Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 18


__ADS_3

"Aku tidak boleh ketahuan,jika tidak habis lah aku."Batin Aruna.


"Aruna."Ucap papa Edwin membuka pintu kamar nya.


"Papa."Ucap Aruna kepada papa nya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"Tanya papa Edwin kepada Aruna.


"Ah,itu Davin meminta ku untuk mengambil sebuah surat kontrak saham dari papa."Ucap Aruna menahan emosi nya dan berpura-pura bahwa ia tid mendengar apapun.


"Apa kau baru saja berdiri di sini?"Tanya sang papa takut.


"Iya pa, apakah papa menghibur mama?"Ucap Aruna melirik ke arah mama Fina yang berada di belakang papa nya.


"Ah,iya Aruna papa mu menghibur ku dengan lembut dan aku memutuskan untuk memaafkan mu."Ucap mama Fina berpura-pura baik.


"Ah,kalau begitu terima kasih banyak mama."Ucap Aruna berakting.


"Iya."Ucap mama Fina takut jika Aruna akan mendengar ucapan mereka.


"Kalau begitu papa bisa kah aku meminta surat kontrak saham itu sekarang?"Ucap Aruna.


"Oh iya sebentar aku ambil."Ucap papa Edwin kemudian berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidur nya dan mengambil sebuah map berwarna biru kemudian menyerahkan itu kepada Aruna.


"Baik terima kasih pa,kalau begitu aku pamit pulang dulu."Ucap Aruna berjalan kembali menuruni tangga menuju pintu keluar rumah itu.


"Apakah dia mendengar kita?"Ucap mama Fina berbisik kepada papa Edwin.


"Kurasa tidak,jika dia mendengar pun apa yang bisa dia lakukan? Toh mama nya juga sudah mati."Ucap papa Edwin.


Sementara itu di dalam mobil, Aruna terus menerus terbayang bagaimana ia mendengar semua percakapan papa nya dan mama tirinya.


"Mama, tenang lah aku akan balas dendam."Ucap Aruna sambil menyeka air matanya.


Tidak butuh lama Aruna pun tiba di mansion Winston.


Ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar nya dan membongkar isi koper nya.


Entah apa yang ia cari namun ia sangat terlihat semakin sedih setelah menemukan sebuah bingkai foto yang menampilkan seorang wanita cantik dengan rambut panjang.


"Mama,aku tau mama sangat mencintai papa, tetapi saat papa membunuh mama,aku yakin perasaan mama sangat hancur,aku berjanji mereka yang menyakiti dan menindas mama saat mama hidup akan mendapatkan balasan yang setimpal dari ku."Ucap Aruna sambil memeluk erat foto sang mama.


Namun tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang.


"Siapa?"Ucap Aruna kembali menyeka air matanya.


"Aku."Ucap Davin dari luar pintu.


Aruna pun berjalan dan membuka kan pintu kamar nya.

__ADS_1


"Ada apa?"Tanya Aruna lagi.


"Aku ingin mengambil surat kontrak saham yang kau bawa dari papa mu tadi."Ucap Davin kemudian masuk ke dalam kamar Aruna.


"Ouh itu ada di meja."Ucap Aruna.


"Tunggu,itu foto siapa? Ucap Davin melihat bingkai foto yang di pegang oleh Aruna.


"Itu mama ku."Ucap Aruna lagi.


"Mengapa aku baru melihat foto itu?"Ucap Davin.


"Akhir-akhir ini aku merindukan nya,jadi aku beru mengeluarkan nya."Ucap Aruna.


Namun tiba-tiba Aruna berlutut di hadapan Davin.


"Hey apa yang kau lakukan?"Ucap Davin bingung dan kaget melihat tingkah Aruna.


"Tolong, tolong bantu aku,aku yakin cuma kau yang bisa membantu ku."Ucap Aruna masih berlutut.


"Berdiri lah kita bisa membicarakan nya dengan baik-baik."Ucap Davin memegang kedua pundak Aruna dan membantu nya berdiri.


"Katakan apa yang kau butuhkan?"Ucap Davin lagi.


