Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 50


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di mansion Winston.


Davin dan Aruna berjalan menaiki tangga menuju lantai atas, kedua nya sama-sama lelah seharian penuh tidak beristirahat.


"Istirahat lah, jangan terlalu banyak pikiran."Ucap Aruna kepada Davin.


"Kau juga."Ucap Davin tersenyum kecil.


Aruna pun membuka pintu kamar nya dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Namun ia tiba-tiba kaget melihat Davin yang juga ikut masuk ke dalam kamar nya.


"Apa yang kau lakukan?"Ucap Aruna bingung.


"Tentu saja Istirahat."Ucap Davin santai.


"Ini kamar ku, beristirahat lah di kamar mu."Ucap Aruna kesal.


"Jangan lupa jika kau adalah istri ku."Ucap Davi tersebut miring.


"Tapi."Ucap Aruna terhenti.


"Tapi apa? Kau istri ku, kamar mu sekarang juga adalah kamar ku."Ucap Davin terlihat menjahili Aruna.


Ya sudah tidur lah dan jangan mengangu ku."Ucap Aruna lagi.


"Mengapa aku tidak boleh mengangu istri ku?"Ucap Davin kemudian mengendong Aruna.


"Davin apa yang akan kau lakukan turun kan aku!"Ucap Aruna kesal.


"Wanita dan laki-laki berduaan di dalam kamar menurut mu apa yang akan aku lakukan kepada istri cantik ku?"Ucap Davin kemudian merebahkan tubuh Aruna ke atas kasur.


"Ku mohon jangan lakukan itu,aku sedang lelah."Ucap Aruna dengan pipi yang mulai memerah.


"Apa kau sedang malu?"Ucap Davin tertawa renyah melihat tingkah lucu Aruna.


"Tidak, menyingkir lah dari tubuh ku kau membuat ku risih."Ucap Aruna lagi.


"Kau sudah beberapa kali menolak ku,dan malam ini jangan mencoba menolaknya lagi."Ucap Davin memulai aksi nya.


Aruna terdiam ia tidak tau harus menjawab apa lagi kini dirinya benar-benar tidak memiliki alasan untuk menolak keinginan Davin.


Dan akhirnya mereka pun untuk pertama kalinya melakukan hal itu sejak mereka manikah.


Selanjutnya imajinasi kan sendiri saja author tidak ingin menambah dosa yang sudah menumpuk ini.


Keesokan harinya.


Davin dan Aruna terlihat masih sangat pulas tertidur, mungkin telah karena aktivitas tadi malam.


Pukul 07:40.

__ADS_1


"Aruna bangun lah."Ucap Davin menoel-noel pipi Aruna.


Aruna yang merasa risih pun membuka mata nya dan melenguh kesal.


"Diam lah,aku masih mengantuk."Ucap Aruna memeluk erat tubuh Davin.


"Bangun lah sayang, ini sudah sangat siang."Ucap Davin membujuk Aruna.


"Tidak mau."Ucap Aruna terus membenamkan wajahnya di dada Davin.


"Sayang apa kau lupa jika hari ini kau ada janji dengan Arumi?"Tanya Davin.


Ya Aruna ingin bertemu dengan Arumi hari ini entah rencana apa lagi yang ia ingin lakukan.


"Astaga,benar aku sudah lupa."Ucap Aruna kembali membuka matanya dan menatap wajah Davin.


"Jangan panik, kau bisa bertemu siang ini sekarang bangun dan mandi lah."Ucap Davin terlihat memanjangkan Aruna.


"Hmm,baik lah dua puluh menit lagi ya."Jawab Aruna terlihat masih ingin berlama-lama bersama suaminya itu.


"Iya-iya baik lah."Ucap Davin tersenyum manis.


Namun Aruna tiba-tiba terdiam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Apa yang kau pikirkan?"Tanya Davin sambil memegang pundak Aruna.


"Memikirkan mu."Jawab Aruna.


"Kapan kutukan keluarga ini di mulai?"Tanya Aruna.


"Sejak kakek buyut ku."Ucap Davin lagi.


