Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 46


__ADS_3

Malam harinya.


Terlihat mama Jihan baru pulang ke mansion, entah dari mana tapi ia bersama dengan seorang wanita.


Mereka sama-sama turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Mansion.


"Bibi rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sini."Ucap perempuan itu sambil berjalan beriringan dengan mama Jihan.


"Iya aku rasa sejak kau lulus SMA kau dan Davin sudah tidak bertemu lagi, ayo masuk Jesi."Ucap mama Jihan sambil membuka pintu mansion.


"Jesi" Jesi adalah anak dari teman mama Jihan, dia juga adalah teman SMA Davin dulu, dan beberapa hari lalu Jesi baru saja pulang dari kota N setelah menempuh pendidikan tinggi di kota N, dan hari ini saat mama Jihan berjalan di mall ia tampa sengaja berpapasan dengan Jesi dan kemudian menawarkan Jesi untuk mampir ke mansion.


"Mama sudah pulang."Ucap Aruna yang sedang duduk di ruang tamu.


Aruna sengaja bersikap sedikit baik kepada mama Jihan agar dia lebih leluasa di mansion.


"Hmm,apa kau sudah mengerjakan tugas mu?"Tanya mama Jihan.


"Tentu saja."Ucap Aruna lagi.


"Bibi, apa ini istri Davin? Dia sangat cantik."Ucap Jesi melirik Aruna.


"Iya sudah lah dia tidak secantik dirimu,ayo duduk jangan pedulikan dia."Ucap mama Jihan menarik tangan Jesi untuk duduk di ruang tamu.


"Aruna mengapa diam? Cepat siap kan teh hangat untuk Jesi."Ucap mama Jihan kepada Aruna.


"Baik."Jawab Aruna mencoba untuk tidak membantah.


"Bibi di mana Davin?"Tanya Jesi kepada mama Jihan.


"Tunggu saja,dia sebentar lagi akan pulang."Ucap mama Jihan.


"Baik lah bibi."Jawab Jesi tersenyum manis.


Sementara itu di dapur mansion.


"Nona muda,apa yang sedang nona muda lakukan?"Tanya seorang maid kepada Aruna.


"Aku sedang membuat teh untuk tamu kita."Jawab Aruna sambil tersenyum miring.


"Tapi itu adalah garam nona."Ucap maid itu.


"Iya aku tau."Jawab Aruna lagi.

__ADS_1


"Apakah nona tidak akan takut jika nyonya Jihan akan marah?"Tanya maid itu.


"Tidak perlu takut,kita hanya butuh beberapa menit untuk bersenang-senang."Ucap Aruna kemudian berjalan membawa teh tersebut ke ruang tamu.


"Ini, silahkan di minum nona Jesi."Ucap Aruna dengan tatapan jahil nya.


"Aaaaa! Kenapa teh nya asin sekali?"Jerit Jesi sambil menyemburkan teh tersebut ke meja.


"Aruna! Apa yang kau lakukan?"Ucap mama Jihan berdiri dari duduknya.


"Aku, tidak melakukan apapun."Jawab Aruna menahan tawa.


"Begini lah caranya kau melayani tamu? Kau ini benar-benar kurang hajar dasar anak haram!"Ucap mama Jihan marah.


"Kau boleh marah nyonya Jihan tapi jangan berkata terlalu lebih."Ucap Aruna mulai emosi.


"Beraninya kau memanggilku seperti itu! Mulut ku itu tidak ada sopan santun nya pantas saja karena kau tidak pernah di ajari oleh mama mu!"Ucap mama Jihan semakin larut.


"Cukup! Kau boleh mengatakan apa saja tentang aku! Tapi tidak dengan mama ku!"Ucap Aruna kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu tersebut menaiki tangga menuju kamar nya.


"Dasar anak kurang hajar!"Ucap mama Jihan marah.


"Bibi sudah lah, mungkin ia hanya cemburu dengan ku karena aku lebih dekat dengan bibi dari pada dia."Ucap Jesi merasa menang.


Sementara itu Aruna sedang sangat kesal dengan mulut mama Jihan yang mengungkit tentang mama nya.


