Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 58


__ADS_3

"Davin cepat lah selesai kan mandi mu,mama mu masuk rumah sakit!"Teriak Aruna mengendor-gedor pintu kamar mandi.


Biar bagaimanapun mama Jihan adalah mama dari Davin karena itu lah Aruna juga tidak tega untuk terlalu kejam kepada nya.


Mendengar ucapan Aruna Davin pun bergegas keluar dari kamar mandi.


"Ada apa sayang apa yang terjadi dengan mama?"Ucap Davin memegang pundak Aruna.


"Aku tidak tau jelas, seharusnya kita pulang hari ini saja."Ucap Aruna kemudian mulai membereskan barang-barang mereka.


Davin pun berusaha untuk menenangkan diri nya agar tidak terlalu panik karena ia takut jika panik dirinya akan membahayakan sang istri.


Setelah selesai membereskan barang-barang mereka pun keluar dari hotel tersebut dan menaiki mobil menuju bandara.


"Kita akan sampai besok pagi,jadi aku harap kau masih bisa tenang."Ucap Aruna memegang kedua pipi Davin dan mencoba untuk menenangkan nya.


"Aku tau,aku harap mama baik-baik saja."Jawab Davin lagi.


Satu jam kemudian pesawat mereka pun lepas landas menuju kota mereka.


Keesokan harinya.


Satu malam berlalu,pagi tepat pukul 07:40 pesawat yang di tumpangi Aruna dan Davin pun berhasil mendarat dengan selamat di bandara kota.


Mereka pun tindak mau berlama-lama dan segera menuju rumah sakit tempat di mana mama Jihan di rawat.


Setibanya di rumah sakit terlihat pak Andi yang sudah menunggu mereka di depan ruang rawat mama Jihan.


"Pak Andi."Pangil Davin kepada pak Andi.


"Tuan muda, akhirnya tuan muda tiba."Ucap pak Andi terlihat cemas.


"Pak Andi apa yang terjadi dengan mama?"Tanya Davin khawatir.


"Saya juga tidak tau tuan, yang jelas nyona di temukan pingsan oleh nona Karin di ruang tamu dengan kepala yang merah akibat benturan di meja."Jelas pak Andi kepada Davin.


"Begitu? Tapi siapa Karin?"Tanya Aruna.


"Saya tidak tau nona,yang jelas beberapa hari lalu nyonya membawa dia tinggal di mansion."Ucap pak Andi.


"Mama membawa seseorang tingal di mansion Tampa meminta ijin ku?"Ucap Davin lagi.


"Maaf tuan muda saya juga tidak mengerti."Jawab pak Andi.

__ADS_1


"Sudah lah lupakan dulu,dan bagaimana keadaan mama ku sekarang?"Tanya Davin lagi.


"Nyonya mengalami struk ringan tuan, dan sekarang masih di tangani dokter."Ucap pak Andi.


"Astaga."Ucap Davin mengusap kasar wajah nya.


"Tenang lah."Ucap Aruna memegang tangan Davin.


Namun tiba-tiba ponsel Aruna berdering menandakan bahwa ada telpon masuk.


"Sebentar aku angkat telpon dulu."Ucap Aruna kepada Davin kemudian berjalan sedikit menjauh dari sana.


Call on.


"Hallo,ada yang bisa saya bantu pak?"Ucap Aruna sambil menempelkan ponsel tersebut ke kuping nya.


"Nona Aruna, kami sekarang sedang berada di mansion Winston,bisa kah anda dan tuan muda Davin segera ke sini?"Ucap laki-laki di sebrang telpon tersebut.


"Baik pak kami akan segera kesana."Ucap Aruna kemudian mematikan telepon secara sepihak.


Call off.


"Astaga ada apa lagi ini, mengapa masalah sekarang datang bertubi-tubi?"Ucap Aruna kemudian berjalan menghampiri Davin yang masih berdiri di ruang rawat mama Jihan.