"Benar kah? Apa kau tidak menaruh curiga sedikitpun?"Tanya Aruna lagi.


Davin terlihat bingung dan menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?"Tanya Davin lagi.


"Ah tidak lupakan saja."Ucap Aruna lagi.


Tampa mereka sadari di depan pintu kamar ada Jesi yang sedang menguping pembicaraan mereka.


"Apa yang wanita itu pikir kan? Seperti nya dia tidak sebodoh yang aku kira, bagaimana jika dia mengatahui rahasia itu? Seperti nya aku harus menyingkirkan nya."Batin Jesi kemudian berlalu pergi dari sana.


Beberapa jam kemudian.


Aruna kini telah siap untuk bertemu dengan Rumi.


"Apa kau yakin tidak ingin aku temani?"Tanya Davin khawatir.


"Tidak perlu aku bisa menjaga diriku sendiri."Ucap Aruna dengan pd nya.

__ADS_1


"Ya sudah jika ada apa-apa cepat kabari aku, dan ingat jangan terlalu mempercayai siapapun kecuali aku."Ucap Davin mengelus rambut Aruna.


"Baik lah,aku mengerti."Ucap Aruna kemudian berjalan keluar dari Mansion menuju mobil yang telah di siap kan oleh pak Andi untuk mengantar kemanapun Aruna pergi.


"Sudah siap nona?"Tanya pak Andi kepada Aruna.


"Tentu saja."Jawab Aruna sambil tersenyum.


Pak Andi pun membuka pintu mobil tersebut untuk Aruna.


"Terima kasih."Ucap Aruna sambil masuk ke dalam mobil itu.


Sejak Rumi keguguran dan masuk rumah sakit Aruna belum sama sekali bertemu dengan Rumi, baru hari ini ia kembali mengatur rencana baru.


Tidak lama kemudian terlihat Rumi yang sudah menunggu Aruna di persimpangan jalan, karena rumah nya jauh di lorong mobil Aruna tidak bisa masuk karena itu Aruna meminta Rumi untuk menunggu di persimpangan jalan.


"Enak sekali menjadi kaya, kemana-mana dia di antar oleh sopir nya."Batin Rumi merasa iri kepada Aruna.


"Rumi apa yang kau pikirkan ayo cepat masuk."Ucap Aruna dari dalam mobil.


"Ah,iya maaf."Ucap Rumi tersadar dari lamunannya kemudian berjalan masuk ke dalam mobil Aruna.


Pak Andi pun kembali menjalankan mobilnya setelah Rumi masuk.


"Aruna,kita akan ke mana?"Tanya Rumi penasaran.


"Lihat saja nanti."Ucap Aruna santai.


"Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di rumah papa Edwin.


"Aruna apa yang kau lakukan? Mengapa kau mengajakku ke sini?"Ucap Rumi gemetar.


"Untuk memperjuangkan keadilan untuk mu."Jawab Aruna lagi.


"Keadilan apa,aku takut dengan mama tiri mu, jika dia melihat ku aku pasti akan di hajar nya habis-habisan lagi."Ucap Rumi.


"Apa kau merelakan begitu saja,saat papa ku membuat mu keguguran? Padahal itu darah daging nya, apa kau tidak ada niat balas dendam?"Ucap Aruna lagi.


"Apa yang kau maksud? Bisa-bisa aku lah yang mati karena di pukul mama tiri mu."Ucap Rumi lagi.


"Hmm,jika saja bukan karena saham ibu ku aku tidak akan mempedulikan mu."Batin Aruna.


"Aruna mengapa kau diam? Ayo lebih baik kita pergi dari sini."Ucap Rumi takut akan mama Neta melihat dirinya.


"Sudah lah ayo turun dan ikut aku."Ucap Aruna yang sebenarnya hanya memperalat Rumi untuk balas dendam nya.


Sebenarnya itu sangat cocok untuk Rumi yang begitu jahat dan menghianati persahabatan mereka padahal Aruna sudah cukup baik terhadap nya.


Sahabat seperti ini tentunya sangat cocok untuk di beri pelajaran bukan?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2