Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 44


__ADS_3

"Akting yang sangat bagus."Ucap Aruna melihat Felicia.


"Tidak itu tidak mungkin anak kita masih hidup jangan bercanda Davin di mana anak kita aku ingin memeluk nya."Ucap Felicia tidak mempedulikan Aruna.


"Felicia kau harus bisa menerima kenyataan,jika anak kita sudah meningal saat kau terjatuh tadi kau mengalami keguguran untung saja nyawa mu masih terselamatkan."Jawab Davin mencoba untuk menenangkan Felicia.


"Hikss tidak,ini tidak mungkin, kau! Kau lah yang telah membunuh anak ku! Kembali kan anaku! Wanita jahat!"Ucap Felicia ingin menarik Aruna.


"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa kau lah yang dengan sengaja membunuh anak mu, seharusnya kau sekarang bahagia."Ucap Aruna tidak peduli dengan Davin yang melihat nya.


"Hikss, Davin lihat lah,dia bahkan menertawai aku dia tau kok aku hanya bisa hamil satu kali dan dia mendorong ku Aruna apa salahku kepada mu mengapa kau berbuat seperti ini?"Ucap Felicia memeluk Davin sambil menangis.


"Felicia, akting mu sangat bagus,aku memiliki teman seorang sutradara jika kau berminat aku bisa membantu mu untuk menjadi bintang film."Jawab Aruna tersenyum miring.


"Aruna cukup! Apa yang kau lakukan, kau sudah sangat keterlaluan, kau membunuh anak kami,dan kau juga bersikap seperti ini kepada Felicia dia sedang terpuruk, seharusnya jika kau tidak sengaja kau bisa meminta maaf atau memberikan semangat untuk nya bukan malah membuat nya semakin menderita."Ucap Davin memarahi Aruna.


"Hahaha, memberikan semangat? Tentu saja iya aku akan memberikan semangat untuk wanita kejam ini, hey Felicia aku dengar bayi yang di bunuh oleh ibunya akan datang setiap malam untuk menemui sang ibu dan meminta susu, apa kau sudah siap?"Ucap Aruna menatap Felicia dengan tatapan horor nya.


"Ti-tidak,itu tidak mungkin."Ucap Felicia terlihat gugup dan takut.


"Aruna apa yang kau lakukan?"Ucap Davin semakin emosi.


"Aku hanya memberikan semangat seperti yang kau minta, dan satu lagi baju mu sangat amis itu membuat aku mual kakau begitu biar kan aku keluar."Ucap Aruna menutup hidung nya.


"Aruna, mengapa kau menjadi kejam seperti ini?"Tanya Davin kepada Aruna.


"Aku tidak kejam."Ucap Aruna kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan itu.


Namun belum sempat keluar Aruna sudah di hadang oleh mama Jihan yang terlihat sangat marah karena mengetahui bahwa Felicia keguguran karena Aruna.


"Kau wanita pelacur! Kurang hajar beraninya kau membunuh cucuku!"Maki mama Jihan sambil menarik rambut Aruna.


"Mama hentikan! Ini rumah sakit."Ucap Davin mencoba memisahkan Aruna dan mama Jihan.


"Lepas!"Ucap Aruna kesal.


"Davin lihat! Lihat apa yang telah di lakukan wanita jahat ini dia telah membunuh anak mu! Apa kau masih berbaik hati dengan nya?"Ucap mama Jihan.

__ADS_1


"Cukup, mama seharusnya anda berterima kasih kepada ku karena aku telah membantu mu untuk tidak merawat cucu orang lain."Ucap Aruna sambil tersenyum.


"Berterima kasih katamu!?Kau benar-benar wanita yang tidak punya hati nurani sebaiknya kau mati saja!"Ucap mama Jihan mengambil vas bungga yang berada di atas nakas di samping tempat tidur Felicia dan ingin memukul Aruna.


"Jangan ma!"Ucap Davin menghalangi memeluk Aruna.


Dan hal asil Davin lah yang terkena pukulan tersebut sehingga membuat kepala nya sedikit terluka dan berdarah.


