
"Davin pelan kan mobil nya aku takut."Ucap Aruna menatap kesal wajah Davin.
Namun Davin sama sekali tidak mempedulikan ucapan Aruna.
Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di mansion.
Davin membuka pintu mobil nya kemudian kembali menyeret Aruna masuk ke dalam Mansion.
"Davin hentikan kau membuat pergelangan tangan ku terkilir!"Ucap Aruna kesal.
Davin tidak menjawab apapun, ia kemudian mendorong Aruna ke atas sofa ruang tengah.
"Davin aku mohon jangan lakukan itu! Aku mohon hentikan!"Ucap Aruna takut.
"Aku sudah melarang mu mendekati Tony lalu kau mendekati Kenzo apa kau kekurangan laki-laki? Apa kau benar-benar menginginkan nya?"Ucap Davin menatap wajah Aruna.
"Cukup Davin seharusnya ucapan Kenzo benar,aku ini hanya lah tumbal mengapa perilaku mu kepadaku sampai seperti ini?"Ucap Aruna menatap wajah Davin.
Davin mendekati Aruna, sangat dekat,bahkan kini hembusan nafas Davin yang kuat bisa di rasakan oleh Aruna.
"Kau bukan hanya tumbal, tetapi kau istri ku, tidak sepantasnya kau berbicara tentang laki-laki lain di depan ku."Ucap Davin.
"Tapi itulah kenyataannya."Ucap Aruna ingin mendorong Davin.
"Tetap diam, jangan berkata apapun lagi."Ucap Davin berdiri dan ingin meningal kan Aruna.
Namun Aruna menahan tangan nya.
Aruna berdiri di hadapan Davin,gaun nya sudah acak-acakan akibat ulah Davin.
"Aku tidak tau sejak kapan kau akan menjadi tukang emosi seperti ini, tetapi aku minta maaf."Ucap Aruna.
"Maaf untuk apa?"Jawab Davin cuek.
"Aku tidak patuh menjadi tumbal mu."Ucap Aruna lagi.
Davin pun berbalik kemudian mengendong Aruna menaiki tangga menuju kamar nya.
"Hey lepas kan aku,aku mohon jangan seperti ini Davin turun kan aku!", Teriak Aruna memberontak.
"Melepaskan mu? Tentunya tidak."Ucap Davin membuka pintu kamar nya kemudian menghempaskan tubuh Aruna ke atas kasur.
Davin membuka kemeja yang dia kenakan sambil menatap dalam Aruna.
__ADS_1
"Ap-Apa yang akan kau lakukan?"Ucap Aruna menelan Silva nya.
"Melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh suami istri."Ucap Davin kemudian melempar kemeja tersebut kesembarang tempat.
"Tidak aku tidak mau."Ucap Aruna menutupi tubuh nya dengan selimut Davin.
"Jika setelah menikah Tony bisa menyentuh mu,lalu mengapa aku tidak? Bahkan kalian hampir punya anak."Ucap Davin naik ke atas kasur.
"Davin aku mohon jangan lakukan itu aku takut hiksss."Ucap Aruna menangis.
"Kenapa harus takut? Aku ini suamimu,aku akan melakukan nya dengan pelan."Ucap Davin dengan nafas yang memburu.
Tampa basa-basi Davin membuka paksa gaun yang dikenakan Aruna tidak peduli seberapa kuat Aruna memberontak nya.
"Davin jangan, kumohon jangan."Ucap Aruna terlihat sangat takut.
"Aku menginginkan mu, mengapa aku tidak melakukan nya itu hal bodoh yang pernah kau katakan untuk tidak menyentuh istri ku."Ucap Davin kemudian mencium bibir Aruna.
Aruna mencoba menolak ciuman itu tetapi tangan nya kini di pegang oleh Davin.
Air matanya kini terus menetes,rasa takut dan trauma masa lalunya seakan kembali terulang, bagaimana Tony melakukan itu dan membunuh calon anak mereka.
"Apa aku terlalu memaksakan diri?"Batin Davin.
Karena kasian melihat Aruna Davin pun melepaskan tautan itu dan menatap wajah Aruna.