"Kita harus segera pulang ke mansion, polisi menunggu di sana seperti nya mereka ingin bicara tentang pembunuhan Felicia beberapa Minggu lalu."Ucap Aruna lagi.


"Astaga, mengapa masalah datang secara berturut-turut?"Ucap Davin terlihat sangat lelah.


"Tenang lah kita akan bisa melewati nya bersama."Ucap Aruna kepada Davin.


"Baik lah,pak Andi tunggu mama di sini,jika ada apa-apa cepat hubungi aku."Ucap Davin kepada sopir nya itu.


"Baik tuan muda siap."Ucap pak Andi.


Davin dan Aruna pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobil nya menuju mansion.


Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di mansion, terlihat beberapa polisi yang sudah berdiri tegak di sana.


Tidak hanya itu mansion sudah di penuhi dengan rintangan garis polisi.


"Ada apa ini?"Ucap Davin turun dari mobil nya.


Salah satu komandan polisi pun menghampiri Davin dan Aruna yang ingin melangkah masuk ke dalam Mansion.

__ADS_1


"Tuan muda jangan masuk dulu."Ucap polisi tersebut.


"Ada apa ini pak?"Ucap Aruna bingung.


"Sebelumnya kami ingin mengatakan jika pembunuh nona Felicia itu sebenarnya adalah nona Jesi, karena ada seorang wanita yang memberikan sebuah bukti foto ini."Ucap polisi tersebut memberikan selembar foto.


Davin dan Aruna pun mengamati foto tersebut terlihat Jesi dan Felicia yang berada di atas balkon saat sebelum kejadian Felicia jatuh.


Sebelum Jesi merusak cctv itu Karin telah dulu me motret beberapa bukti saat Jesi mendorong Felicia yang sempat tertangkap oleh kamera cctv.


"Astaga, dugaan ku benar."Ucap Aruna.


"Benar-benar di luar dugaan."Gumam Davin.


"Dan tidak hanya itu tuan muda,mama anda, nyonya Jihan juga terlibat dalam kasus pembunuhan ini karena menurut keterangan dari wanita yang melaporkan itu kepada kami semua terjadi atas rencana mana anda."Jelas polisi tersebut.


Davin pun tercengang mendengar ucapan polisi tersebut,ia tidak menyangka jika sang mama akan sekejam itu.


"Lalu di mana sekarang Jesi?"Ucap Davin.


"Nona Jesi di temukan meningal di dalam Mansion, menurut keterangan maid, dia jatuh dari tangga,dan untuk saat ini kami minta jangan dulu menempati Mansion sampai kami benar-benar menyelesaikan kasus ini."Ucap polisi tersebut.


"Lalu siapa wanita yang melaporkan itu?"Tanya Aruna bingung.


Kami tidak bisa membocorkan identitas saksi nona."Ucap polisi tersebut.


"Baik lah pak kalau begitu silahkan lanjutkan penyelidikan."Ucap Aruna lagi.


"Baik nona, dan setelah ini kami juga akan menangkap nyona Jihan."Ucap polisi itu kemudian kembali masuk ke dalam Mansion.


Davin terduduk lemah ia tidak tau apa lagi yang harus ia lakukan hati nya bagus sakit mendengar ungkapan polisi yang mengatakan jika mama nya turut bersalah atas kematian Felicia.


"Tenang lah, sebaiknya kita kembali ke rumah sakit,yang jahat harus di singkirkan meskipun dia keluarga sendiri, aku tau ini berat namun sebuah hukuman akan membuat seseorang berubah menjadi lebih baik."Ucap Aruna kepada Davin.


Davin pun memeluk Aruna.


"Jika saja aku tidak bersama wanita hebat seperti mu, mungkin saja aku tidak kuat lagi untuk menjalani hidup ku."Gumam Davin sambil memeluk erat tubuh Aruna.


"Aku akan selalu menemani mu, sekarang kita harus kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan mama mu."Ucap Aruna.


Davin pun melepaskan pelukan nya dan mengangguk setuju, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil dan segera menuju rumah sakit.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2