"Hmm, seperti nya dia tidak bisa aku tangani sendiri."Ucap Aruna tersenyum miring kemudian berjalan keluar dari kamar nya menuju kamar Felicia.


Tok ... tok ... tok . Beberapa kali Aruna mengetuk pintu kamar Felicia.


"Apa yang kau inginkan?"Tanya Felicia melihat Aruna yang berdiri tegak di depan pintu kamar nya.


"Aku hanya ingin memberi tahu,jika seperti nya penganti mu sudah datang."Ucap Aruna.


"Apa maksud mu penganti?"Ucap Felicia kesal.


"Kau bisa melihat nya sendiri di bawah mama mertua ku sudah membawa ayam baru yang lebih segar dan pasti nya bisa bertelur."Ucap Aruna sambil tersenyum kemudian kembali berjalan menuju kamar nya.


"Apa yang dia katakan?"Batin Felicia kesal.


Karena penasaran Felicia pun kembali masuk ke kamar nya untuk berdandan terlebih dahulu karena ia merasa harus lebih sempurna dari siapa pun.


Sementara itu Aruna kembali masuk ke kamar nya.

__ADS_1


Ting ... suara pesan masuk ke ponsel Aruna.


Aruna dengan cepat meraih ponselnya yang berada di atas kasur dan melihat pesan tersebut.


"Tony?Apa lagi yang dia inginkan?"Batin Aruna lalu membuka pesan tersebut.


Isi pesan.


"Aruna, datang lah kerumah ku aku ingin bicara sesuatu tentang papa mu."Isi pesan tersebut.


"Apa lagi yang ingin dia bicarakan?"Batin Aruna curiga.


Sebenarnya Aruna tidak ingin mengurus Tony lagi, namun ia penasaran tentang hal apa yang ingin Tony katakan tentang papa nya.


"Huh, sebaiknya aku kerumah nya saja, karena di sana juga pasti ada mama nya dan juga Hana,dan aku tidak akan berdua dengan nya."Ucap Aruna kemudian berjalan mengambil tas nya dan bergegas keluar dari kamar nya.


"Mau kemana kau?"Ucap mama Jihan melihat Aruna yang berjalan menuju pintu keluar mansion.


"Tentu saja keluar,aku ingin memberikan kesempatan untuk nona Jesi agar dia bisa berkencan dengan suamiku."Ucap Aruna.


"Apa aku tidak takut jika Jesi akan merebut Davin dari mu?"Ucap mama Jihan mencoba memanas-manasi Aruna.


"Mengapa harus takut? Gelar nona muda keluarga Winston masih menjadi milikku selagi aku masih hidup."Ucap Aruna kemudian keluar dari pintu Mansion tersebut.


"Bibi sudah lah, jangan di lawan lagi dia benar."Ucap Jesi.


"Ah, sudah lah lupakan saja."Ucap mama Jihan.


Sementara itu Felicia baru saja tiba di ruang tengah.


"Bibi, siapa dia?"Ucap Felicia menujuk Jesi.


"Siapa yang menyuruh mu keluar kamar?"Tanya mama Jihan.


"Mengapa aku tidak boleh keluar kamar?"Tanya Felicia kesal.


"Terserah kau saja,oh iya kenal kan ini Jesi calon istri Davin yang baru, mengingat keluarga ku masih dekat dengan kami jadi sebaiknya kau keluar dari Mansion ini secara hormat."Ucap mama Jihan mengusir Felicia.


"Apa? Tidak! Bukan kah bibi sudah mengatakan jika aku adalah calon istri Davin satu-satunya di mansion ini?"Ucap Felicia tidak terima.


"Itu dulu,tapi sekarang sudah beda sebaiknya kau sadar diri kau itu hanya ayam yang tidak bisa bertelur buat apa aku memelihara ayam bodoh seperti mu!"Ucap mama Jihan dengan santai nya.


Sambil menangis Felicia pun berlari kembali masuk ke dalam kamar nya,ia benar-benar kecewa atas apa yang di lakukan oleh mama Jihan yang jahat itu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2