"Tolong, tolong bantu aku agar bisa masuk ke perusahaan papa ku."Ucap Aruna memohon.


"Mengapa kau sangat marah?"Tanya Aruna lagi.


"Apa karena Tony? Bukan kah aku sudah bilang untuk jangan berhubungan dengan laki-laki itu lagi? Kau adalah istri ku."Ucap Davin dengan raut wajah yang tidak suka.


"Apa maksud mu?"Ucap Aruna lagi.


"Kau istri ku sekarang,jadi jangan berhubungan dengan laki-laki lain karena itu akan merusak reputasi ku."Ucap Davin lagi.


"Ah,baik lah aku pikir..."Ucap Aruna menggantung kan Kalimat nya.


"Apa? Kau berfikir apa?"Ucap Davin lagi.


"Aku fikir kau memilih perasaan kepada ku."Ucap Aruna lagi.


"Jangan berkhayal,aku hanya menjaga reputasi ku saja."Ucap Davin.


"Jadi jangan katakan apapun yang bisa membuat orang lain berkhayal."Jawab Aruna.


"Oke baik lah,apa kau benar-benar ingin masuk ke dalam perusahaan papa mu?"Ucap Davin.


"Iya tolong aku, jadikan itu permintaan terakhir ku sebelum aku mati."Ucap Aruna tersenyum kecil.


"Oke baik lah,besok kau akan menjadi perwakilan perusahaan ku untuk masuk ke dalam perusahaan papa mu."Ucap Davin.

__ADS_1


"Terima kasih banyak."Ucap Aruna.


"Oh iya,aku punya sesuatu untuk mu."Ucap Davin kemudian membuka lembari Aruna dan mengeluarkan sebuah kue ulang tahun yang sebelumnya memang ia simpan di dalam lemari itu tadi pagi.


Davin pun memberikan kue tersebut kepada Aruna.


"Tidak mungkin bagaimana kau tau jika hari ini aku ulang tahun? Ini pertama kalinya aku menerima kue ulang tahun."Ucap Aruna terlihat sangat bahagia.


"Aku membeli nya terlalu banyak dan ini ku bagikan ke semua penghuni mansion."Jawab Davin.


"B-benar kah? Aku pikir."Ucap Aruna seketika senyum di wajah nya mulai membudar.


"Iya karena hari ini adalah ulang tahun Felicia jadi aku terbiasa membeli begitu banyak kue untuk nya."Ucap Davin tersenyum.


"Ouh, begitu ya, aku tidak terlalu suka kue strawberry jadi simpanan saja lagi kue nya ya."Ucap Aruna kembali memberikan kue tersebut kepada Davin.


"Mengapa? Bukan kah tadi kau menyukai nya?"Ucap Davin bingung.


"Sudah lah sebaiknya kau keluar dari kamar ku,aku ingin istirahat."Ucap Aruna kemudian mendorong Davin pelan keluar kamar dan menguncinya.


"Dasar wanita aneh."Ucap Davin.


"Bukan aneh kau saja yang tidak peka dasar bodoh Davin."Author.


Aruna kembali duduk di kasur nya.


"Aku tidak membutuhkan kebaikan orang lain."Ucap Aruna kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur kemudian memejamkan mata nya dan tertidur lelap.


Keesokan harinya.


Aruna sudah rapi dengan pakaian kantor, hari ini ia akan mulai bekerja sebagai perwakilan dari perusahaan Winston untuk mengawasi perusahaan papa Edwin.


Ia berangkat ke kantor dengan mengunakan taxi.


Tidak butuh waktu lama ia pun tiba di perusahaan papa nya.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini? Pergi!"Ucap Hana yang melihat Aruna berada di perusahaan itu.


"Wanita hamil seharusnya banyak istirahat di rumah supaya tidak keguguran."Ucap Aruna kepada Hana.


"Berani nya kau!"Ucap Hana emosi.


"Minggir aku mau lewat."Ucap Aruna kepada Hana.


"Aruna sebaiknya kau sadar di mana kau sekarang ini adalah perusahaan kami!"Ucap Hana kesal.


Aruna diam dan menatap Hana dengan tatapan penuh benci.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2