"Aku,aku takut."Ucap Aruna menatap Davin yang berada di atas tubuh nya.
"Kenapa harus takut?Bukan kah kau sudah pernah melakukan nya?"Ucap Davin.
"Tetapi rasa trauma itu tetap ada."Ucap Aruna lagi.
Aruna tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Davin, sejujurnya sejak awal bertemu Davin ia sudah sangat kagum dengan laki-laki tampan itu.
"Aku akan membuat mu tidak trauma lagi."Ucap Davin.
"Beri aku waktu."Ucap Aruna.
"Sampai kapan? Aku ingin memiliki anak."Ucap Davin memegang pipi Aruna.
"Aku tau,tapi aku tidak akan rela mati dengan meningal kan anaku untuk kau dan Felicia."Ucap Aruna kembali meneteskan air matanya.
"Kau tidak akan meningal kan aku,aku mencintaimu."Ucap Davin kemudian memeluk erat tubuh Aruna.
__ADS_1
Deg ... jantung Aruna seakan berhenti berdetak, darah nya seakan berhenti mengalir, ucapan yang tidak pernah ia dengar dari Tony kini ia dengar dari Davin.
Dia tidak tau apakah Davin hanya membohongi nya atau tidak yang jelas ia tidak percaya karena setahunya Davin hanya mencintai Felicia.
Namun tepat di saat itu pintu kamar terbuka.
"Kalian! Apa yang kalian lakukan?"Ucap Felicia masuk ke dalam kamar.
Davin melepaskan pelukan nya dari Aruna kemudian menoleh ke pada Felicia .
"Apa kau merasa sangat sopan masuk ke kamar ku?"Ucap Davin marah.
"Mengapa tidak sedang kan wanita ****** ini saja berani masuk ke kamar ku dan merayu mu seperti itu!"Ucap Felicia menujuk Aruna.
"Cukup! Jaga ucapan mu, dia istri ku sudah sewajarnya dia ada di dalam kamar ku!"Bentak Davin kepada Felicia sambil turun dari ranjang nya.
Ingat ya guys, Davin cuma buka kemeja tidak celana.wkwkww lanjut.
"Davin,apa yang kau katakan? Apa wanita itu telah berhasil menghasut mu? Sehingga kau berubah terhadap aku?"Ucap Felicia sambil menangis.
"Semua ini terjadi karena ulah mu,kau membohongi aku kau menjebak Aruna untuk menutupi fakta tentang mu!"Ucap Davin.
"Itu aku lakukan karena aku mencintaimu Davin!"Ucap Felicia lagi.
"Kau mencintaiku dengan cara yang salah, sebaiknya kau pergi dari Mansion ini pulang lah kerumah mu cari laki-laki lain yang lebih baik jangan aku,aku sudah memiliki istri."Ucap Davin.
"Tidak! katakan kepada ku kau cuma bercanda dia bukan istri ku dia adalah tumbal kita Davin sadar lah dia itu menggoda mu dia jahat!"Ucap Felicia menangis.
"Maaf,tapi aku sudah tidak bisa memaafkan mu."Ucap Davin lagi.
"Ah perut ku, perut ku, sakit."Ucap Felicia tiba-tiba memegang perutnya.
"Kau tidak perlu bersandiwara, seperti yang kau lakukan beberapa hari lalu,aku tidak akan mempercayai mu lagi."Ucap Davin malas melihat tingkah laku Felicia.
"Dia terlihat tidak berpura-pura Davin, cepat bawa dia kerumah sakit."Ucap Aruna kepada Davin.
"Biar kan saja."Ucap Davin kemudian mengambil baju nya dan berjalan keluar dari kamar tersebut.
Aruna yang kebingungan juga begeges mengambil pakaian nya dan keluar dari kamar tersebut menunju kamar nya.
Sementara itu Felicia terpana akan tingkah laku Davin dan Aruna yang kini sama sekali tidak mempedulikan nya.
"Siaaal! Mereka bahkan tidak mempedulikan aku!"Ucap Felicia berhenti berpura-pura kemudian berjalan keluar dari kamar Davin.
__ADS_1
Felicia berjalan menuju kamar nya dengan perasaan kesal.
Bersambung ....