
Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di rumah papa Edwin.
"Apa yang kau cari di sini?"Ucap Hana saat melihat Aruna masuk ke dalam rumah.
"Papa yang menginginkan aku pulang, dan kau, sebaiknya kau bicara sedikit lebih lembut karena wanita hamil membutuhkan banyak tenaga."Ucap Aruna kepada Hana.
"Papa lihat dia,dia sudah berani melawan ku."Ucap Hana kepada papa Edwin.
"Papa,bukan kah ucapan ku itu benar?"Ucap Aruna menatap papa nya sambil tersenyum manis.
Karena takut Aruna akan buka mulut tentang hubungan nya dengan Elin papa Edwin pun tidak berani memarahi Aruna.
"Iya-iya benar,kau seharusnya istirahat lebih banyak Hana."Ucap papa Edwin terlihat sangat takut.
"Ayah, mengapa kau tiba-tiba malah membenarkan perkataan wanita ****** ini apa kau baik-baik saja?"Ucap Hana kesal.
"Jaga omongan mu,apa kau tau wanita hamil tidak boleh berbicara kotor dan tidak sopan, karena jika itu terus kau lakukan maka kau akan melahirkan seorang bayi tanpa lidah,apa kau ingin melahirkan seorang monster?"Ucap Aruna menatap wajah Hana.
"****** beraninya kau mengutuk anaku!"Ucap Hana ingin menampar Aruna.
"Jangan menyentuh ku, aku sudah sabar sedari tadi mengapa kau tidak bisa lembut sedikit aku bukan lah ****** seperti nya kau lah yang ****** kau seperti pelacur yang dengan enak nya menggoda kakak ipar mu sendiri."Ucap Aruna menahan tangan Hana kemudian mendorong nya ke sofa.
"Ahh."Ucap Hana terduduk di atas sofa.
"Kau sekarang sedang hamil jadi jangan mencari masalah dengan ku atau kau akan keguguran dan itu bukan salah ku."Ucap Aruna tersenyum miring.
"Mama, papa, lihat lah dia mendorong ku!"Jerit Hana menujuk Aruna.
Mama Fina yang mendengar jeritan Hana pun bergegas keluar dari kamar nya dan menghampiri Hana.
__ADS_1
"Ah,ini sakit sekali."Ucap Hana memegang perutnya.
"Aruna berani nya kau mendorong putri ku apa kau tidak tau dia sedang hamil?"Ucap mama Fina emosi.
"Hana apa kah kau tidak bosan berakting, ku rasa kau sangat cocok menjadi bintang film karna sejak kecil kau sudah berakting dengan baik."Ucap Aruna tampa ada rasa takut sedikitpun.
"Aruna kau benar-benar keterlaluan kau tidak seharusnya melakukan kejahatan kepada putri ku, aku akan membunuh mu dasar perempuan ******"Ucap mama Fina ingin menyerang Aruna.
Aruna yang pintar dengan cepat bersembunyi di belakang papa Edwin.
"Papa tolong aku mama ingin memukul ku."Ucap Aruna yang tau jika papa nya akan membela nya.
"Aruna kau sudah salah, kau mendorong Hana yang sedang hamil."Ucap papa Edwin.
"Tapi ada yang lebih menarik dari soal ini pa,jika mama tau aku yakin semua akan kelar hari ini."Ucap Aruna sambil tersenyum.
"Tidak dia tidak akan membocorkan rahasia ini."Batin papa Edwin dengan raut wajah serba salah.
"Kau wanita ****** matilah kau!"Ucap mama Fina menarik rambut Aruna dengan kedua tangan nya.
"Lepaskan! Kau sudah menyiksa ku sejak kecil dan aku memiliki banyak bekas luka di tubuh ku apa kau belum puas dan sampai sekarang kau masih ingin menyakiti aku?"Ucap Aruna menepis tangan mama tirinya itu.
"Mengapa tidak? Kau bukan mama ku,kau juga adalah wanita simpanan, kau bukan nyonya yang sebenarnya, apa kau tidak takut jika karma akan menimpa mu sekarang?"Ucap Aruna.
"Karma apa yang kau maksud?"Ucap mama Fina lagi.
"Ya maksud ku bagaimana jika sekarang papa ku memiliki wanita lain?"Ucap Aruna kepada mama Fina.
"Cukup!"Ucap papa Edwin yang tidak menyangka jika Aruna akan bicara seperti itu.
"Katakan apa yang kau tau cepat!"Ucap mama Fina memegang tangan Aruna.
"Mengapa? Apa kau takut akan kehilangan posisi mu sebagai wanita perebut? Aku pikir kau tidak akan merasakan nya seperti apa yang dirasakan oleh mama ku."Ucap Aruna lagi.
"Aruna jelas kan apa maksud dari omongan mu itu."Ucap mama Fina.
"Fina cukup, Hana sudah lelah ayo bantu dia beristirahat di kamar biarkan aku bicara dengan Aruna di sini."Ucap papa Edwin mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau selingkuh?"Tanya mama Fina kepada papa Edwin.
__ADS_1
"Tidak aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."Ucap papa Edwin.
"Lalu apa yang di maksud oleh Aruna Barusa?"Ucap mama Fina bingung.
"Tidak ada, dia hanya sedang emosi dan bicara sembarangan, lihat lah Hana dia sedang lelah pergi lah antar dia ke kamarnya."Ucap papa Edwin berusaha menenangkan mama Fina.
Mama Fina yang kesal pun kemudian membantu Hana untuk pergi ke kamar dan beristirahat, papa Aruna pun ikut untuk mengantarkan.
Sementara itu Aruna sangat bahagia melihat keluarga itu ketar-ketir dengan ulah nya.
Aruna pun duduk di sofa kemudian melihat ponsel nya dan ternyata ada sebuah pesan masuk.
Isi pesan.
"Papa mu memiliki sebuah surat kontrak saham, tolong ambilkan dan berikan kepada ku nanti."Ucap Davin di dalam pesan tersebut.
"Baik lah,aku akan mengambil nya sekarang."Ucap Aruna membalas pesan Davin.
Aruna pun berjalan menaiki tangga menuju kamar papa nya.
Namun tiba di pintu kamar ia mendengar papa dan mama tirinya sedang bicara.
"Sudah ku bilang seharusnya dulu kau membunuh Aruna bersama dengan mantan istri mu itu,dan sekarang dia dengan lancang memanggil ku sebagai wanita simpanan."Ucap mama Fina dari dalam kamar.
"Dasar bodoh, membunuh Widya saja kita sudah di curigai apalagi jika membunuh Aruna itu akan membuat kita ketahuan."Ucap papa Edwin dari dalam kamar.
Deg ... jantung Aruna seakan berhenti ia tidak menyangka jika akan mendengar kata-kata itu dari papa dan mama tiri nya.
"Mama ku di bunuh? Ku pikir mama meningal karena sakit, dan aku tidak pernah berfikir jika mama meningal karena di bunuh."Batin Aruna dengan tangan yang bergetar.
"Nona."Panggil maid yang kebetulan lewat di depan kamar tersebut.
"Ah iya."Ucap Aruna menyeka air matanya.
"Siapa itu?"Ucap mama tiri dan papa Aruna secara bersamaan.
Aruna pun menghapus air matanya agar mereka tidak curiga jika Aruna telah mendengar ucapan mereka.
Bersambung ....
__ADS_1