"Davin! Anakku!"Ucap mama Jihan khawatir.


"Ahh."Ucap Davin memegang kepala nya yang terasa sakit.


"Davin,aku akan memanggil dokter."Ucap Aruna khawatir.


"Menjauh lah dari anakku, ini semua gara-gara kau!"Ucap mama Jihan mendorong Aruna.


Aruna pun terjatuh dan tangan nya terkena serpihan vas yang pecah tersebut sehingga terluka kecil.


"Aw."Ucap Aruna melihat darah yang keluar dari tangan nya.


"Davin apa kau baik-baik saja?"Ucap mama Jihan memegang tangan Davin.


"Bibi,ini semua gara-gara dia hikss anaku,cucu ku sudah tiada bibi."Ucap Felicia terus berakting.


"Anak baik, tenang lah."Ucap mama Jihan kemudian menghampiri Felicia yang sedang terbaring.


"Sungguh kalian menjijikkan!"Ucap Aruna kemudian ikut keluar dari ruang tersebut.


"Lihat lah betapa kejam nya dia kepada ku bibi, seharusnya aku dan Davin sudah bahagia dan menanti kehadiran buah hati kami, namun Aruna kembali dan mengacaukan itu semua dia bahkan bersikap tidak sopan kepada mu bibi."Ucap Felicia menghasut mana Jihan.


"Sabar lah Felicia untuk sekarang kau pikir kan saja dulu kesehatan mu."Jawab mama Jihan yang kini ikut pusing memikirkan masalah keluarga nya.


"Tidak bibi aku tidak bisa tenang,bibi balas kan dendam cucu mu aku mohon bibi."Ucap Felicia memainkan trik licik untuk memanfaatkan keadaan.


"Apa maksud mu?"Ucap mama Jihan kebingungan.


"Aku ingin bibi membuat nya semakin tidak nyaman di mansion agar dia lekas pergi meninggalkan Davin."Ucap Felicia menangis.

__ADS_1


"Tenang lah aku akan membuat nya semakin menderita tingal di mansion."Ucap mama Jihan.


"Terima kasih bibi."Ucap Felicia sambil tersenyum palsu.


"Baik lah kau segera istirahat,aku akan pulang dulu untuk melihat Davin."Ucap mama Jihan kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut.


"Baik bibi."Ucap Felicia tersenyum licik.


Sementara itu di mansion.


"Apa kau baik-baik saja?"Tanya Aruna masuk ke dalam kamar Davin sambil membawa semangkuk es batu dan sehelai kain.


"Keluar lah aku ingin sendiri."Ucap Davin fokus bermain ponsel nya.


"Kepala mu terluka aku hanya ingin mengobati nya,jika di biar kan itu akan infeksi."Ucap Aruna menaruh mangkuk tersebut di atas nakas samping tempat tidur Davin.


Aruna pun kemudian duduk di samping Davin.


"Kemari kan ponsel mu."Ucap Aruna mengambil ponsel tersebut dari tangan Davin kemudian menimpanya.


"Kau."Ucap Davin kesal.


"Diam."Ucap Aruna mulai membersihkan luka di kepala Davin tersebut.


Davin pun tidak berkata apa-apa lagi ia menatap wajah Aruna yang sedang serius mengobati luka nya.


"Ahh perih!"Jerit Davin saat Aruna tampa sengaja mengenai luka nya.


"Maaf,aku akan pelan-pelan."Ucap Aruna sedikit gugup.


"Cepat lah ini sangat sakit."Ucap Davin sambil memegang erat tangan kiri Aruna.


"Lepas kan tangan ku itu sakit,aku tidak bisa menyingkirkan rambut mu dengan sebelah tangan ku."Ucap Aruna kepada Davin.


"Aku butuh pegangan untuk menahan perih nya."Ucap Davin dengan mata yang mulai memerah.


Aruna yang melihat Davin kesakitan pun semakin merasa bersalah dan kasihan, Davin terluka karena melindungi nya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2